Menelusuri Jejak Pertahanan Militer Jepang di Sentonorejo Sleman
Joko Widiyarso September 05, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyimpan pelbagai jejak sejarah pertahanan masa pendudukan Jepang, satu di antaranya Gua Jepang Sentonorejo di Kalurahan Jogotirto, Berbah, Kabupaten Sleman.

Situs pertahanan lapisan bawah tanah ini, dibangun menggunakan tenaga kerja paksa romusha antara tahun 1942 hingga 1944. Dulunya berfungsi sebagai gudang amunisi untuk mengamankan wilayah sekitar Lapangan Udara Maguwo.

Tribun Jogja menelusuri Gua Jepang ini pada akhir Agustus lalu. Suasananya tenang begitu tiba di Kompleks Gua Jepang Sentonorejo. Sebab komplek gua yang dipahat di formasi batuan semilir ini memang berada di perbukitan dan dibuat jauh dari keramaian. Ada empat lorong pintu masuk yang menghadap ke barat dengan lebar keseluruhan dari utara ke selatan  28 meter. 

Lorong pertama dan ketiga memiliki panjang kedalaman menembus perut bukit masing-masing 38 meter, sementara dua lorong lainnya lebih pendek karena hanya memiliki panjang sepuluh meter.

Tinggi keempat pintu masuk sekitar 200 cm dengan lebar 195 cm. Bagian dinding pintu diperkuat dengan pasangan bata berspasi kapur serta lepa dan acian. 

"Pada masanya (gua ini) kemungkinan dilengkapi dengan kusen sebagai gerbang pintu," kata Alip, seorang Juru Pemeliharaan situs ini dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Yogyakarta, yang ditemui di lokasi. 

Alip mengungkapkan, gua tersebut dulunya aktif digunakan sebagai markas sementara tentara dan tempat penyimpanan atau  gudang amunisi.

Ia mengajak Tribun Jogja untuk masuk menyusuri ke dalam perut gua. Tiap lorong gua dipahat di batuan. Meski kondisi batuan tampak lapuk, namun Alip meyakinkan bahwa lorong gua tersebut kokoh.Tidak ada lampu sebagai pencahayaan, sehingga jika dilihat dari luar kondisinya tampak gelap. 

"Kalau dari luar, lorongnya kelihatan gelap. Tapi kalau masuk, nanti terang," ucap Alip. 

Benar kata dia. Begitu langkah kaki masuk perlahan ke perut gua, dinding batuan langsung perlahan terlihat. Cahaya, meski tidak banyak, namun masuk ke dalam sehingga memungkinkan mata tanpa bantuan center bisa melihat apa yang ada didalam gua. 

"Gua ini mulai ditinggalkan pas Jepang mulai kalah, 1945 mulai ditinggalkan. Dulu di sini jadi tempat menyimpan amunisi. Tapi waktu ditemukan, bersih tidak ada satupun amunisi," ujar Alip, bercerita. 

Mengapa di Sentonorejo?

Pemilihan Dusun Sentonorejo, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, sebagai lokasi gua tidak terlepas dari letaknya yang strategis, hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari kompleks pangkalan udara Adisucipto, serta didukung oleh kondisi geografis perbukitan batu cadas.

Bangunan pertahanan gua yang ada di Yogyakarta, secara historis memang didirikan di wilayah-wilayah yang dinilai rawan menjadi titik pendaratan musuh. Misalnya seperti di perbukitan dekat Pantai Parangtritis, bukit Plawangan di Kaliurang, hingga kawasan sekitar Lapangan Udara Maguwo.

Keberadaan benteng-benteng ini dirancang secara taktis untuk berbagai keperluan militer. Ada yang sebagai pos pengintaian, titik penembakan, tempat logistik, hingga bunker penyimpanan amunisi seperti fungsi Gua Jepang Sentonorejo ini. 

Pamong Budaya Madya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DIY, Wikanto Harimurti mengatakan, Gua Jepang yang ada di Sentonorejo sebenarnya tidak hanya terdiri dari empat lubang, melainkan masih ada beberapa titik lain di sekitarnya.

Namun yang sementara terekspos baru empat lubang itu. Keunikan utama dari gua ini terletak pada strukturnya yang dipahat langsung membentuk ceruk ke dalam tebing batu cadas setinggi delapan meter. Meski tanpa diperkuat dengan beton, struktur gua ini sangat kuat. 

"Jadi pada waktu gempa berkali-kali, ini enggak apa-apa, tetap gini terus," ujar Hari. 

Pihaknya mengaku sengaja tidak melakukan renovasi atau mengubah rekayasa fisik terhadap struktur gua. Hal ini demi menjaga otentisitas sejarah yang terkandung di dalamnya.Perawatan juga dilakukan secara hati-hati untuk memastikan bangunan cagar budaya tersebut tetap lestari. 

"Nilai jual yang tertinggi adalah otentisitasnya. Jadi di sini otentik. Kita tidak bisa merehab, jadi yang bisa kita lakukan adalah mempertahankan seperti ini. Estetisnya memang seperti ini," katanya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.