TRIBUN-TIMUR.COM - Jumlah siswa dan guru diduga keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Tana Toraja, Sulsel, bertambah menjadi 173 orang.
"Data terbaru hingga pukul 09.00 Wita, tercatat 173 orang telah mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan," ujar Kadis Kesehatan Tana Toraja, Yosefina Rombetasik, Sabtu (9/5/2026).
Dari total 173 pasien, sebanyak 13 orang masih menjalani rawat inap, sedangkan 160 pasien lainnya menjalani rawat jalan.
Jumlah tersebut bertambah 8 orang dibandingkan data Satgas MBG Tana Toraja pada Jumat (4/9/2026) pukul 16.30 Wita yang mencatat 165 siswa dan guru mendapat perawatan.
Pada data sebelumnya, 165 pasien tersebar di tiga rumah sakit, yakni RSUD Lakipadada, RS Sinar Kasih, dan RS Fatima.
Dari 165 pasien tersebut, 22 orang masih menjalani rawat inap dan 143 lainnya telah dipulangkan untuk menjalani rawat jalan.
Baca juga: Orang Tua Siswa Geram, Mitra SPPG Tana Toraja: Kalau Sudah Tau Bau, Kenapa Masih Dimakan?
Dalam pembaruan Sabtu pagi, pasien tercatat tersebar di tiga rumah sakit dan tiga puskesmas.
Di RSUD Lakipadada, terdapat 84 pasien. Sebanyak 5 orang masih menjalani rawat inap, sedangkan 79 lainnya menjalani rawat jalan.
Kemudian di RSKK Toraja, tercatat 50 pasien dengan rincian 2 orang masih dirawat dan 48 lainnya menjalani rawat jalan.
Sementara RS Fatima menangani 31 pasien.
Sebanyak 6 orang masih menjalani rawat inap dan 25 lainnya menjalani rawat jalan.
Selain rumah sakit, penanganan juga dilakukan di sejumlah puskesmas.
Puskesmas Batusura menangani 2 pasien, Puskesmas Rembon 2 pasien, dan Puskesmas Makale 4 pasien.
Dengan demikian, total pasien yang mendapat penanganan mencapai 173 orang.
Dibandingkan data Jumat sore, jumlah pasien rawat inap justru turun dari 22 menjadi 13 orang.
Sementara pasien yang menjalani rawat jalan meningkat dari 143 menjadi 160 orang.
Perkembangan tersebut menunjukkan sebagian pasien yang sebelumnya menjalani rawat inap telah dipulangkan.
sementara terdapat tambahan pasien yang mendapat penanganan hingga Sabtu pagi.
Kasus gangguan pencernaan ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena dialami siswa dan guru setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Meski demikian, hubungan antara gangguan kesehatan yang dialami para pasien dengan makanan MBG masih dalam penanganan dan pemeriksaan pihak terkait.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan masih melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien dan perkembangan kasus tersebut.