Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhamad Rifky Juliana
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh pada Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Gunung Anak Krakatau memiliki catatan sejarah erupsi besar pada 1883 yang memicu tsunami.
Peristiwa serupa juga terjadi pada 22 Desember 2018 ketika aktivitas erupsi dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Pasca erupsi 22 Desember 2018, serangkaian erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai bagian dari fase konstruksi atau pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023.
Setelah mengalami jeda erupsi yang cukup panjang, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada 2 Juli 2026.
Sejak saat itu, status aktivitas Gunung Anak Krakatau ditetapkan pada Level III atau Siaga.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda.
Secara administratif, gunung api tersebut masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Meski berada di wilayah Lampung Selatan, aktivitas Gunung Anak Krakatau dipantau melalui dua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA), yakni Pos PGA Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, serta Pos PGA Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, Luthfi Mujahidin, mengatakan getaran dan suara gemuruh akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berpotensi dirasakan masyarakat dalam beberapa jam ke depan.
Tergantung pada kondisi serta karakter lava yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau.
Ia menjelaskan apabila lava yang keluar dalam kondisi cair dan encer, getaran serta suara gemuruh diperkirakan masih dapat terjadi sekitar tiga hingga empat jam.
"Getaran dan gemuruh itu akan terjadi ketika lavanya itu cair, lavanya itu encer yang keluar kayak kembang api, mungkin 3 sampai 4 jam ke depan masih terjadi," katanya saat dihubungi, Sabtu (5/9/2026).
"Tapi kalau lavanya tuh lelehan agak gel gitu, itu akan terjadi sampai 12 sampai 14 jam yang ke depan itu mungkin akan terjadi," sambung Lutfhi.
Luthfi menambahkan getaran yang dirasakan masyarakat aktivitas erupsi terdapat dua faktor yang memicu munculnya getaran tersebut.
Pertama, adanya ekspansi atau pelepasan gas dari dalam gunung melalui kawah. Kedua, gesekan serta turbulensi aliran lava yang bergerak dengan kecepatan tinggi.
Ia meminta masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan selama aktivitas Gunung Anak Krakatau berlangsung.
Masyarakat diminta mengikuti rekomendasi Badan Geologi dan tidak mendekati kawasan gunung dalam radius tiga kilometer.
"Masyarakat tetap waspada, tentunya jangan dekat-dekat, yang ditentukan dari Badan Geologi 3 km dari titik gunung nya," ucap Luthfi.
Sementara itu, Lutfhi menyebut kondisi masyarakat yang berada jauh dari kawasan gunung masih relatif aman.
Kawasan pesisir pantai barat Banten berjarak sekitar 40 hingga 45 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
"Kalau jarak yang di pesisir pantai barat Banten itu kan masih 40 sampai 45 kilo, jadi masih aman aja. Dan kemungkinan khawatir ada tsunami, kecil sekali. Lava terjauh itu melelehnya hanya 720 meter hampir 1 kilo dari puncak ke bawah nya," pungkasnya.