Sumur Bor Ada, Air Bersih Belum Mengalir : Penantian Warga Orinmude Sikka
Hilarius Ninu September 06, 2026 12:47 AM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Lima bak hidran dan satu bak reservoir tidak berfungsi di Kampung Orinmude di Dusun Liantahon, Desa Kokowahor, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. 

Lima bak hidran tersebut dibangun di depan rumah warga dan diberi cat warna biru. Ada juga pipa yang sudah dipasang pada bak air tersebut. 

Sedangkan satu bak reservoir berukuran besar dibangun juga ditengah perkampungan warga dan sudah dilengkapi pipa penyalur air. 

Namun sampai sekarang warga masih menanti air bersih guna melepas dahaga setiap hari.

Baca juga: Perubahan Desil Kependudukan, 80 Jiwa di Desa Blatatin Kangae Sikka Belum Terdata

 

 

Pantauan TribunFlores.com, Sabtu (5/9/2026) sore, pukul 16.30 Wita, salah seorang warga sedang mengisi air di bak yang dibangun mandiri di belakang rumah memanfaatkan air tangki yang dijual. 

Serfando, warga setempat megaku bingung terhadap bangunan bak hidran yang berada di depan rumahnya. 

Ia mengatakan sejak awal dibangun hingga sekarang air tidak juga terlihat. Lantas ia pun mempertanyakan fungsi bangunan tersebut. 

"Kalau memang tidak ada manfaat untuk apa dibangun di sini. Kami di sini sudah kesusahan air, kenapa kami dapat prank begini. Kalau memang tidak berfungsi lebih baik dari awal jangan bangun," tegasnya. 

Secara gamblang Serfando berharap pemerintah dan unsur wakil rakyat bisa membuka mata akan persoalan ini. Sebab air adalah kebutuhan utama bagi masyarakat. 

Secara terpisah, Kepala Dusun Liantahon, Temianus Nasa mengatakan sebelumnya air sudah di bor melalui Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT). 

Temianus Nasa menuturkan air pernah mengalir sebentar saja tetapi sifatnya hanya sekadar uji coba.  

"Saya juga kurang tahu mengapa sampai hari ini air belum mengalir," ungkap pria yang karib disapa Pamong Temmy. 

Khusus di kampung Orinmude, uji coba air baru dilakukan pada RT 013 dan RT 014. Sedangkan di RT 011 dan 012, sama sekali belum bisa mengalir. 

"Kami butuh adanya mesin pendorong. Karena dua tahun lalu sudah dibangun resevior besar, setelah dibangun sampai hari ini vakum. Kami juga membutuhkan tambahan satu reservior lagi," kata Pamong Temmy. 

Kata Pamong Temmy, disaat musim panas, mulai bulan Mei sampai November, masyarakat mengeluarkan biaya satu tangki Rp 100.000  - Rp 120.000 untuk satu kali pemgisiam air tangki. Dalam satu bulan warga harus memborong dua tangki air. 

"Sangat disayangkan, pipa ada di depan rumah, hidran sudah ada semua tapi masyarakat di kampung Orinmude belum menikmati air," ungkapnya. 

"Harapan saya kedepannga mudah-mudahan pihak pemerintah ataupun pihak lain yang mau membantu kami, supaya kami bisa menikmati air," tambah Pamong Temmy. (moa) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.