Dosen Antropologi UNM Ajak Pemuda GPIB Bukit Zaitun Rawat Kedermawanan di Era Digital
Alfian September 05, 2026 10:07 PM

 

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebagai wujud nyata pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, tim dosen dari Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Universitas Negeri Makassar (UNM) sukses menyelenggarakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Kegiatan yang berlangsung edukatif ini digelar di Aula Pertemuan GPIB Jemaat Bukit Zaitun, Kota Makassar, Sabtu (5/9/2026).

Mengangkat tema besar "Penguatan Kedermawanan pada Pemuda Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat," program ini menempatkan para pemuda GPIB Jemaat Bukit Zaitun sebagai mitra strategis sekaligus peserta aktif.

Kehadiran akademisi ke tengah masyarakat ini bertujuan untuk membekali generasi muda dengan nilai-nilai solidaritas sosial yang kuat di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Dalam sesi pertama, Dr. Abdul Rahman, S.Pd., M.Si., selaku ketua tim pelaksana PKM, tampil sebagai pembicara.

Di hadapan puluhan peserta, ia memaparkan secara mendalam mengenai urgensi kedermawanan sosial dari perspektif etika dan antropologi budaya.

Ia menegaskan bahwa sifat suka berbagi dan menolong sesama bukanlah hal baru, melainkan sudah menjadi DNA dan ciri khas asli bangsa Indonesia.

"Secara historis dan kultural, Indonesia telah diakui dunia dengan menempati urutan pertama sebagai negara paling dermawan di dunia menurut berbagai survei indeks kedermawanan global. Namun, seiring dengan lajunya arus globalisasi dan digitalisasi, tantangan karakter bagi Generasi Z sungguh nyata. Pemuda hari ini harus diingatkan kembali untuk tetap memelihara, merawat, dan mempraktikkan sikap kedermawanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari," ujar Abdul Rahman dalam orasinya.

Baca juga: Plt Rektor UNM Prof Farida Ajak Alumni Satukan Hati untuk Majukan Kampus

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa aksi nyata kedermawanan saat ini menjadi instrumen krusial untuk meringankan beban sesama yang terdampak langsung oleh situasi ketidakpastian ekonomi global.

Generasi muda diharapkan tidak bersikap apatis, melainkan mampu menjadi motor penggerak jaring pengaman sosial di lingkungan terkecil mereka.

Menyambung perspektif budaya tersebut, kegiatan ini juga menghadirkan pembicara kedua dari otoritas keagamaan setempat, yakni Pendeta Salmon Aldemar Jacobus Bawole, S.Th., M.Min.

Dalam pemaparannya, Pendeta Salmon membedah konsep kedermawanan dari sudut pandang teologi dan Iman Kristen.

Menurutnya, tindakan memberi tidak boleh dipersempit hanya sebatas sumbangan uang atau materi dalam bentuk fisik semata.

"Kedermawanan dalam iman Kristen dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang kreatif dan berdampak langsung pada lingkungan. Salah satu contoh konkretnya adalah gerakan peduli lingkungan di mana sampah bisa diubah menjadi berkat bagi sesama. Kita bisa memulai gerakan memilah sampah plastik dari rumah, mengumpulkannya, lalu menukarkannya dengan paket sembako. Paket sembako inilah yang kemudian diserahkan kepada keluarga-keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi," jelas Pendeta Salmon memberikan ilustrasi program.

Ia juga menambahkan sebuah poin penting bahwa iklim kedermawanan hanya akan tercipta secara berkelanjutan di kalangan pemuda manakala sebuah ekosistem kepercayaan (trust) telah terbangun dengan baik di antara mereka. Kepercayaan menjadi fondasi utama agar gerakan sosial pemuda bisa berjalan solid dan berkesinambungan.

Kegiatan PKM ini dihadiri oleh sekitar 30 orang pemuda gereja setempat.

Sepanjang acara berlangsung, atmosfer aula dipenuhi oleh energi positif dan antusiasme yang tinggi.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peserta yang aktif melempar argumen, pertanyaan, dan ide-ide segar saat sesi diskusi interaktif dibuka oleh moderator.

Baca juga: Pengabdian di Desa Simbang Tim PKM FISH UNM Dorong Penyandang Disabilitas Jadi Penggerak Pembangunan

Pada sesi penutup, kedua pembicara sepakat menarik benang merah yang kuat.

Mereka mengunci pemaparan dengan menegaskan bahwa nilai kedermawanan sejatinya mendatangkan kebaikan bersama (bonum commune) tanpa memandang sekat-sekat Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). 

Kedermawanan murni muncul sebagai bentuk emansipasi kemanusiaan yang universal, asalkan dilakukan dengan ketulusan hati tanpa pamrih.

Merespons kesuksesan acara ini, pihak majelis dan pengurus GPIB Jemaat Bukit Zaitun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim dosen FIS-H UNM.

Mereka berharap program kemitraan seperti ini tidak berhenti sampai di sini saja, melainkan dapat dilanjutkan pada kesempatan-kesempatan berikutnya.

Kolaborasi yang erat antara institusi perguruan tinggi dan lembaga keagamaan dinilai menjadi langkah strategis yang sangat efektif dalam membina, mengawal, serta memperkuat karakter generasi muda yang tangguh dan humanis di Kota Makassar.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.