BANYUASIN – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) terus mendorong inovasi teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah pasang surut.
Salah satunya melalui penerapan metode PM AAS dan penggunaan Benih Biosalin yang memiliki kemampuan beradaptasi pada lahan dengan kadar garam tinggi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Tanam Bersama Metode PM AAS pada Lahan Sawah Pasang Surut dengan Benih Biosalin untuk Demplot Benih Penangkar Tahan Air Asin yang dilaksanakan di Desa Kuala Puntian, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan ini dihadiri unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, Brigade Pangan (BP), petani, serta berbagai pihak terkait yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pertanian di wilayah lahan pasang surut.
Pelaksanaan tanam bersama ini merupakan bagian dari upaya memperkuat penerapan inovasi teknologi sekaligus memperkenalkan varietas atau benih yang mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan spesifik, khususnya lahan sawah pasang surut yang menghadapi tantangan salinitas.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemanfaatan inovasi dan teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk pada lahan-lahan yang memiliki tantangan khusus.
"Kita harus berani mengoptimalkan lahan yang ada dengan teknologi dan inovasi. Lahan pasang surut memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan produksi pangan apabila dikelola dengan tepat dan menggunakan benih yang sesuai dengan kondisi lahannya," ujar Amran.
Menurutnya, pengembangan pertanian di lahan pasang surut juga harus diikuti dengan pendampingan yang kuat kepada petani agar teknologi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produksi serta kesejahteraan petani.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada tanam, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian.
"Pengembangan lahan pasang surut membutuhkan pendekatan yang tepat, mulai dari teknologi budidaya, penggunaan benih yang adaptif, hingga penguatan kapasitas petani dan pendamping. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin memastikan inovasi dapat dipahami, diterapkan, dan dikembangkan secara berkelanjutan di tingkat lapangan," jelas Idha.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Muhammad Amin juga menekankan pentingnya keterlibatan sumber daya manusia pertanian dalam mendukung percepatan adopsi teknologi.
"Pendidikan dan pelatihan pertanian harus mampu menjawab kebutuhan di lapangan. Penerapan metode budidaya dan benih yang sesuai dengan karakteristik lahan merupakan bagian penting dalam membentuk SDM pertanian yang adaptif, inovatif, dan mampu memberikan solusi terhadap tantangan pertanian," ungkapnya.
Sementara itu, sebagai UPT BPPSDMP di Sumatera Selatan yang mengawal langsung pelaksanaan teknis di lapangan, Kepala SMK PPN Sembawa, Budi Santoso turut menyampaikan dukungan terhadap kegiatan pengembangan pertanian di lahan pasang surut.
"Kami mendukung setiap upaya yang memperkuat inovasi pertanian sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi generasi muda pertanian. Sinergi antara pemerintah, penyuluh, petani, Brigade Pangan, dan lembaga pendidikan menjadi modal penting untuk mencetak SDM pertanian yang mampu mengelola potensi lahan secara produktif dan berkelanjutan," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta bersama-sama melakukan penanaman pada lahan demplot menggunakan Benih Biosalin sebagai bagian dari upaya pengembangan benih yang mampu beradaptasi pada kondisi air atau tanah dengan tingkat salinitas tertentu.
Demplot tersebut diharapkan dapat menjadi lokasi pembelajaran dan pengamatan bagi petani serta penyuluh untuk melihat penerapan teknologi budidaya pada lahan sawah pasang surut secara langsung.
Hasil pengembangan demplot juga diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk mendukung pengembangan benih dan teknologi pertanian yang sesuai dengan karakteristik wilayah.
Melalui penerapan inovasi, pendampingan yang berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor, Kementerian Pertanian terus mendorong agar lahan-lahan potensial dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap peningkatan produksi pangan dan penguatan ketahanan pangan nasional.