Gunung Anak Krakatau Erupsi, Fenomena Lava Fountain Muncul hingga Dentuman Terdengar di 3 Wilayah
Fadhila Rahma September 06, 2026 08:46 AM

 


SRIPOKU.COM - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan.

Erupsi menerus yang terjadi sejak Sabtu (5/9/2026) malam tak hanya memunculkan semburan api berwarna merah menyala, tetapi juga menimbulkan suara gemuruh dan dentuman yang dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah Banten, Lampung, dan Jawa Barat.

Fenomena yang menarik perhatian dalam erupsi kali ini adalah munculnya pancaran lava yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava.

Sementara itu, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga).

Berdasarkan laporan khusus Badan Geologiyang dirilis pada 5 September 2026, status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III (Siaga).

Erupsi ini tercatat mulai menunjukkan peningkatan intensitas pada pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga dini hari berikutnya.

Salah satu poin menarik dalam erupsi kali ini adalah munculnya fenomena lava fountain atau lava air mancur.

Pihak Badan Geologi menjelaskan bahwa meskipun tinggi kolom erupsi tidak teramati, namun pancaran api terlihat jelas dari pos pengamatan.

“Fenomena erupsi ini menyerupai ‘lava fountain’ atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava,” ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dalam keterangannya, dikutip Minggu (6/9/2026).

Visual dari CCTV Lava93 pada 5 September 2026 pukul 00.01 WIB juga memperlihatkan warna merah menyala dari semburan erupsi yang terlihat sangat jelas.

Dahsyatnya erupsi menerus ini menyebabkan suara gemuruh dan dentuman yang merambat cukup jauh.

Warga di pesisir Banten, Lampung, hingga beberapa wilayah di Jawa Barat melaporkan mendengar suara dentuman yang disertai getaran.

“Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan,” ungkap pihak Badan Geologidalam rilisnya.

Apakah Berpotensi Tsunami?

Terkait kekhawatiran masyarakat akan potensi tsunami seperti kejadian Desember 2018 silam, Badan Geologi memberikan penjelasan yang menenangkan.

Hasil evaluasi menunjukkan pertumbuhan tubuh gunung saat ini belum mencapai skala yang membahayakan stabilitas lerengnya.

“Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatauyang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” tulis Badan Geologi.

Sehubungan dengan status Level III (Siaga), masyarakat diimbau untuk mematuhi sejumlah rekomendasi teknis demi keselamatan:

  • Masyarakat, pengunjung, wisatawan, atau pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 km dari pusat aktivitas.

    Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu lebat.
  • Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diharapkan tetap tenang dan mengikuti arahan dari BPBD setempat.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.