TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian pedagang kaki lima di Kota Pontianak, Kalbar.
Salah satunya dirasakan Eva (48), pedagang es sari kacang yang berjualan di Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Pontianak.
Sejak kabut asap menyelimuti wilayah Pontianak, Eva mengaku jumlah pembelinya menurun. Kondisi tersebut turut membuat omzet hariannya merosot cukup signifikan.
Baca juga: Rekomendasi 10 SMP Swasta di Pontianak Utara, Lengkap dengan Alamatnya
Eva telah berjualan sejak 2021. Selain es sari kacang, ia menawarkan sejumlah minuman seperti air tahu, lemon tea dan liang teh.
Harga minuman yang dijualnya cukup terjangkau, mulai Rp5 ribu. Sementara es sari kacang ukuran jumbo dibanderol Rp8 ribu.
"Dari 2021 berjualan di sini, ada es sari kacang, air tahu, lemon tea, liang teh. Harga dari Rp5 ribu, paling mahal sari kacang yang jumbo Rp8 ribu," ungkap Eva saat diwawancarai Tribun Pontianak, Sabtu 5 September 2026.
Menurut Eva, waktu berjualan dan jumlah stok yang disiapkan biasanya menyesuaikan kondisi cuaca.
Saat pertama membuka usaha, ia bisa mulai berjualan sekitar pukul 10.00 WIB hingga malam hari. Jika cuaca panas dan minuman laris, ia akan kembali menambah stok.
"Kalau pas awal buka jam 10 sampai malam, stok jualan kalau habis nambah. Tergantung cuaca. Kalau cuaca panas nambah, kalau cuaca hujan ya tergantung," katanya.
Baca juga: Cara Daftar Rekrutmen Pegawai BLUD RSUD dr Soedarso Pontianak 2026 Lengkap Syarat dan Jadwal Seleksi
Namun, situasi berbeda terjadi ketika kabut asap mulai menyelimuti Kota Pontianak.
Masyarakat yang khawatir terhadap dampak asap cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut secara langsung berimbas terhadap dagangan Eva.
"Semenjak kabut asap omzet penjualan mengalami penurunan. Orang-orang pada takut keluar," ujarnya.
Eva juga menyinggung kondisi air payau yang belakangan dirasakan masyarakat.
Ia memastikan minuman yang dijualnya tetap menggunakan air galon, bukan air PDAM.
"Dikira berjualan kita pakai air PDAM, padahal kita gunakan air galon," jelasnya.
Ia menegaskan kebersihan dan higienitas tetap menjadi perhatian dalam menjalankan usaha. Eva memastikan bahan maupun peralatan yang digunakan untuk berjualan tetap dijaga kebersihannya agar pelanggan merasa aman.
"Kita juga menjaga higienis jualan kita agar para pelanggan juga merasa aman beli jajanan kita," tuturnya.
Penurunan penjualan semakin terasa jika dibandingkan dengan kondisi sebelum karhutla.
Saat cuaca panas dan aktivitas masyarakat masih normal, Eva mengaku bisa meraup omzet sekitar Rp900 ribu hingga Rp1 juta dalam sehari.
"Sebelum karhutla kalau bahan habis sih nambah terus, kurang lebih sampai malam. Kalau cuaca panas banget, Rp900 ribu sampai Rp1 juta bisa jadi sampai malam," katanya.
Kini, omzet tersebut turun cukup jauh. Eva menyebut pendapatannya hanya berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per hari, itu pun tidak selalu didapatkan.
"Kalau saat ini omzet mungkin Rp300 ribu, mungkin kurang lebih Rp400-500 ribu, itu pun tidak menentu dapatnya," ungkap Eva.
Dampak kabut asap juga dirasakan Eva dari sisi kesehatan.
Ia mengaku mengalami sejumlah keluhan seperti mata pedih, hidung tersumbat, bersin dan batuk. Kondisi tersebut membuat tubuhnya terasa lebih lemah saat menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Dampaknya ya sudah pendapatan menurun, mata pedih, hidung tersumbat, bersin dan batuk, jadi badan itu lemah," ucapnya.
Penurunan omzet membuat Eva harus menyesuaikan kembali jumlah bahan yang dibeli.
Jika sebelumnya bahan dagangan habis, ia dapat langsung membeli stok baru karena pendapatan masih cukup untuk memutar modal. Namun, kondisi tersebut kini berubah.
"Padahal sebelumnya alhamdulillah bisa balik modal, pendapatan lumayan, bahan habis bisa beli barang. Ini mikir-mikir, mau beli barang pun mikir-mikir, jadi ya seadanya saja belanja," katanya.
Eva berharap hujan segera turun dengan intensitas yang cukup sehingga kabut asap di Kota Pontianak dapat berkurang.
Ia juga berharap kebakaran hutan dan lahan tidak kembali terjadi karena dampaknya bukan hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi masyarakat secara luas.
"Harapan ke depan ya hujan bisa segera turun lagi. Walaupun sempat hujan, kabut asap masih pekat, dan untuk kebakaran hutan jangan lagi berulang," pungkasnya.
Eva mengingatkan agar kepentingan pribadi tidak mengorbankan masyarakat lainnya yang ikut merasakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan.
"Jangan pentingkan diri sendiri, tapi merugikan orang lain, karena akibat bakar hutan yang merugi semua masyarakat yang terdampak," tutupnya.
Profil Singkat Eva Penjual Es Pontianak
Nama: Eva
Usia: 48 tahun
Profesi: Pedagang minuman kaki lima
Lama berjualan: Sejak 2021
Lokasi berjualan: Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Pontianak
Produk: Es sari kacang, air tahu, lemon tea, dan liang teh
Harga jual: Rp5.000–Rp8.000 per porsi
Kondisi usaha: Omzet menurun akibat kabut asap karhutla dan berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah.