Laporan Kontributor Kuningan Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Sebanyak 200 unit becak listrik tahap pertama diberikan khusus bagi warga di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat berusia 55 tahun ke atas.
"Bantuan ini merupakan program pemberdayaan masyarakat yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN)," ungkap Anggota DPR RI, H. Rokhmat Ardiyan (HRA) saat menyerahkan bantuan unit becak listrik, Sabtu (5/9/2026).
HRA yang juga Pengusaha Besar di Kuningan ini menjelaskan bantuan becak listrik adalah program pemerintah pusat sebagai wujud perhatian Presiden Prabowo bagi warga lanjut usia yang masih berkemampuan dan berkeinginan bekerja mandiri.
"Kuota untuk Kuningan tahap pertama 200 unit becak listrik. Pemberian ini sebagai program kasih sayang Pak Prabowo di seluruh Indonesia melalui Yayasan Solidaritas Nasional," ujar politisi Partai Gerindra tersebut.
HRA mengaku becak listrik tidak hanya sebagai sarana angkut, tetapi dapat dimanfaatkan untuk usaha berjualan keliling.
Hal ini mendukung aktivitas ekonomi kawasan wisata termasuk alat transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi.
Baca juga: Persib vs PSM, Viking Alengka Imbau Maung Bandung Tak Anggap Enteng Lawan
"Tujuan pemberian becak listrik terhadap warga, tidak lain agar penerima tetap produktif, mandiri, dan berkontribusi bagi perekonomian keluarga maupun lingkungan. Kemudian, becak listrik dilarang diperjualbelikan dan harus dimanfaatkan sendiri oleh penerima," katanya.
Sementara, Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar menyampaikan apresiasi mendalam. "Terima kasih Pak Prabowo. Perhatian ini kami harap terus berlanjut," katanya.
Sementara Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani menyambut baik program ini, terutama karena menargetkan warga usia lanjut agar tetap mandiri menafkahi keluarga.
"Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan pengawasan serta pendampingan di lapangan. Pastikan bantuan ini dimanfaatkan benar-benar untuk produktivitas," ujar Tuti.
Wabup Tuti berharap bantuan becak listrik tidak berhenti sebagai barang bantuan saja, melainkan berkembang menjadi sarana kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. (*)