SURYA.co.id - Ada satu panggung yang ternyata belum benar-benar ditinggalkan Riza Novera Yunis, meski sudah lebih dari dua dekade berlalu. Panggung itu adalah DBL.
Perempuan yang akrab disapa Uni Riza tersebut pernah menjadi bagian dari perjalanan awal kompetisi basket pelajar itu bersama SMA Trisila Surabaya.
Kini, ketika DBL telah berkembang jauh lebih besar, Uni Riza masih menyimpan keinginan untuk kembali merasakan atmosfer pertandingan. Bedanya, kali ini ia mungkin akan berada di sisi lapangan sebagai orang tua.
Harapan itu muncul seiring putra keduanya, Arsyatama, mulai mengenal dan menyukai bola basket.
Anak berusia delapan tahun tersebut bahkan meminta sendiri kepada sang ibu agar bisa mengikuti latihan basket.
“Sudah gabung klub atas permintaan sendiri, ‘Ma, aku ikutin basket’. Karena memang awalnya Uni belikan bola basket dulu baru tumbuh minatnya,” tutur Uni Riza.
Bagi Uni Riza, perkembangan tersebut terasa spesial karena basket bukan olahraga yang asing dalam keluarganya.
Jauh sebelum menjadi seorang ibu, ia telah menghabiskan masa remajanya dengan aktivitas basket.
Kecintaannya terhadap olahraga tersebut bahkan sudah tumbuh sejak SMP. Saat itu, Uni Riza bergabung dengan klub Sahabat Surabaya dan memperkuat tim basket sekolah.
Kegemarannya bukan hanya bermain. Ia juga rela bepergian sendiri menggunakan angkutan kota untuk menyaksikan pertandingan basket profesional.
“Gila basket saya dulu. Zaman SMP bela-belain naik angkot (angkutan kota) sendiri nonton IBL (Indonesian Basketball League) sampai kenal semua pemain Aspac Jakarta. Hahaha. Anak kecil sendirian nonton basket,” kenang Uni Riza.
Kebiasaan tersebut berlanjut ketika dirinya bersekolah di SMA Trisila Surabaya.
“Dari pelatih kita dan tentunya dari DetEksi Jawa Pos juga. Dulu semua info tentang DBL pasti ada di sana,” sebut Uni Riza.
Pada musim pertama DBL 2004, Uni Riza belum turun sebagai pemain. Trisila ketika itu hanya mengirimkan tim putra sehingga ia ikut terlibat sebagai pendamping.
Setahun berselang, barulah tim putri Trisila mendapat kesempatan tampil.
Hasil pertandingan memang belum membawa Trisila melangkah jauh. Namun, bagi Uni Riza, hasil akhir bukan bagian paling penting dari pengalaman tersebut.
“Sekolah Trisila kalah di babak awal. Dulu sih pokoknya nekat ikut aja karena sekolah lain kan bagus-bagus semua basketnya,” tutur Uni Riza.
Yang justru membekas adalah bagaimana sebuah kompetisi basket sekolah mampu membuat para pelajar merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar.
Foto dan cerita mengenai pertandingan Trisila di koran DetEksi menjadi sesuatu yang membuat Uni Riza bangga.
Sayangnya, kliping tersebut kini sudah tidak tersisa.
“Jadi bangga, tapi sayang dulu nggak dilaminating, hahaha, dimakan rayap jadinya,” sebutnya.
Tidak hanya pertandingan, berbagai proses yang mengiringi kompetisi juga masih ia ingat.
Salah satunya ketika peserta mengambil nomor undian untuk mengetahui lawan yang akan dihadapi.
“Waktu ambil nomor peserta lomba. Dulu itu ngambil nomor di bowl, lalu kita tahu tuh bakal ketemu tim sekolah mana saja dalam grup untuk empat kali pertandingan,” jelasnya.
Uni Riza juga melihat bagaimana DBL berkembang dari masa ke masa.
Menurutnya, penyelenggaraan kompetisi semakin serius seiring meningkatnya jumlah peserta dan peminat.
“Kita harus punya pelatih, manager, tim kesehatan, dan harus pakai ID Card. Jadi benar-benar lebih prepare karena dari tahun ke tahun DBL makin banyak peminatnya,” terang Uni Riza.
Setelah lulus dari SMA Trisila, Uni Riza melanjutkan pendidikan ke STIKOSA-AWS.
Ketiadaan tim basket di kampus membuat aktivitasnya sebagai pemain perlahan berhenti. Meski demikian, olahraga yang sudah menjadi bagian dari masa mudanya itu tidak benar-benar hilang.
Kini, ia justru melihat generasi baru menikmati DBL dengan cara yang berbeda.
Menurut Uni Riza, dukungan orang tua dan kreativitas para peserta membuat atmosfer kompetisi saat ini semakin menarik.
“Kalau sekarang anak-anaknya lebih kreatif, apalagi tim dance. Anak basketnya juga keren-keren karena orangtua zaman sekarang lebih aware dan mendukung,” kata Uni Riza.
Karena itulah, ketika ditanya apakah dirinya ingin kembali merasakan panggung DBL, Uni Riza langsung memberikan jawaban.
“Jelas!” tegasnya.
Peluang tersebut kini terasa lebih dekat karena Arsyatama sudah mulai menekuni basket.
Uni Riza pun menyimpan satu harapan sederhana. Ia ingin melihat anaknya berkembang hingga suatu saat bisa mengenakan seragam tim basket sekolah dan bertanding di DBL.
“Semoga ‘saset’ (anak kedua) Uni next time bisa jadi pemain basket di tim sekolah dan ikut DBL juga,” tutupnya.