Penajam (ANTARA) - Operasi pembasahan udara melalui pengeboman air oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI Angkatan Udara (AU) berhasil mengurangi titik panas di sejumlah area penyangga IKN
Staf Khusus Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi Kepala Otorita IKN Danis H Sumadilaga di Penajam, Kalimantan Timur, Sabtu, mengatakan operasi tersebut digelar menyusul adanya peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdasarkan pemantauan udara dan laporan lapangan.
"Otorita IKN bersama BNPB dan TNI AU mulai melakukan pengeboman air untuk menangani karhutla di sekitar kawasan IKN pada Sabtu," katanya.
Operasi tersebut menggunakan helikopter Caracal H225M yang disiagakan di Pangkalan Udara (Lanud) Dhomber Balikpapan.
Sepanjang hari, helikopter tersebut melakukan 10 kali pengeboman air yang dibagi dalam dua kali terbang (sortie).
Pasokan air diambil dari Danau Merdeka serta bekas galian tambang yang berada dekat dengan lokasi sasaran.
"Selain untuk memadamkan titik api, operasi ini sekaligus membasahi area yang berpotensi terbakar," ujarnya.
Menurut dia, pembasahan menjadi langkah penting untuk menekan risiko perambatan api, terutama di tengah kondisi angin yang berubah-ubah.
Penentuan lokasi pembasahan didasarkan pada informasi BMKG dan pembaruan koordinat dari tim darat.
Kapten Penerbang Caracal H225M TNI AU Arief Rahmanto menyebutkan sinergi dan koordinasi antara tim darat dan udara menjadi kunci ketepatan sasaran operasi.
"Kerja sama ini sangat memuaskan. Tim dari darat terus memberikan pembaruan titik koordinat sehingga kami yang berada di udara dapat melakukan pemadaman secara akurat," katanya
Hasil pemantauan pasca-operasi menunjukkan kondisi di lapangan mulai membaik, ditandai dengan menurunnya jumlah titik panas di beberapa lokasi serta berkurangnya kepulan asap.
Saat ini, OIKN bersama BMKG terus melakukan pemantauan intensif via satelit untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.
Operasi ini kelanjutan dari pembasahan udara yang dilakukan di lima lokasi pada pagi hari, meliputi kawasan Bukit Tengkorak, Bukit Merdeka, Teluk Dalam, dan Wonotirto.
Seluruh area tersebut memiliki vegetasi campuran dan kontur berbukit, sehingga intervensi dari udara dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan darat.
OIKN bersama BNPB, TNI AU, dan seluruh unsur terkait berkomitmen melanjutkan langkah terkoordinasi ini dengan mengedepankan deteksi dini, respons cepat, serta penanganan terukur selama periode rawan karhutla.





