- Protes keras disampaikan orang tua siswa kepada Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Mayjen TNI Trenggono, dan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Ribka Haluk, saat keduanya meninjau korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di RSUD Yowari, Kamis (6/8/2026).
Protes tersebut disampaikan Yeremias Demetouw, orang tua Mathias Demetouw, siswa kelas VI SD YPK Wambena, Distrik Depapre, yang harus menjalani perawatan selama tiga hari setelah mengonsumsi menu MBG di sekolahnya.
Yeremias mendesak pemerintah menghentikan program MBG, khususnya di wilayah Tanah Merah, Kabupaten Jayapura, setelah ratusan warga mengalami keluhan kesehatan.
"Jujur saya sampaikan, setelah memakan tempe, telur, dan buah semangka, anak-anak kita menderita. Kami orang tua harus menjaga mereka hampir tiga hari di sini. Saya minta program MBG di Tanah Merah ditutup, jangan ada lagi yang menjalankan," ujar Yeremias dengan nada emosional.
Ia menilai anggaran besar yang dialokasikan untuk program MBG sebaiknya dialihkan untuk mendanai pendidikan gratis mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi.
"Kekayaan alam di tanah Papua ini sangat melimpah, Freeport menjadi saksinya. Mengapa pemerintah tidak bisa membuat sekolah gratis saja? Kami minta anggaran MBG ini dialihkan ke biaya pendidikan gratis ketimbang program yang justru membuat anak-anak kami menderita," tegasnya.
Penolakan terhadap program MBG juga disampaikan Yokbeth Suwae, warga Kampung Kendate, yang saat itu menemani cucunya, Sarah Wally, balita berusia satu tahun dua bulan, menjalani perawatan di rumah sakit.
Yokbeth menceritakan keluarganya harus menyeberangi laut menggunakan perahu motor pada malam hari menuju Puskesmas Depapre setelah cucunya mengalami keluhan kesehatan.
Karena jumlah pasien membludak, proses rujukan ke RSUD Yowari dilakukan secara bergelombang menggunakan kendaraan operasional.
Gejala kesehatan tersebut tidak hanya dialami anak-anak, tetapi juga sejumlah kader Posyandu yang turut mengonsumsi makanan tersebut.
Bahkan, Ketua Kader Posyandu dilaporkan langsung terjatuh setelah mengonsumsi sajian tersebut.
Yokbeth mengaku khawatir kejadian serupa kembali terjadi apabila program MBG tetap dilanjutkan.
"Kami takut makan lagi, lebih baik tidak usah lagi [hentikan] MBG ini," katanya.
Perwakilan orang tua korban juga meminta Bupati Jayapura agar program MBG di wilayah tersebut segera dihentikan guna mencegah munculnya korban baru.
"Sekarang ada bukti [keracunan] kami ingin ini [MBG] berhenti saja," kata seorang ayah saat mendampingi anaknya kepada Bupati Jayapura.
Menanggapi desakan tersebut, Wamendagri Ribka Haluk meminta para orang tua bersabar dan memprioritaskan pemulihan kesehatan anak-anak mereka.
"Saat ini fokus utama kita adalah penanganan medis langsung agar kondisi anak-anak dapat berangsur pulih," ujar Ribka saat menenangkan Yeremias di RSUD Yowari.
Sementara itu, Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono menjelaskan bahwa program MBG memiliki dampak multidimensi, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
Menurutnya, program tersebut juga dirancang untuk menyerap tenaga kerja lokal, memberdayakan UMKM desa, serta menggerakkan perekonomian daerah melalui penyerapan hasil pertanian dan peternakan lokal.
Meski demikian, BGN berjanji melakukan evaluasi mendalam dan memperbaiki strategi penyaluran MBG menyusul trauma serta kekhawatiran masyarakat.
"Ke depan program ini akan kita pertajam (refocusing) agar lebih tepat sasaran. Sekolah yang dinilai sudah mampu secara ekonomi mungkin tidak lagi menjadi prioritas utama. Saat ini jumlah korban yang dirawat sudah jauh berkurang dan membaik, tetapi observasi medis akan terus kita lakukan," kata Trenggono.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat sekitar 527 orang menjadi korban dugaan keracunan makanan di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.
Ratusan korban tersebut terdiri atas balita, anak-anak, hingga orang dewasa yang mengalami keluhan setelah diduga mengonsumsi menu MBG.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Berry I.S. Wopari, mengatakan angka tersebut merupakan data kumulatif dari pos pelayanan kesehatan di Depapre.
"Secara kumulatif dari hari pertama hingga masih dalam perawatan 527 mulai yang rawat jalan mulai dari balita, anak-anak, sampai lansia," ujarnya. (*)
Program: Saksi Kata
Sumber: Tribun Papua
Editor: Akmal Khoirul Habib
#MBG #MakanBergiziGratis #KeracunanMBG #Jayapura #Papua #Depapre #RSUDYowari #SiswaKeracunan #OrangTuaSiswa #SaksiKata