Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai dirasakan warga di wilayah Sukabumi, Jawa Barat.
Abu berupa debu halus tersebut bahkan terlihat menempel pada kendaraan yang terparkir di rumah serta sejumlah barang yang berada di luar ruangan.
Kondisi itu turut dirasakan pengendara sepeda motor yang beraktivitas di jalan.
Cecep (34), salah seorang pengendara motor di Sukabumi, mengaku merasakan matanya perih ketika berkendara.
Menurut Cecep, rasa perih muncul ketika debu atau abu terbawa angin dan mengenai bagian wajah, terutama mata.
"Terasa perih di mata saat naik motor. Seperti ada debu yang masuk ke mata," ujar Cecep.
Ia mengatakan, kondisi tersebut cukup mengganggu kenyamanan saat berkendara. Selain membuat mata terasa perih, keberadaan debu di udara juga membuatnya harus lebih berhati-hati ketika melaju di jalan.
"Kalau terkena mata memang terasa perih. Jadi harus lebih hati-hati saat berkendara," katanya.
Cecep juga melihat adanya debu halus yang menempel pada kendaraan dan benda-benda di luar rumah.
Sementara itu, warga Sukabumi lainnya, Andri (39), mengaku langsung membersihkan abu yang terlihat menempel di sekitar rumahnya.
Andri mengatakan, debu tersebut terlihat pada permukaan jalan di depan rumah maupun sejumlah barang yang berada di luar ruangan.
"Saya langsung bersihkan debu-debu dan abu yang menempel di jalan depan rumah," kata Andri.
Menurutnya, keberadaan abu cukup mudah terlihat karena menempel pada permukaan benda yang sebelumnya bersih.
"Barang-barang yang ada di luar rumah juga terkena. Kendaraan yang diparkir di luar juga ada debunya," ujarnya.
Andri kemudian memilih segera membersihkan bagian luar rumah agar debu tidak kembali beterbangan dan masuk ke dalam rumah.
"Daripada dibiarkan, lebih baik langsung dibersihkan," katanya.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau masih mengalami aktivitas erupsi.
Badan Geologi melaporkan Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Aktivitas gunung api tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.
Berdasarkan pemantauan BMKG pada Minggu (6/9/2026) dini hari, sebaran abu vulkanik teridentifikasi bergerak ke arah tenggara hingga selatan pada ketinggian sekitar 20.000 kaki dan mencakup sebagian wilayah Banten serta Jawa Barat.
Masyarakat yang merasakan adanya paparan abu vulkanik diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.