Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (STIPER FB) membuka tahun akademik 2026/2027 dengan perayaan Ekaristi bersama yang berlangsung di halaman Kampus C Turekisa, Sabtu (5/9/2026).
Perayaan Ekaristi tersebut dihadiri civitas akademika STIPER Flores Bajawa, termasuk mahasiswa baru angkatan 2026.
Misa dipimpin oleh Romo Ketua Yayasan, Silverius Betu, bersama Romo Ketua LPMAI, Dr. Rofinus Neto Wuli, dan Romo Sekretaris, Adrianus Wengi.
Hadir pula Ketua STIPER Flores Bajawa Dr. Nicolaus Noywuli, Wakil Ketua I David Januarius Djawa Patti, para ketua dari lima program studi, dosen, staf, serta seluruh civitas akademika.
Baca juga: Demi Peternakan Modern, Nadia dan Any Tinggalkan Manggarai dan Pilih STIPER Flores Bajawa
Dalam homilinya, Romo Silverius Betu mengajak seluruh civitas akademika STIPER Flores Bajawa membangun ekosistem perguruan tinggi yang harmonis, adil, dan mampu menghadirkan kesejahteraan bersama.
Ia mengangkat pemikiran filsuf klasik Plato dalam karya De Republica, khususnya mengenai empat kebajikan utama yang dapat menjadi prinsip bersama dalam kehidupan di lingkungan perguruan tinggi.
Kebajikan pertama yang disampaikan Romo Silverius adalah kebijaksanaan atau Sophia.
Menurutnya, kebijaksanaan menjadi hal penting dalam membangun dan mengarahkan perguruan tinggi agar tetap berada pada jalur yang benar.
Kebijaksanaan tersebut harus dimiliki setiap unsur pimpinan, mulai dari ketua perguruan tinggi, ketua program studi, dosen, hingga seluruh elemen yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan STIPER Flores Bajawa.
“Keutamaan ini wajib dimiliki oleh para pemimpin dan filsuf, yang memiliki akal budi dan pemahaman yang benar tentang hal-hal yang baik,” ujar Romo Silvester, Imam Keuskupan Agung Ende.
Ia menegaskan, seluruh pemimpin di lingkungan STIPER Flores Bajawa harus memiliki kebijaksanaan agar arah perjalanan pendidikan tetap berjalan sesuai tujuan.
“Kita semua yang menjadi pemimpin di STIPER Flores Bajawa ini harus memiliki Sophia, kebijaksanaan, agar arah perjalanan pendidikan tetap lurus,” katanya.
Menurutnya, kebijaksanaan juga berarti adanya kesatuan arah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
“Bijaksana berarti satu komando, dengar satu orang, jangan dengar banyak orang,” tambahnya.
Kebajikan kedua yang ditekankan adalah keberanian.
Romo Silvester mengatakan keberanian diperlukan untuk mempertahankan hal-hal yang baik dan memperjuangkan kebenaran.
Ia mengibaratkan seluruh civitas akademika STIPER Flores Bajawa sebagai prajurit yang memiliki tugas bersama untuk membawa perguruan tinggi tersebut terus berkembang dan maju.
“Mulai dari dosen, staf hingga semua yang ada dalam civitas akademika STIPER Flores yang terlibat dalam membawa perguruan tinggi ini terus melangkah maju,” katanya.
“Mari jadi prajurit yang tangguh, jangan jadi prajurit yang lou (ikan lumba-lumba),” ujar Romo Silvester disambut suasana penuh perhatian dari peserta misa.
Kebajikan ketiga adalah pengendalian diri.
Menurutnya, pengendalian diri penting bagi mahasiswa agar mampu mengontrol keinginan, membangun ketaatan, dan melahirkan kedisiplinan dalam kehidupan akademik maupun sosial.
“Jadi mahasiswa tidak perlu banyak gaya. Sederhana namun berisi. Orang bilang diam-diam ubi berisi, jangan tong kosong nyaring bunyinya,” tegasnya.
Ia meminta mahasiswa mampu mengendalikan diri dari berbagai keinginan yang tidak teratur serta tetap menjalani kehidupan dengan sederhana.
“Mahasiswa harus mampu mengendalikan diri dari keinginan yang tidak teratur. Sederhana, mengendalikan diri,” katanya.
Sementara kebajikan keempat adalah keadilan.
Romo Silverius menjelaskan, keadilan dapat terwujud ketika setiap orang menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya dengan baik sehingga tercipta keharmonisan dalam relasi.
“Relasi itu penting, membangun keharmonisan. Keharmonisan antara pimpinan dengan prajurit, pimpinan dengan masyarakat,” katanya.
Selain empat kebajikan tersebut, Romo Silvester juga mengingatkan civitas akademika STIPER Flores Bajawa agar tidak menyombongkan diri, tidak mudah menghakimi, serta tidak selalu mempersalahkan orang lain.
Pesan tersebut, kata dia, sejalan dengan bacaan Rasul Paulus kepada umat di Korintus.
Ia berharap STIPER Flores Bajawa menjadi ruang pendidikan yang membebaskan, bukan tempat untuk saling menghakimi.
“Jadilah STIPER Flores Bajawa ini bukan ruang penghakiman, tetapi komunitas yang membebaskan sehingga kita semua yang terlibat di dalamnya dengan sukacita memberi yang terbaik,” pungkasnya.
Dalam perayaan Ekaristi ini tidak hanya diikuti oleh Mahasiswa yang beragama Katolik. Turut terlibat juga mahasiswa dari agama Islam dan Kristen Protestan, sebagai bentuk intoleransi yang lahir dari Dunia Perguruan Tinggi.(cha)