TRIBUNNEWS.COM, SERANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten mengatakan belum ada laporan resmi dari masyarakat maupun BPBD Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang terkait dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9/2026) malam.
Kepala Pelaksana BPBD Banten Lutfi Mujahidin mengatakan terdapat sejumlah wilayah yang mulai terdeteksi terkena abu vulkanik berdasarkan pemantauan di media sosial.
"Untuk laporan resmi dari masyarakat maupun BPBD Kabupaten Pandeglang dan Serang belum ada. Namun berdasarkan pemantauan di media sosial, ada beberapa yang sudah terdeteksi terkena abu vulkanik, seperti di Pos PVMBG Pasauran," kata Lutfi saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Sabtu (5/9/2026) malam.
Lutfi mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak untuk tidak panik dan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar rumah dan saat kondisi udara mulai dipengaruhi abu vulkanik.
"Jangan panik, tetap siaga dan pakai masker," ujarnya.
Warga Kampung Ciparahu, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ikhwan mengaku masih merasakan aktivitas Gunung Anak Krakatau di wilayah tempat tinggalnya.
Ia menyampaikan angin terasa kencang sejak malam dini hari. Selain itu, suara gemuruh dari arah Gunung Anak Krakatau juga beberapa kali terdengar.
"Angin kencang dari siang terus gemuruh kadang-kadang. Dari semalam. Pas malam dikirain suara mobil, enggak taunya Krakatau," kata Uyung panggilan akrabnya.
Baca juga: Penjelasan Pakar soal Kenapa Dentuman di Bandung Dikaitkan Erupsi Gunung Anak Krakatau
Ia menceritakan bahwa warga Kampung Ciparahu sejauh ini belum melakukan evakuasi atau mengungsi.
Namun, lanjut Uyung, kemungkinan terdapat warga di Kampung Legon, yang berada lebih dekat dengan pesisir, yang memilih mengungsi.
"Di kampung mah enggak ada yang ngungsi. Tapi di Kampung Legon dekat pesisir kayaknya ada, soalnya mungkin trauma pasti, pas kejadian tsunami tahun 2018 itu," ujarnya.
Uyung menyebut wilayah Kampung Ciparahu hingga Sabtu malam belum terdampak hujan abu vulkanik.
Namun, kondisi langit sempat terlihat gelap pada pagi hari dan kembali diselimuti awan atau kabut gelap.
"Abu vulkanik mah enggak ada, cuma gelap pas pagi-pagi, sekarang juga awan kabutnya gelap," katanya.
Aktivitas masyarakat di Kampung Ciparahu juga mulai terdampak. Salah satunya aktivitas nelayan yang biasanya melaut pada sore hari.
"Misalkan sore kan nelayan ke sana ke laut, ini mah enggak," tutup Uyung.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berada pada Level III atau Siaga setelah kembali mengalami erupsi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM memastikan, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau secara intensif.
Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Rita Susilawati, mengimbau masyarakat di wilayah Banten dan Lampung tidak panik menyikapi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Baca juga: Dentuman Gunung Anak Krakatau Bikin Jendela Warga di Bandung Bergetar, Dikira Ban Truk Meletus
"Masyarakat di wilayah Provinsi Banten dan Lampung diimbau untuk tetap tenang, beraktivitas seperti biasa, dan senantiasa mengikuti arahan dari BPBD setempat," ujar Rita dalam keterangan pers melalui siaran YouTube, Sabtu (5/9/2026).
Rita menjelaskan, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api tipe A yang berada di Selat Sunda.
Ia menjelaskan, pihaknya tetap melakukan pemantauan melalui dua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA), yakni di Pasauran, Jawa Barat, dan Kalianda, Lampung.
Menurutnya, aktivitas erupsi kembali terjadi sejak Jumat (4/9/2026) malam mulai pukul 23.07 WIB, hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04.40 WIB.
"Erupsi Krakatau ini menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik," kata Rita.
Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau Pasauran juga mencatat suara gemuruh dari erupsi yang berlangsung secara terus-menerus.
Meski tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati, secara visual terlihat warna merah menyala dari semburan erupsi yang berlangsung selama beberapa jam.
Menurut Rita, semburan lava dan erupsi menerus seperti yang terjadi saat ini merupakan fenomena yang umum terjadi di Gunung Anak Krakatau.
Aktivitas erupsi tersebut juga diduga berkaitan dengan suara dentuman yang dilaporkan terdengar masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat hingga Jakarta.
"Untuk suara dentuman yang dilaporkan oleh masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat hingga Jakarta," ucapnya.
"Kami menduga suara tersebut ada kaitannya dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung bersamaan," jelasnya.
Namun, Rita menegaskan, dugaan tersebut belum dapat memastikan sumber dentuman secara mutlak.
"Pencocokan waktu antara aktivitas erupsi dan laporan masyarakat masih diperlukan untuk memastikan keterkaitan tersebut," ucapnya.
Ia menyebut, bahwa berdasarkan catatan PVMBG peristiwa serupa pernah terjadi pada 11 April 2020, ketika suara dentuman dari aktivitas Gunung Anak Krakatau terdengar hingga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Rita mengatakan, perambatan suara akibat erupsi hingga jarak yang jauh merupakan fenomena yang memungkinkan terjadi.
"Kondisi atmosfer seperti perbedaan temperatur udara dan kecepatan angin juga dapat memengaruhi perambatan suara," katanya.
Di tengah aktivitas erupsi tersebut, PVMBG memastikan kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.
"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang dapat memicu tsunami," papar Rita.
Meski demikian, PVMBG tetap meminta masyarakat tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Rita menegaskan perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau akan terus dipantau.
"Kami terus-menerus melakukan pemantauan perkembangan aktivitas dan juga perubahan morfologi dari tubuh Anak Krakatau ini," ujarnya.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat Banten dan Lampung untuk tetap mengikuti informasi resmi serta arahan dari BPBD setempat.
Informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau juga dapat diakses melalui PVMBG, aplikasi MAGMA Indonesia, serta kanal resmi Badan Geologi.