TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Warga Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran, Lampung terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Sabtu (5/9/2026).
Pulau Pahawang terletak di Teluk Lampung, berjarak 52 kilometer di sebelah tenggara atau arah utara barat laut dari Gunung Anak Krakatau.
Hampir seluruh wilayah Pulau Pahawang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Tebalnya hujan abu vulkanik di wilayah tersebut, membuat jarak pandang terbatas. Pada Sabtu (5/9/2026) sore jarak pandang di wilayah tersebut hanya beberapa meter.
Kepala Desa Pulau Pahawang Ahmad Salim mengatakan dampak abu vulkanik sebenarnya sudah dirasakan warga sejak Sabtu dini hari dan kondisinya semakin parah pada Sabtu sore.
Baca juga: Warga Tangsel hingga Bogor Rasakan Udara Berdebu Minggu Pagi, Diduga Abu Vulkanik Anak Krakatau
“Dari semalam sebetulnya sudah ada dampak dari erupsi Anak Krakatau. Tapi sore hari ini lebih mengkhawatirkan karena jarak pandang sudah hanya beberapa meter. Debu sudah penuh di Pahawang,” kata Salim kepada Tribunlampung.co.id, Sabtu malam.
Tebalnya abu vulkanik berdampak terhadap warga. Menurut Ahmad, mata warga mulai terasa perih akibat paparan abu vulkanik.
“Dampak dari adanya debu ini mungkin kesehatan. Mata saja sudah perih luar biasa, karena dibarengi dengan angin,” ujarnya.
Untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik, Salim mengimbau warga menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah.
Baca juga: Gunung Anak Krakatau Semburkan Lava Pijar, Abu Vulkanik Guyur Lampung dan Banten, Jarak Aman 3 Km
Ia juga berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian, khususnya dalam penanganan dampak kesehatan masyarakat yang terdampak abu vulkanik.
“Kami butuh perhatian dari pemerintah daerah bagaimana mengatasi kekhawatiran terkait kesehatan. Kesehatan memang prioritas untuk kasus ini,” katanya.
Terkait penanganan di lapangan, Salim mengatakan dirinya baru melaporkan kondisi tersebut kepada pihak kecamatan.
Sementara koordinasi dengan BPBD Kabupaten Pesawaran masih diupayakan karena ia belum mendapatkan kontak yang dapat dihubungi.
“Saya baru laporan ke camat. Ke BPBD saya cari kontaknya, belum ada yang aktif,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan asesmen terhadap kondisi masyarakat di Pulau Pahawang serta mengambil langkah penanganan untuk melindungi warga dari dampak abu vulkanik.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau terus menunjukkan peningkatan signifikan, Sabtu (5/9/2026).
Selain semburan lava pijar yang terpantau secara visual, hujan abu vulkanik dilaporkan telah menjangkau sejumlah wilayah di Provinsi Lampung, Banten, hingga Jawa Barat.
Warga di Bandar Lampung, Lampung Selatan, Pesawaran, hingga Pringsewu melaporkan adanya paparan abu tipis sejak Sabtu malam.
Kondisi serupa juga dirasakan warga di sekitar Selat Sunda, khususnya wilayah Banten.
Bahkan, sejumlah warga di Sukabumi dan Bogor Jawa Barat, mengaku turut terkena dampak abu vulkanik dari gunung api aktif tersebut.
"Lumayan parah di Kalianda, abu vulkanik dari siang kemarin, teras, mobil, jalanan semua penuh debu," ungkap Hany, warga Kalianda, Lampung Selatan, saat dikonfirmasi, Minggu (6/9/2026).
Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi erupsi masih berlangsung hingga saat ini dengan fenomena semburan erupsi terlihat jelas secara terus menerus.
Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan ancaman utama saat ini berada di area sekitar puncak kawah.
“Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai dengan lontaran batu pijar,” ungkap Rita Susilawati dalam pemaparannya, Sabtu (5/9/2026).
Berdasarkan pengamatan visual melalui CCTV, terekam semburan lava pijar yang menyerupai pancaran api atau lava fountain.
Fenomena ini memicu gemuruh yang terdengar hingga pos pengamatan.
Rita menegaskan masyarakat harus benar-benar mematuhi batas jarak aman yang telah ditetapkan otoritas terkait.
“Harap memperhatikan radius 3 kilometer tersebut yang memang berbahaya bisa diakibatkan oleh lontaran lava pijarnya,” tegas Rita.
Terkait laporan warga yang mulai terpapar abu di Lampung hingga Jawa Barat, PVMBG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama jika terjadi eskalasi hujan abu.
Dalam rekomendasi teknisnya, PVMBG meminta warga untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Meskipun sebaran abu mulai meluas, masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak bertanggung jawab.
“Masyarakat di wilayah provinsi Banten dan Lampung diharapkan tetap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan dari BPBD setempat,” tambahnya.
Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau masih bertahan pada Status Level III (Siaga).
Bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan di wilayah terdampak abu, disarankan untuk menggunakan masker dan pelindung mata guna menghindari gangguan kesehatan.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indra Jaya/ Tribunnews.com/ Alfarizy)