PVMBG Sebut Aktivitas Anak Krakatau Menurun, Erupsi Susulan Masih Mungkin Terjadi
Glery Lazuardi September 07, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menurun pada Minggu (6/9/2026). Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menyatakan potensi erupsi susulan masih ada.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM Rita Susilawati mengatakan penurunan aktivitas berdasarkan hasil pemantauan tidak berarti aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah berhenti.

"Memang saat ini alat pemantauan kami memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun, tetapi menurunnya itu bukan berarti akan berhenti aktivitasnya. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi," kata Rita Susilawati usai meninjau PGA Anak Krakatau di Serang, seperti dilihat dari Kompas.tv, pada Minggu (6/9).

Rita mengatakan PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau selama 24 jam. Hasil pemantauan akan diteruskan kepada pemerintah daerah dan pihak terkait, terutama apabila diperlukan perubahan rekomendasi penanganan.

Menurut Rita, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dipengaruhi arah embusan angin yang dapat berubah dari hari ke hari. Pada Minggu (6/9), sebaran abu terpantau mengarah ke barat, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.

Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. PVMBG merekomendasikan masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah.

"Kapan erupsinya secara persis itu tidak bisa kita ketahui. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan pemantauan dan membaca tanda-tandanya," kata Rita Susilawati.

Baca juga: Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Cerita Catrine Tertahan di Changi Jelang Persalinan

Dua Klaster Sebaran Abu Vulkanik

Berdasarkan data PVMBG, Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, dan analisis citra RGB Himawari-9 hingga Minggu (6/9) pukul 14.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Klaster pertama berada dari permukaan hingga ketinggian 12.000 kaki. Sebaran abu pada klaster ini terpantau bergerak ke arah timur dan selatan, mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Sementara itu, klaster kedua berada dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Sebaran abu terpantau bergerak ke arah barat daya dan barat laut, mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Sembilan Bandara Ditutup Sementara

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional penerbangan di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan BMKG Aviation pada Minggu (6/9/2026) malam, sembilan bandara berstatus ditutup sementara akibat terdampak sebaran abu vulkanik.

Sembilan bandara tersebut meliputi:

  • Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Tangerang, Banten;
  • Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Jakarta;
  • Bandara Radin Inten II (TKG), Lampung;
  • Bandara Budiarto (RTO), Curug, Tangerang, Banten;
  • Bandara Pondok Cabe (PCB), Tangerang Selatan, Banten;
  • Bandara Husein Sastranegara (BDO), Bandung, Jawa Barat;
  • Bandara Taufik Kiemas (TFY), Pesisir Barat, Lampung;
  • Bandara Atung Bungsu (PXA), Pagar Alam, Sumatera Selatan; dan
  • Bandara Wunopito Lembata (LWE), Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Status penutupan bandara bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti pergerakan abu vulkanik, kondisi ruang udara, serta hasil pemeriksaan di masing-masing bandara.

Penutupan dilakukan untuk menjaga keselamatan penerbangan karena abu vulkanik di ruang udara dapat membahayakan operasional pesawat.

Penutupan Bandara Dapat Berubah

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sebelumnya melaporkan sejumlah bandara memperpanjang penutupan operasional pada Minggu (6/9/2026).

Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, beberapa kali memperpanjang waktu penutupan setelah hasil paper test menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di area bandara. Berdasarkan NOTAM, bandara tersebut sempat ditutup hingga pukul 09.30 WIB sebelum kembali diperpanjang.

Bandara Halim Perdanakusuma dan Radin Inten II juga memperpanjang penutupan operasional. Sementara itu, Bandara Pondok Cabe mulai ditutup sementara.

Pembukaan kembali bandara akan ditentukan berdasarkan kondisi ruang udara dan area bandara setelah dinyatakan aman untuk penerbangan.

373 Penerbangan Terdampak

Dampak sebaran abu vulkanik tidak hanya terjadi di bandara yang ditutup, tetapi juga memengaruhi jadwal penerbangan lainnya.

Ditjen Perhubungan Udara mencatat 373 penerbangan terdampak berdasarkan pemantauan pada Minggu (6/9/2026) pukul 10.35 WIB.

Sebelumnya, penutupan Bandara Soekarno-Hatta telah berdampak terhadap 209 pergerakan penerbangan dan 22.798 penumpang dalam periode penutupan tertentu.

Gangguan operasional tersebut juga berdampak terhadap rotasi pesawat, jadwal penerbangan berikutnya, dan kapasitas terminal.

Kementerian Perhubungan menyatakan penyesuaian operasional dilakukan secara dinamis berdasarkan kondisi sebaran abu vulkanik dan hasil pemantauan di lapangan.

Abu Vulkanik Terpantau hingga 14,6 Kilometer

Sebaran abu vulkanik menjadi perhatian dalam operasional penerbangan karena dapat mengganggu kinerja mesin dan komponen pesawat.

Berdasarkan pemantauan satelit Himawari dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, sebaran abu Gunung Anak Krakatau terpantau mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut.

Arah sebaran abu terpantau dominan menuju barat hingga barat daya.

Abu vulkanik yang masuk ke mesin pesawat dapat mengganggu kinerja mesin maupun komponen pesawat. Karena itu, operasional penerbangan di wilayah terdampak disesuaikan dengan kondisi ruang udara.

Baca juga: Mendagri Perintahkan Pemda Bagikan Masker ke Warga Terdampak Abu Vulkanik Krakatau

Erupsi Masih Berlangsung

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan masih mengalami aktivitas erupsi. Erupsi menerus mulai teramati sejak Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB.

Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh atau dentuman dan fenomena lava fountain. PVMBG juga mencatat aktivitas letusan selama periode pengamatan, sementara pendaran merah dari aktivitas erupsi teramati secara terus-menerus.

Sebaran abu vulkanik juga telah mencapai sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jakarta.

Dengan pergerakan abu vulkanik dan status bandara yang dapat berubah, calon penumpang diimbau memastikan status penerbangannya sebelum menuju bandara.

Ditjen Perhubungan Udara meminta masyarakat memantau informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara.

Maskapai juga diminta memberikan informasi terkait perubahan jadwal dan memenuhi hak penumpang yang terdampak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.