Catatan Sejarah Erupsi Gunung Anak Krakatau: Pernah akibatkan Tsunami pada Tahun 1883 dan 2018
Nuryanti September 06, 2026 10:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada Sabtu (5/9/2026), tepatnya pada pukul 23.07 WIB. Hingga Minggu (6/9/2026), tepatnya pada pukul 04.40 WIB, erupsi masih terjadi.

Berdasarkan pantauan Badan Geologi Kementerian ESDM, tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. 

Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini pun menyerupai i 'lava fountain' atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava.  

Akibat erupsi, dilaporkan terdengar suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. 

Seperti terdengar hingga wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung.

Hingga kini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). 

Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai dengan lontaran batu pijar.

Perlu diketahui Gunung Anak Krakatau merupakan gunung aktif tipe A yang berada di di perairan Selat Sunda.

Gunung api Tipe A adalah gunung berapi aktif yang mempunyai catatan sejarah letusan magmatik sekurang-kurangnya satu kali sejak tahun 1600 Masehi hingga sekarang.

Lantas bagaimanakah catatan sejarah tentang erupsi Gunung Anak Krakatau ini?

Baca juga: Waspadai Bahaya Debu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau, PDPI Jakarta Imbau Warga Gunakan Masker N95

Catatan Sejarah Erupsi Gunung Anak Krakatau

LAMPUNG SELATAN- Kondisi Gunung Anak Krakatau saat mengeluarkan hembusan asap di Pulau Sebesi, Rajabasa, Lampung Selatan, Selasa (19/4/2022). 
Berdasarkan data MAGMA Indonesia (Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia) Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas, dengan mengeluarkan 7 kali erupsi selama bulan April 2022.(Tribunlampung.co.id/Deni Saputra)
LAMPUNG SELATAN- Kondisi Gunung Anak Krakatau saat mengeluarkan hembusan asap di Pulau Sebesi, Rajabasa, Lampung Selatan, Selasa (19/4/2022). Berdasarkan data MAGMA Indonesia (Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia) Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas, dengan mengeluarkan 7 kali erupsi selama bulan April 2022.(Tribunlampung.co.id/Deni Saputra) (Tribunlampung.co.id/Deni Saputra)

Melansir laman resmi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau pernah mengalami erupsi besar hingga menyebabkan tsunami, di antaranya terjadi pada tahun 1883.

Selain itu, pada 22 Desember 2018 juga pernah terjadi goncangan gempa bumi, hingga memicu erupsi Anak Krakatau.

Akibatnya, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau  menyebabkan tsunami di kawasan Selat Sunda.

Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunungapi Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. 

Jeda erupsi cukup lama berlangsung hingga kembali menghasilkan erupsi tanggal 2 Juli 2026.

Baca juga: Kronologi Erupsi Anak Krakatau 5-6 September: Menyerupai Lava Fountain, Abu Vulkanik sampai Bogor

Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). 

Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026. 

Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh.

Berdasarkan hasil evaluasi Badan Geologi, hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. 

Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.

(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.