BMKG dan BRIN Jelaskan soal Dentuman Misterius di Bandung Termasuk Sumedang
Dedy Herdiana September 05, 2026 04:35 PM

 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Nazmi Abdurahman

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Sabtu 5 September 2026, dini hari tidak berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, di perairan Selat Sunda.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi mengatakan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlangsung bersamaan dengan munculnya suara dentuman di Bandung Raya, tidak menunjukkan adanya hubungan dengan fenomena tersebut.

Menurutnya, jarak antara Bandung dengan Gunung Anak Krakatau juga terlalu jauh, untuk membuat suara letusan terdengar hingga Kota Bandung.

“Tapi kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin. Beda dengan Krakatau pada 1883, tentunya,” ujar Suaidi, saat jumpa pers virtual, Sabtu (5/9/2026).

Suaidi mengatakan, suara dentuman dapat disebabkan oleh sejumlah fenomena geofisika. Di antaranya swarm earthquake atau rangkaian gempa kecil, gempa akibat aktivitas di kawasan karst, hingga gempa yang dipicu runtuhan.

“Gempa-gempa akibat runtuhan, gempa-gempa akibat swarm, dan gempa-gempa kecil itu bisa menghasilkan dentuman,” katanya.

Namun, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, tidak ditemukan rekaman gempa di wilayah Bandung Raya ketika masyarakat melaporkan mendengar suara dentuman tersebut.

BMKG juga tidak mencatat aktivitas gempa pada sejumlah sesar aktif di sekitar wilayah tersebut.

“Tapi fenomena hari ini, kami mencatat tidak ada rekaman gempa, baik di sesar aktif, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun beberapa sesar lainnya pada saat itu di wilayah Bandung Raya,” ucapnya. 

Suaidi mengatakan, fenomena dentuman yang terdengar di Bandung Raya masih belum dapat dipastikan penyebabnya.

Fenomena tersebut, kata dia, membutuhkan penelitian lebih lanjut dari para peneliti yang memiliki keahlian di bidang sains kebumian, geofisika, dan meteorologi.

“Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjelaskan bahwa aktivitas skyquake tadi mungkin berkaitan dengan adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba,” ucapnya.

BMKG pun berkesimpulan, tidak ada kaitan suara dentuman yang terdengar masyarakat Bandung Raya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau, maupun aktivitas gempa yang terpantau di wilayah tersebut.

Baca juga: Warga Sumedang Geger Dengar Dentuman Misterius dan Getaran pada Malam Hari

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan dentuman misterius yang terdengar dan dirasakan warga di kawasan Bandung Raya, bukan berasal dari fenomena antariksa.

BRIN juga menepis kemungkinan suara dentuman dan getaran tersebut dipicu meteor maupun fenomena space quake atau goncangan ekstrem pada medan magnet Bumi.

Peneliti Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin mengatakan, tidak ada aktivitas dari luar angkasa yang dapat menjelaskan fenomena dentuman maupun getaran yang dilaporkan warga.

"Yang jelas bukan bersumber dari antariksa," ujar Prof Thomas saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9/2026).

Thomas juga memastikan fenomena space quake tidak dapat menjadi penyebab suara misterius yang terdengar hingga permukaan Bumi.

"Tidak ada fenomena space quake (goncangan ekstrem di medan magnet bumi) yang terasa atau terdengar di permukaan bumi," katanya. 

Thomas mengatakan, hingga kini dirinya belum dapat memastikan sumber dentuman dan getaran yang dirasakan warga di sejumlah wilayah tersebut.

Namun, diduga sumber fenomena itu berasal dari wilayah lokal Bandung, bukan dari antariksa.

"Dugaan saya, sumber dentuman/getaran lokal Bandung, bukan fenomena dari antariksa," ucapnya.

Selain kemungkinan space quake, Thomas juga menepis dugaan dentuman tersebut disebabkan benda langit yang jatuh atau meteor berukuran besar.

Menurutnya, tidak terdapat laporan dari masyarakat yang melihat meteor besar melintas, baik sebelum maupun saat dentuman terdengar.

Meteor berukuran besar yang melintas dan masuk ke atmosfer, kata Thomas, berpotensi menimbulkan gelombang kejut yang dapat terdengar atau dirasakan dari permukaan.

"Dan tidak ada saksi yang melihat meteor besar yang melintas yang bisa menyebabkan gelombang kejut," katanya.

Sumber pasti dentuman dan getaran tersebut, kata dia, masih belum diketahui.

Warga Sumedang Dengar Dentuman dan Rasakan Getaran

Dentuman itu terjadi pada Jumat malam (4/9/2026), hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari. 

Dirga Rivaldi (42), warga Jatinangor, Kabupaten Sumedang mengaku mendengar suara dentuman tersebut sekitar pukul 23.30 WIB. 

Menurutnya, suara dentuman tersebut diikuti getaran dan suara aneh pada konstruksi bangunan. 

"Ya terdengar. Saya kira suara tetangga sedang memasang paku di tembok," katanya kepada Tribun, Sabtu pagi. 

Ia mengatakan, suara misterius tersebut berlangsung lama dan diikuti embusan angin kencang. 

"Lumayan lama, istri saya malah menyangka  ada hantu, soalnya di lantai dua terdengar suara getok-getok tembok," ucapnya. 

Suara dentuman misterius pun terdengar Sifa Andira (35), warga Pamulihan, Kabupaten Sumedang. 

Ia mengaku kaget karena suara dentuman tersebut. 

"Saya kira suara dentuman itu berasal dari ban truk yang meletus," ujarnya. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumedang, Bambang Rianto mengatakan, hingga Sabtu padi, pihaknya belum menerima laporan adanya kerusakan bangunan yang ditimbulkan dari suara dentuman yang diikuti getaran tersebut 

"Untuk sementara, tidak ada laporan kerusakan. Personel tadi malam langsung dikerahkan ke wilayah-wilayah yang merasakan getaran dan dentuman," katanya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.