Penemuan Kasus TB di Lampung Baru 39 Persen, Diskes Dorong Deteksi Dini
Reny Fitriani September 04, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dinas Kesehatan (Diskes) Lampung mencatat penemuan kasus tuberkulosis (TB) di wilayah Lampung hingga saat ini baru mencapai sekitar 39 persen dari proyeksi 30.000 kasus dalam setahun.

Baca Juga: Penemuan Kasus TB di Lampung Baru 39 Persen, Wagub Dorong Kepala Daerah Evaluasi Tiap Pekan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Djohan Lius mengatakan, angka tersebut merupakan hasil rekapitulasi penemuan kasus TB yang terus dihimpun dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Lampung.

"Proyeksi kita sekitar 30.000 kasus dalam satu tahun. Saat ini penemuan kasus baru sekitar 39 persen dari proyeksi tersebut," kata Djohan, saat diwawancari seusai acara acara launching website peduli TB Lampung dan pengukuhan Koalisi Organisasi Profesi Indonesi Tubercolosis (Kopi)di Emersia Hotel, Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, percepatan penemuan kasus menjadi salah satu kunci dalam upaya penanggulangan TB di Lampung.

Semakin banyak penderita yang ditemukan sejak dini, kata Djohan, maka semakin cepat pula pengobatan dan penanganan dapat diberikan.

Ia menekankan pentingnya penemuan kasus terutama pada kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular TB, seperti keluarga maupun orang yang melakukan kontak erat dengan penderita.

"Semakin cepat dan semakin banyak kasus ditemukan, penanganannya akan semakin baik. Terutama mereka yang menjadi kontak erat dengan penderita," ujarnya.

Untuk mempercepat penemuan kasus, Pemprov Lampung terus mengoptimalkan jejaring pelayanan kesehatan mulai dari puskesmas hingga puskesmas pembantu (pustu).

Selain memperkuat layanan kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung juga menggandeng Perhimpunan Dokter Spesialis Paru dalam upaya memperluas deteksi dini TB.

Langkah tersebut turut didukung Wakil Gubernur Lampung melalui peluncuran situs Peduli TB Lampung.

Djohan menjelaskan, situs tersebut dibuat untuk memudahkan masyarakat melakukan deteksi dini secara mandiri.

Warga dapat mengisi survei mandiri melalui sejumlah pertanyaan yang dibuat dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.

Hasil jawaban kemudian dirangkum untuk menentukan kategori risiko seseorang terhadap TB.

"Kalau hasil surveinya menunjukkan risiko tinggi atau masuk zona merah, nanti fasilitas kesehatan terdekat yang akan aktif mendatangi warga tersebut untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," jelas Djohan.

Menurut Djohan, pola tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah menemukan penderita TB yang belum terdeteksi sehingga dapat segera mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.

Ia berharap masyarakat tidak menunggu sampai gejala semakin berat untuk memeriksakan diri.

Upaya deteksi dini, kata dia, juga menjadi bagian penting untuk memutus mata rantai penularan TB di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Dengan memperluas penemuan kasus hingga tingkat pelayanan kesehatan terdekat serta memanfaatkan deteksi berbasis digital, Pemprov Lampung menargetkan semakin banyak kasus TB dapat ditemukan dan ditangani lebih cepat.

(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.