Kasus Kebakaran Tinggi di Musim Kemarau, Warga Pangkalpinang Diminta Setop Bakar Lahan dan Sampah
Hendra September 04, 2026 06:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Musim kemarau yang melanda Provinsi Bangka Belitung, khususnya Kota Pangkalpinang, membuat potensi kebakaran lahan dan hutan semakin meningkat.

Hingga saat ini, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pangkalpinang mencatat telah menangani 185 kejadian kebakaran sejak intensitas kebakaran meningkat pada musim kemarau.

Dari ratusan penanganan tersebut, sekitar lima kejadian menyentuh atau mengancam rumah warga.

Salah satu kejadian terbaru terjadi di kawasan Jalan Bejo, Kelurahan Selindung, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Rabu (2/9/2026).

Kobaran api di lahan tersebut bahkan hanya berjarak sekitar 10 meter dari rumah warga. Kondisi angin yang cukup kencang membuat api dengan cepat merambat dan mengarah ke permukiman.

Pelaksana Tugas Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pangkalpinang, Romi Al Fauza, mengatakan intensitas kebakaran meningkat sejak Juli 2026. Dalam sehari, laporan yang masuk bahkan dapat mencapai tujuh kejadian atau lebih.

"Intensitas kebakaran ini mungkin diakibatkan oleh cuaca kekeringan yang luar biasa. Setiap harinya bisa mencapai tujuh sampai lebih laporan masuk ke kita," ujar Romi dalam program Dialog Ruang Tengah Bangkapos, Jumat (4/9/2026).

Untuk kebakaran di Gang Bejo, laporan diterima melalui call center Damkar sekitar pukul 12.15 WIB. Petugas tiba di lokasi sekitar 15 menit kemudian.

Proses pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 19.00 WIB. Namun, api kembali muncul sehingga petugas harus melakukan pemadaman hingga malam hari.

Romi menjelaskan, hingga kini pihaknya masih melakukan penelusuran terkait sumber awal api di lokasi tersebut.

Menurutnya, kobaran api berkembang sangat cepat akibat hembusan angin yang kencang. Dalam waktu sekitar 15 menit, api sudah membesar dan mendekati rumah warga.

"Untuk mengetahui asal-muasal api itu sampai sekarang masih melakukan penelusuran, belum diketahui jelas dari mana api itu berasal," katanya.

Dalam penanganan kebakaran tersebut, sekitar 55 personel gabungan dikerahkan. Mereka terdiri dari petugas Damkar, kepolisian, TNI, BPBD, Satpol PP Provinsi, Damkar Provinsi, BUMN serta unsur terkait lainnya.

Koordinasi lintas instansi dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penanganan kebakaran, terutama ketika kondisi di lapangan membutuhkan tambahan personel maupun suplai air.

Tantangan Petugas

Romi menyebut terdapat sejumlah kendala yang dihadapi petugas ketika melakukan pemadaman kebakaran lahan.

Selain akses jalan, kondisi angin yang kencang dan asap juga menyulitkan proses pemadaman. Kendala semakin besar ketika api berada di kawasan lahan gambut.

"Kalau di lapangan tantangan terbesarnya pertama akses jalan. Kemudian cuaca, anginnya begitu kencang. Dari asap itu sendiri agak mempersulit kita untuk melaksanakan pemadaman," jelasnya.

Lahan gambut juga memiliki karakteristik berbeda karena api dapat membakar lapisan bahan organik di bawah permukaan tanah. Karena itu, petugas tidak cukup hanya memastikan kobaran api di permukaan telah padam.

Petugas melakukan ground checking untuk memastikan tidak ada bara yang masih menyala di bawah permukaan. Pemeriksaan dilakukan secara manual menggunakan peralatan seperti cangkul.

Setelah pemadaman, petugas juga terus melakukan patroli menggunakan kendaraan bermotor untuk memastikan titik api tidak kembali muncul.

Hanya Empat Armada Siap Operasi

Di tengah tingginya laporan kebakaran, Damkar Kota Pangkalpinang juga menghadapi keterbatasan armada.

Romi mengungkapkan, dari total lima armada yang dimiliki, hanya empat armada yang saat ini layak beroperasi. Satu armada mengalami kerusakan dan berada di Posko Selindung.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika laporan kebakaran masuk secara bersamaan.

Meski demikian, Damkar Pangkalpinang menerapkan sistem saling mendukung antarpasukan dan posko. Ketika satu pos menghadapi kejadian, armada dari pos lainnya dapat dikerahkan untuk membantu.

"Yang empat ini saling support. Ketika pos terdekat mengalami kejadian kebakaran, mereka langsung berkoordinasi dengan pos yang lain untuk menutupi yang terjadi kebakaran," ungkapnya.

Kesiapsiagaan juga dilakukan melalui sejumlah posko yang berada di titik-titik strategis, di antaranya Posko Pinang Muara di kawasan Dealova, Posko Pinang 1 di Selindung, Posko Temberan di kantor lurah, serta posko induk di kompleks perkantoran Kantor Wali Kota.

Setiap regu piket terdiri dari sekitar 11 personel. Petugas disiagakan untuk merespons laporan masyarakat selama 24 jam.

Warga Diminta Tidak Bakar Lahan dan Sampah

Romi menegaskan, masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah meluasnya kebakaran.

Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka area baru, terlebih ketika kondisi cuaca sedang panas dan kering.

Warga juga diminta tidak membakar sampah sembarangan, terutama di dekat kawasan yang mudah terbakar.

Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan yang berpotensi menjadi sumber api.

"Kami berharap kepada masyarakat, stop bakar lahan. Kemudian jangan kita membakar sampah di dekat tempat-tempat yang bisa menyebabkan kebakaran," tegas Romi.

Ia juga mengajak masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip "hati-hati dengan api" dan segera melaporkan apabila melihat titik api yang berpotensi meluas.

Untuk laporan kebakaran, masyarakat dapat menghubungi call center Damkar Kota Pangkalpinang di 0811-711-182.

"Begitu terjadi kebakaran, segera menghubungi call center kami," pungkasnya.

Dalam kasus kebakaran Jalan Bejo, peran masyarakat turut membantu mencegah api menjalar ke rumah warga. Warga berupaya melakukan pemadaman menggunakan peralatan seadanya sembari menunggu petugas tiba.

Berkat penanganan cepat petugas bersama masyarakat dan instansi terkait, kebakaran tersebut tidak sampai menyebabkan rumah warga terdampak.

(Bangkapos.com/Fitri Wahyuni)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.