Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Suara dentuman erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Lampung Selatan terdengar hingga Banten dan Jawa Barat pada Jumat-Sabtu (4-5/9/2026). Di sejumlah tempat, warga bahkan merasakan getaran yang membuat kaca rumah terguncang.
Meski demikian, getaran akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak dirasakan oleh warga Lampung Selatan yang tinggal di Pulau Sebesi. Pulau Sebesi merupakan daerah permukiman penduduk yang lokasinya paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
Saat ini Gunung Anak Krakatau masih aktif erupsi, statusnya juga masih berada di level III atau siaga.
Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi, Syamsiar, mengatakan bahwa warga masih menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa dan tidak merasakan adanya getaran akibat aktivitas erupsi GAK.
"Alhamdulillah aman pak, masyarakat masih beraktivitas seperti biasa," kata Syamsiar, Sabtu (5/9/2026) siang.
Menurutnya, suara erupsi Gunung Anak Krakatau masih terdengar oleh masyarakat di Pulau Sebesi. Namun, suara tersebut tidak disertai getaran yang dirasakan warga maupun guncangan pada rumah.
"Kalau di Sebesi cuma suara saja, pak. Tidak sampai bergetar rumah masyarakat," ujarnya.
Secara Administrasi, Pulau Sebesi merupakan daratan yang tercatat sebagai Desa Tejang Pulau Sebesi, masuk wilayah Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas wilayah desa Tejang Pulau Sebesi mencapai 24,25 kilometer persegi atau 2.425 hektare. Jarak Desa Tejang Pulau Sebesi ke Kantor Kecamatan Rajabasa sekitar 27 kilometer berupa perairan. Jarak ke Kantor Kabupaten Lampung Selatan di Kalianda mencapai 39 km. Tejang Pulau Sebesi terdiri dari 4 dusun dan 15 RT. Jumlah penduduk sekitar 2.500-3.000 orang.
Jarak dari Gunung Anak Krakatau ke Pulau Sebesi sekitar 15 hingga 20 kilometer.
Pulau Sebesi juga menjadi salah satu pulau tujuan wisata andalan di Lampung Selatan. Ada bukit tertinggi di pulau tersebut yang disebut Gunung Sebesi dengan ketinggian sekitar 844 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selain bukit, salah satu daya tarik di Pulau Sebesi adalah penyu sisik.
Pulau Sebesi adalah satu-satunya pulau di sekitar Gunung Krakatau yang berpenghuni dan saksi kedasyatan letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Pulau Sebesi kerap digunakan sebagai tempat transit bagi wisatawan yang ingin mendaki atau melihat Gunung Anak Krakatau. Perjalanan laut ke pulau ini biasanya dimulai dari Dermaga Canti yang berada di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Ingin menghabiskan waktu liburan bersama keluarga, saudara, teman dan pasangan, Pulau Sebesi bisa menjadi salah satu tujuan wisata.
Satu-satunya akses menuju Pulau Sebesi hanya bisa dilakukan melalui laut. Dermaga terdekat yang biasanya digunakan untuk menyeberang adalah Dermaga Canti.
Waktu tempuh perjalanan dari Dermaga Canti menuju Pulau Sebesi kurang lebih dua jam perjalanan.
Di Pulau Sebesi terdapat vila bernama Cottage Krakatau Pulau Sebesi yang menyediakan kamar serta barak (vila tanpa kamar) dengan fasilitas lengkap. Pengelola vila juga menyediakan paket wisata ke Gunung Anak Krakatau.
Hampir seluruh Pulau Sebesi dikelilingi terumbu karang yang dapat dijumpai hingga kedalaman 10 meter dari permukaan laut. Wisatawan dapat melakukan wisata snorkeling di pulau-pulau kecil yang berada di sekitar Pulau Sebesi.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali meningkat dengan sedikitnya 10 kali erupsi yang tercatat sejak Jumat (4/9/2026) dini hari hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno membenarkan Gunung Anak Krakatau mengeluarkan lava api.
Meski demikian, belum ada peningkatan aktivitas secara signifikan dibanding hari-hari sebelumnya.
"Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah barat dan barat laut," ujar Suwarno.
Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 27 detik.
Sementara erupsi pukul 04.28 WIB memiliki amplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi 31 detik.
Erupsi pukul 04.19 WIB tercatat dengan amplitudo maksimum 60 milimeter dan berlangsung selama 24 detik.
Sedangkan erupsi pukul 04.11 WIB terekam dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan durasi 14 detik.
Rangkaian tersebut menunjukkan Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi berulang dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
Masyarakat, nelayan dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau sesuai radius yang telah direkomendasikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Masyarakat juga diimbau terus memantau informasi resmi dari petugas untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik GAK.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi aktivitas pelayaran, nelayan maupun wisatawan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda.
Meski warga Pulau Sebesi masih beraktivitas normal dan hanya mendengar suara erupsi tanpa merasakan getaran, masyarakat tetap diminta mengutamakan keselamatan serta mematuhi seluruh rekomendasi petugas terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sejumlah pengguna X mengaku mendengar suara dengan dentuman cukup kuat. Bahkan, getarannya disebut terasa hingga membuat kaca jendela rumah bergetar. Laporan serupa muncul dari warga Bandung.
Sejumlah warganet menyebut suara dentuman dan gemuruh terdengar berulang dengan jarak waktu yang semakin rapat hingga sekitar pukul 05.00 WIB. Salah satu laporan warga Bandung menyebut dentuman yang terdengar cukup kuat hingga berdampak pada bagian rumah.
"Efeknya lumayan parah sampe bikin kaca jendela dan pintu bergetar," tulis seorang warganet. Kemunculan berbagai laporan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sumber suara dentuman yang terdengar di sejumlah daerah.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilowati mengatakan, suara dentuman juga terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Banten.
Ia menjelaskan, laporan mengenai suara serupa juga diterima dari sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat. Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan diduga berkaitan dengan kemunculan suara dentuman.
"Untuk di wilayah lain di Jawa Barat memang dilaporkan juga terdengar dan diduga berhubungan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terjadi di waktu yang sama," ujar Rita saat dihubungi Kompas.com, Sabtu.
"Di tempat lain kami hanya mendapat laporan, dan diduga berkaitan dengan aktivitas GAK (Gunung Anak Krakatau)," tambahnya.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang terletak di perairan Selat Sunda. Pengamatan Gunung api Anak Krakatau dilakukan melalui 2 pos pengamatan gunung api, yaitu Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung; dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.