Radin Inten II Ditutup Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Diperkirakan Dibuka Lagi Pukul 14.00 WIB
taryono September 06, 2026 12:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Bandara Radin Inten II Lampung diperkirakan kembali dibuka pada pukul 14.00 WIB, Minggu (6/9/2026), setelah penutupan sementara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).

Baca juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Meluas, BMKG Imbau Warga Waspada

AirNav Indonesia memperpanjang penutupan sementara Bandara Radin Inten II melalui penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) B1125/26 (NOTAMR B1124/26).

Dalam NOTAM tersebut, penutupan Bandara Radin Inten II berlaku mulai pukul 09.55 WIB dan diestimasikan dibuka kembali pada pukul 14.00 WIB.

EVP Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro, mengatakan pembaruan informasi aeronautika dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi ruang udara dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"AirNav Indonesia terus memantau perkembangan kondisi ruang udara dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pembaruan informasi aeronautika dilakukan secara berkala sesuai perkembangan kondisi terkini untuk mendukung keselamatan penerbangan," ujar Hermana dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunlampung.co.id, Minggu.

Selain Bandara Radin Inten II, AirNav Indonesia juga memperpanjang penutupan sementara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (WIII) dan Bandara Halim Perdanakusuma (WIHH).

Bandara Internasional Soekarno-Hatta masih berstatus closed berdasarkan NOTAM A3346/26 (NOTAMR A3344/26). Penutupan berlaku mulai pukul 08.36 WIB dan diperkirakan dibuka kembali pada pukul 13.30 WIB.

Sementara Bandara Halim Perdanakusuma diperpanjang penutupannya melalui NOTAM A3347/26 (NOTAMR A3345/26). Penutupan berlaku sejak pukul 09.49 WIB dengan estimasi dibuka kembali pukul 14.00 WIB.

Hermana menegaskan, AirNav Indonesia melalui Indonesia Network Management Center (INMC) terus memantau kondisi ruang udara dan perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"AirNav Indonesia juga terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan penerbangan untuk memastikan informasi terkait kondisi ruang udara dan pelayanan navigasi penerbangan dapat tersampaikan secara tepat waktu," katanya.

AirNav Indonesia melakukan pembaruan informasi aeronautika secara berkala mengikuti perkembangan kondisi terkini. 

Hal tersebut dilakukan untuk mendukung keselamatan penerbangan serta memastikan seluruh pihak terkait memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi ruang udara.

Status penutupan dan estimasi pembukaan kembali bandara dapat berubah mengikuti hasil pemantauan terhadap kondisi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

6 Penerbangan Terdampak

Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada sejumlah penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Radin Inten II, Lampung, Minggu (6/9/2026).

Sebanyak enam penerbangan mengalami penyesuaian maupun pembatalan akibat sebaran abu vulkanik yang berdampak pada jalur penerbangan serta operasional Bandara Internasional Radin Inten II.

General Manager Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan penumpang dan kru pesawat.

"Penyesuaian dan pembatalan penerbangan ini dilakukan guna menjaga keselamatan baik penumpang maupun kru pesawat," kata Kiki dalam keterangan resmi yang diterima Tribun Lampung, Minggu (6/9/2026), sekitar pukul 08.30 WIB.

Lima penerbangan mengalami pembatalan. Rinciannya, Citilink Indonesia 904 dan 905 rute Cengkareng (CGK)-Lampung (TKG), Indonesia AirAsia 178 rute Lampung (TKG)-Jakarta (CGK), Indonesia AirAsia 179 rute Cengkareng (CGK)-Lampung (TKG), serta Lion Air 241 rute Cengkareng (CGK)-Lampung (TKG).

Sementara itu, satu penerbangan mengalami penyesuaian, yakni Garuda Indonesia 073 dengan rute Lampung (TKG)-Jakarta (CGK).

Kiki mengatakan, tim operasional Bandara Internasional Radin Inten II telah berkoordinasi dengan pihak maskapai dan instansi terkait untuk menangani penumpang yang terdampak penyesuaian maupun pembatalan penerbangan.

"Tim operasional Bandara Internasional Radin Inten II telah berkoordinasi dengan pihak maskapai dan instansi terkait guna memastikan penanganan terhadap penumpang yang terdampak penyesuaian maupun pembatalan penerbangan," ujarnya.

Selain itu, pihak bandara secara rutin memperbarui informasi terkait jadwal keberangkatan dan kedatangan penerbangan yang terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Bagi masyarakat yang akan bepergian melalui Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki mengimbau agar terlebih dahulu memantau jadwal penerbangan dan berkoordinasi dengan pihak maskapai.

"Bagi masyarakat yang akan bepergian melalui Bandara Internasional Radin Inten II diimbau untuk memantau jadwal penerbangannya dan berkoordinasi dengan pihak maskapai guna memastikan jadwal keberangkatannya," kata Kiki.

Manajemen InJourney Airports Bandara Internasional Radin Inten II juga terus bersinergi dengan seluruh stakeholder bandara untuk memberikan pelayanan kepada pengguna jasa selama kondisi tersebut berlangsung.

Erupsi GAK Masih Berlangsung

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) malam.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, aktivitas erupsi yang terjadi saat ini masih dihitung sebagai satu kali kejadian.

Erupsi tersebut mulai tercatat pada pukul 12.18 WIB dan berlangsung terus-menerus tanpa jeda hingga Sabtu malam.

"Erupsi yang terjadi saat ini masih dihitung satu kali kejadian karena berlangsung terus-menerus tanpa jeda sejak pukul 12.18 WIB," kata Suwarno, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Suwarno, erupsi baru akan dicatat sebagai kejadian berbeda apabila letusan sebelumnya telah berhenti sepenuhnya, kemudian terdapat jeda sebelum kembali terjadi letusan.

"Kalau erupsi sebelumnya sudah berhenti total, kemudian ada jeda dan terjadi letusan lagi, itu baru dihitung sebagai kejadian berikutnya," jelasnya.

Berdasarkan hasil pemantauan petugas, kolom abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau diperkirakan mencapai sekitar 150 meter di atas puncak gunung.

Material abu tersebut terbawa angin ke arah barat laut.

"Kolom abu kurang lebih 150 meter dan terbawa angin ke arah barat laut," ujarnya.

Sebaran abu vulkanik dilaporkan telah mencapai sejumlah wilayah di Lampung, di antaranya kawasan Tanjung Karang, Bandar Lampung, hingga Tanggamus.

Warga di sejumlah permukiman di wilayah terdampak juga melaporkan adanya paparan debu vulkanik yang diduga berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kondisi ini menunjukkan material erupsi GAK tidak hanya terpantau di sekitar kawasan gunung, tetapi juga mulai terbawa angin hingga ke sejumlah wilayah daratan Lampung.

Petugas pemantauan masih terus mengamati perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk perubahan tinggi kolom abu dan arah sebaran material vulkanik.

(Tribunlampung.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.