Gunung Semeru Kembali Erupsi, Warga Diminta Waspada Awan Panas Hingga Guguran Lava
Titis Jati Permata September 05, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id, LUMAJANG - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih tinggi.

Dalam rentang enam jam pada Sabtu (5/9/2026), gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami 19 kali letusan.

Aktivitas tersebut terpantau Pos Pantau Gunungapi (PPG) Semeru sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.

Selain letusan, petugas juga mengamati guguran material dengan jarak luncur hingga 1 kilometer ke arah tenggara.

Asap Kawah Capai 1 Kilometer

Petugas PPG Semeru mengamati asap kawah berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang.

Asap teramati mencapai ketinggian 100 hingga 300 meter dari atas puncak kawah.

Pada pengamatan visual lainnya, asap putih kelabu tebal membumbung hingga sekitar 1 kilometer dan bergerak condong ke arah timur laut.

Baca juga: BREAKING NEWS Gunung Semeru Erupsi 19 Kali dalam Enam Jam, Guguran Capai 1 Kilometer

Sigit Rian Alfian, Petugas PPG Semeru, mengatakan kondisi gunung saat pengamatan relatif jelas hingga tertutup kabut 0-I.

"Sementara untuk letusan gunung beramplitudo 10-22 milimeter dengan durasi 61-103 detik. Adapun guguran beramplitudo 3-7 milimeter, durasi 49-109 detik," ujarnya melalui keterangan tertulis dikutip SURYA.co.id.

Guguran Material Meluncur 1 Kilometer

Selain letusan, aktivitas guguran juga terpantau selama periode pengamatan.

Material guguran tercatat meluncur sejauh 500 hingga 1.000 meter dengan arah tenggara.

Kondisi tersebut menjadi salah satu potensi bahaya yang perlu diwaspadai masyarakat di sekitar kawasan Gunung Semeru.

Meski aktivitas erupsi masih terjadi, status Gunung Semeru hingga saat ini tetap berada pada Level III atau Siaga.

Radius 5 Kilometer dari Puncak Dilarang Beraktivitas

PPG Semeru meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

Masyarakat di luar jarak tersebut juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan.

Area tersebut dinilai berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.

Selain itu, seluruh aktivitas masyarakat dalam radius 5 kilometer dari puncak Gunung Api Semeru juga dilarang karena kawasan tersebut rawan terkena lontaran batu pijar.

Waspadai Awan Panas dan Lahar

Rian juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru.

Beberapa aliran sungai yang perlu mendapat perhatian antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

"Serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," imbuhnya.

Masyarakat diimbau mematuhi rekomendasi keselamatan dan tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya, terutama saat aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berlangsung.

19 Kali Letusan Pekan Lalu

Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sebelumnya sempat menunjukkan aktivitasnya, pada Senin (31/8/2026) dini hari hingga pagi.

Saat itu, gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami 19 kali letusan dalam waktu enam jam.

Data Pos Pengamatan Gunung (PPG) Semeru mencatat erupsi terjadi sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

Selain letusan, aktivitas gunung juga disertai guguran material yang meluncur hingga 1 kilometer.

Asap Erupsi Capai 900 Meter

Selama periode pengamatan, kolom asap erupsi Gunung Semeru terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan ketinggian sekitar 400-900 meter dari puncak.

Asap tersebut bergerak ke arah barat laut.

Petugas PPG Semeru Sigit Rian Alfian menyebut letusan yang terjadi memiliki amplitudo 10-22 milimeter dengan durasi masing-masing sekitar 69-125 detik.

Selain erupsi, petugas juga mencatat 10 kali guguran dengan amplitudo 1-4 milimeter dan durasi 41-95 detik.

"Letusan berkekuatan amplitudo 10-22 milimeter dengan durasi 69-125 detik. Guguran berjumlah 10, amplitudo 1-4 milimeter dengan durasi 41-95 detik," ujar Rian melalui keterangan tertulis.

Aktivitas Gunung Semeru juga ditandai guguran material yang meluncur sejauh 300 hingga 1.000 meter ke arah tenggara.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sejumlah kawasan di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru berpotensi terdampak material vulkanik.

Saat itu, status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.

Rian meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

Gunung Semeru Tertinggi di Pulau Jawa

Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya yang terkenal bernama Mahameru setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gunung ini merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani.

Secara administratif dan geografis, posisi Gunung Semeru terletak di wilayah dua kabupaten, yaitu Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.

Gunung Semeru masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Puncak Mahameru terletak pada koordinat 8°06′29″ LS dan 112°55′22″ BT.

Puncaknya disebut Mahameru, sedangkan kawah aktif di puncaknya yang sering mengeluarkan abu vulkanik dan gas beracun dikenal dengan nama Jonggring Saloko.

Gunung berapi aktif ini terbentuk akibat subduksi Lempeng Samudra Hindia ke bawah Lempeng Sunda.

Gunung Semeru sangat populer di kalangan pendaki karena keindahan jalur pendakiannya, termasuk spot terkenal seperti Ranu Kumbolo (danau pemandangan indah) dan padang rumput Oro-Oro Ombo.

Menuju Gunung Semeru (titik awal basecamp di Desa Ranu Pane) dari Surabaya, bisa transit terlebih dahulu melalui Kota Malang baru kemudian naik kendaraan khusus (Jeep 4x4) atau ojek menuju kaki gunung.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.