TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Indonesia Open Network (ION) resmi berdiri sebagai perusahaan yang mengembangkan digital public infrastructure atau infrastruktur publik digital untuk memperluas akses pasar dan memperkuat daya saing Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia.
Pendirian PT ION ditandai dengan penandatanganan akta pendirian oleh CEO PT Chairos International Ventures Sachin Gopalan, Ketua Yayasan ION Teknologi Indonesia Ronald Walla dan Sekretaris Yayasan ION Teknologi Indonesia Rudolf Saut Butarbutar di Kantor Apindo, Permata Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2026).
Setelah resmi berbadan hukum, PT ION menargetkan investasi tahap awal sekitar 100 juta dolar AS. Dana tersebut ditargetkan berasal dari sedikitnya 20 perusahaan dengan kontribusi sekitar 5 juta dolar AS per investor.
Baca juga: Incar Investasi EBT USD 73 Miliar, ESDM dan GGGI Matangkan Proyek Energi di Daerah
Presiden Direktur PT Indonesia Open Network Bayu Prawira Hie mengatakan, pendirian badan hukum menjadi langkah penting agar ION dapat menjalankan kegiatan bisnis, investasi, kerja sama dan pengembangan teknologi secara akuntabel.
"Hari ini adalah penandatanganan pendirian PT Indonesia Open Network. Dengan berdirinya PT ION, kami memiliki entitas hukum yang dapat menjalankan berbagai kegiatan bisnis sekaligus memberikan pertanggungjawaban kepada para pemegang saham yang berinvestasi untuk membangun Indonesia," ucap Bayu dalam keterangan, dikutip Sabtu (5/9/2026).
PT ION memiliki modal dasar Rp 10 miliar dengan modal ditempatkan dan disetor Rp 2,5 miliar. Perusahaan menerbitkan 2.500.001 saham, terdiri atas 2,5 juta saham seri A dan satu golden share milik Yayasan ION Teknologi Indonesia.
Bayu menjelaskan bahwa struktur kepemilikan ION dirancang agar tidak ada satu investor yang mendominasi perusahaan.
"Kami mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama membangun ION demi kepentingan UMKM dan kemajuan ekonomi Indonesia. Ini bukan perusahaan rintisan yang semata-mata dibangun untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, melainkan digital public infrastructure yang dikembangkan untuk kepentingan bersama," ucap Bayu.
CEO PT Chairos International Ventures Sachin Gopalan menyatakan, ION akan menjadi jaringan perdagangan digital terbuka yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekaligus membantu perusahaan Indonesia meningkatkan kemampuan digital.
"ION akan menjadi infrastruktur publik yang dapat digunakan masyarakat untuk melakukan perdagangan digital sekaligus menyediakan berbagai perangkat agar perusahaan-perusahaan Indonesia mampu meningkatkan kapabilitas digitalnya," ujar Sachin.
Kepemilikan ION nantinya akan melibatkan berbagai sektor, mulai dari pemerintah atau BUMN, perbankan, manufaktur hingga perusahaan teknologi. Konsep tersebut diharapkan menjaga ION tetap terbuka dan independen.
Sachin menambahkan, Yayasan ION Teknologi Indonesia berperan sebagai mission guardian untuk memastikan perusahaan tetap menjalankan mandatnya sebagai infrastruktur publik digital.
"Dalam perusahaan dengan banyak pemegang saham, setiap pihak dapat membawa kepentingannya masing-masing. Karena itu, harus ada pihak netral yang memastikan PT ION tetap berada dalam mandat yang telah ditetapkan. Itulah peran Yayasan ION Teknologi Indonesia," terang Sachin.
Pada tahap awal, ION akan berfokus membantu UMKM memperluas akses pasar dan meningkatkan kemampuan perdagangan digital.
Ketua Yayasan ION Teknologi Indonesia Ronald Walla menyebut, penguatan akses pasar menjadi salah satu alasan utama pengembangan ION karena persoalan tersebut masih menjadi tantangan bagi UMKM.
"Jika UMKM bertumbuh, industri dan jasa yang mendukung UMKM juga akan berkembang. Dampaknya bisa meluas dari sektor pertanian, industrialisasi, hingga sektor jasa. Karena itu, kami akan terus mendorong ION agar memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia," ucap Ronald.