Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Warga Desa Singarajan, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Banten, dikejutkan suara ledakan beruntun sebanyak tiga kali pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 04.55 WIB.
Tak lama setelah suara ledakan terdengar, aliran listrik padam di Desa Singarajan, khususnya wilayah RT 1, RT 2, dan RT 3.
Warga kemudian menemukan sebuah tiang listrik roboh dan menimpa rumah salah seorang warga bernama Dedi.
Warga Desa Singarajan, Kholid Miqdar, mengatakan padamnya listrik tersebut diduga terjadi setelah sejumlah mobil kontainer bermuatan peti kemas melintas dan menyabet kabel listrik di jalan raya.
Menurut Kholid, terdapat sekitar empat mobil kontainer yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut.
Kendaraan itu disebut merupakan kendaraan proyek Sawah Luhur, Kota Serang.
"Jadi ceritanya begini, pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 04.55 WIB, saya melihat kejadian tiba-tiba ada suara ledakan beruntun tiga kali ledakan dan akhirnya kemudian listrik padam seluruh Desa Singarajan, RT 1, 2, dan 3 Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang," kata Kholid, Sabtu, (5/9/2026).
Kholid menuturkan, setelah mencari tahu penyebab padamnya listrik, warga mendapati adanya tiang listrik yang roboh hingga menimpa rumah warga.
Ia kemudian mengetahui bahwa kejadian tersebut diduga dipicu oleh mobil kontainer yang menyabet kabel listrik saat melintas.
Menurut Kholid, kendaraan proyek tersebut melintasi jalur exit Tol Ciujung, Kragilan, kemudian menuju Ciruas-Pontang.
Ia mempertanyakan penggunaan jalur tersebut oleh kendaraan kontainer proyek Sawah Luhur.
"Kenapa misalnya tidak dari exit Tol Serang Timur kemudian langsung ke jalur Kasemen, Kota Serang? Ini malah justru mengambil jalur exit Tol Ciujung, Kragilan, terus mengambil jalur Ciruas-Pontang, Kabupaten Serang. Akhirnya kejadian seperti ini, menyabet kabel, kemudian yang dirugikan adalah masyarakat," ujarnya.
Dampak pemadaman listrik, kata Kholid, berpotensi mengganggu aktivitas warga.
Terlebih, berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak PLN, pemulihan aliran listrik diperkirakan dapat memakan waktu hingga sekitar satu minggu.
Ia menilai kondisi tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap kehidupan sehari-hari warga.
"Bagaimana nanti masyarakat yang mandi menggunakan mesin pompa air yang pakai listrik, bagaimana nanti masyarakat yang punya peternakan yang bergantung dengan listrik, terus kemudian UMKM yang bikin bumbu menggunakan mesin blender pakai listrik? Ini otomatis tidak bisa dagang," katanya.
Kholid menyebut sedikitnya sekitar 600 rumah warga yang terdampak pemadaman listrik akibat kejadian tersebut.
Menurut dia, persoalan yang dialami warga bukan hanya mengenai kerugian materi, tetapi juga terganggunya kebutuhan sehari-hari.
"Persoalan ganti rugi mungkin bisa ditangani, hitung-hitungan ekonominya. Tapi bagaimana dengan kerugian tentang kebutuhan kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti memasak nasi juga harus pakai listrik. Bagaimana kalau tidak ada listrik? Masa iya masyarakat harus mencari kayu untuk memasak seperti zaman dulu," ujarnya.
Pasca kejadian, empat mobil kontainer yang disebut terkait proyek Sawah Luhur tersebut ditahan di depan Kantor Kecamatan Pontang.
Kholid mengatakan warga juga menahan kontak kendaraan hingga terdapat kesepakatan antara pihak perusahaan dan masyarakat terkait kerugian yang ditimbulkan.
"Kalau belum ada kesepakatan mungkin harus dinegosiasikan. Ini bicara ganti ruginya. Artinya, pihak perusahaan harus bertanggung jawab kepada tiga RT masyarakat Desa Singarajan," katanya.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, insiden tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah maupun pihak perusahaan dalam menentukan jalur kendaraan proyek.
"Mobil kontainer besar jangan lagi lewat jalur Ciruas-Pontang," tegasnya.
Selain persoalan insiden kabel listrik, Kholid juga menyoroti dampak proyek Sawah Luhur terhadap masyarakat di wilayah sekitar.
Ia meminta pemerintah tidak hanya melihat pembangunan dari sisi investasi, tetapi juga mempertimbangkan tata ruang serta daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Kholid meminta Gubernur Banten, Bupati Serang, dan Wali Kota Serang memperhatikan persoalan tersebut.
"Kalau mau berbicara investasi itu harus bicara dulu tata ruangnya. Jangan juga tata ruang diubah sembarangan, tidak memikirkan daya dukung, daya tampung, juga tidak memikirkan misalnya wilayah tata ruangnya hijau atau merah. Masa tata ruang yang sifatnya pertanian dan nelayan harus diubah menjadi tata ruang industri? Kerugiannya ke mana-mana," ujarnya.
Ia juga menegaskan masyarakat Kabupaten Serang memiliki hak untuk menyampaikan keberatan apabila aktivitas proyek di Kota Serang berdampak terhadap kehidupan mereka.
"Bagaimana dengan kejadian hari ini, mobil proyek Sawah Luhur menyabet kabel listrik yang kemudian masyarakat Desa Singarajan dirugikan. Ya, punya hak bicara," katanya.
Kholid berharap pemerintah dan perusahaan menjadikan kejadian tersebut sebagai evaluasi agar aktivitas kendaraan proyek tidak kembali merugikan masyarakat.
"Orang bebal adalah orang yang ketika dia tidak mau belajar dari kejadian yang sudah terjadi. Artinya, kejadian hari ini pelajaran besar buat pemerintah dan juga masyarakat, jangan sampai ini terjadi lagi," pungkasnya.