TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tak banyak yang menyangka, perjalanan H Badris di dunia properti dimulai dari pekerjaan paling bawah di sektor konstruksi.
Sebelum dikenal sebagai pengembang rumah subsidi, Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sulsel itu pernah menjadi buruh bangunan, tukang, mandor hingga subkontraktor.
Hal itu diungkap H Badris saat sesi Podcast di Kantor Tribun-Timur.com, Jl Cendrawasih, Kota Makassar, Sabtu (5/9/2026).
Ia mengaku terjun ke dunia konstruksi karena mengikuti pamannya yang kala itu bekerja sebagai kontraktor di Makassar.
“Awalnya itu kami ikut sama paman. Paman di Makassar ini memang dulu kontraktor. Sehingga kami ikut juga sama beliau,” katanya.
Dari pekerjaan sebagai buruh, ia perlahan belajar banyak hal mengenai dunia konstruksi.
Kariernya kemudian berkembang.
Ia dipercaya menjadi tukang, mandor, hingga subkontraktor. Pengalamannya semakin bertambah setelah terlibat dalam sejumlah proyek perusahaan besar, termasuk Bumi Karsa dan Bosowa.
Namun, perjalanan menjadi pengembang tidak langsung membuatnya sukses.
Baca juga: Jelang Musda, Puluhan Developer Milenial Dukung Haji Badris Pimpin REI Sulsel
Pada 2007, Badris mulai masuk ke bisnis developer.
Dengan keterbatasan modal, ia memilih pola kerja sama dengan pemilik lahan.
Salah satu kerja sama pertamanya dilakukan bersama seorang pengusaha bernama Jefry yang memiliki lahan di kawasan Sudiang, Jalan Goriyya, Makassar.
Dalam skema tersebut, pemilik lahan menyediakan tanah, sementara Badris menyediakan kemampuan dan biaya pembangunan.
“Kami hanya kerja sama. Mereka punya lahan, kami punya bangunan. Setelah kita bangun, kami jual. Diberikan haknya untuk lahan, saya ambil untuk bangunannya, profit dibagi sekian persen,” ujarnya.
Dari proyek tersebut, modalnya mulai terkumpul.
Ia kemudian kembali mengembangkan bisnis dengan menggarap lahan sekitar dua hektare di Barombong.
Proyek tersebut berjalan lancar, termasuk proses Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Pengalaman itu menjadi pijakan Badris untuk memperluas bisnisnya.
Namun, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus.
Sekitar 2012, Badris membeli lahan seluas 12 hektare di Sinjai.
Saat itu ia berpikir bisnis rumah komersial di daerah tersebut akan berjalan seperti di Makassar.
Direktur Utama PT Bumi Pundi Karsa itu kemudian membangun rumah komersial di atas lahan tersebut.
Namun, ekspektasinya tidak sesuai kenyataan.
Baca juga: Haji Badris Salam Jadi Ketua Umum JKOC 2024-2027
Penjualan rumah ternyata tidak berjalan secepat di Makassar.
Rumah yang telah dibangun sulit terjual sehingga modalnya tertahan.
“Kami sudah bangun tapi tidak bisa terjual dengan lancar seperti di Makassar. Di situlah kami kekurangan biaya,” ungkapnya.
Dalam kondisi tersebut, sebuah tawaran justru menjadi titik balik bisnisnya.
Bank BTN Syariah kala itu menyarankan agar kawasan tersebut dialihkan menjadi proyek rumah subsidi.
Dari sinilah Badris mulai serius menggarap segmen rumah subsidi.
“Alhamdulillah dengan ada penyampaian dari Bank BTN Syariah di waktu itu, bagaimana kalau Bapak mengalihkan lokasinya menjadi rumah subsidi. Nah, di situlah kami mulai awalnya untuk menjalankan rumah subsidi,” kata dia.
Keputusan tersebut menjadi momentum penting.
Selama sekitar dua tahun, Badris mengaku tidak mendapatkan pemasukan meski telah mengeluarkan biaya besar untuk pembebasan lahan.
“Saat itu kami dua tahun tidak pernah ada pemasukan. Padahal kita sudah keluarkan biaya untuk pembebasan lahan. Jadi kita kembali nol lagi,” ungkapnya.
Namun, perlahan proyek rumah subsidi mulai bergerak.
Dengan dukungan pemerintah daerah dan program pemerintah satu juta rumah, penjualan mulai mendapatkan respons dari masyarakat.
Awalnya, sekitar 100 unit disiapkan untuk pembangunan dan mulai mendapatkan calon pembeli.
Setelah proses kerja sama dengan perbankan selesai, rumah yang telah dibangun mulai masuk dalam skema KPR subsidi.
Sebanyak 20 unit pertama yang telah selesai kemudian diproses KPR.
Dari sinilah arus dana mulai kembali masuk dan bisnisnya perlahan bangkit.
Keberhasilan proyek rumah subsidi di Sinjai menjadi modal untuk memperluas bisnis ke berbagai daerah.
Badris kemudian membuka proyek di Bone, Bulukumba, Bantaeng, Maros, Gowa hingga Palopo.
Bisnisnya pun berkembang dari hanya mengandalkan rumah subsidi menjadi pengembang dengan dua segmen, yakni subsidi dan komersial.
Untuk rumah komersial, sejumlah proyek dikembangkan di kawasan belakang Kantor Gubernur Sulsel, BTP Makassar, hingga Gowa.
“Jadi bukan kita ini hanya rumah subsidi. Tentunya rumah komersil juga ada. Kalau dirata-ratakan, subsidi mungkin 70 persen, 30 persen yang komersil,” ucapnya.
Perjalanan panjang dari buruh bangunan hingga menjadi pengembang tersebut, menurut Badris, tidak lepas dari tiga hal utama: kerja keras, memperluas jaringan, dan keikhlasan.
“Keberhasilan yang kami capai karena pertama kerja keras. Kedua, kita perbanyak jaringan. Ketiga, kita ikhlas,” katanya.
Bagi Badris, pengalaman dari bawah justru menjadi bekal penting dalam membangun bisnis properti. Ia juga menekankan pentingnya bekerja secara cerdas dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis.
“Karena dengan adanya keikhlasan, tentu itu semua yang mendapatkan kita bisa bagaimana kesuksesan kita. Dan selalu kita kerja dengan cerdas,” jelasnya.(*)