Ini Luasan Lahan TWA Batuputih Kota Bitung Sulut yang Hangus Terbakar
Indry Panigoro September 07, 2026 01:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Kebakaran yang melanda kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (5/9/2026), menghanguskan lebih dari 60 hektare lahan.

Data sementara tersebut disampaikan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara berdasarkan hasil pemantauan di kawasan konservasi hingga Minggu (6/9/2026).

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulut Hendrieks Rundengan mengatakan, luasan tersebut masih bersifat sementara.

BKSDA akan melakukan pemetaan lebih presisi untuk memastikan total area yang terdampak kebakaran.

TWA Batuputih berjarak sekitar 62 Km dari Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, Sulut.

Kebakaran yang terjadi pada Sabtu (5/9/2026) menghanguskan lebih dari 60 hektare area TWA Batuputih.

Luasan tersebut belum termasuk area yang terdampak kebakaran pada beberapa minggu sebelumnya, yang merambat ke arah kawasan Cagar Alam.

"Total luas kumulatif, jika digabungkan dengan kebakaran pada minggu sebelumnya (yang mengarah ke Cagar Alam), total luas area terdampak diperkirakan mencapai 100 hingga 200 hektar," kata Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulut Hendrieks Rundengan saat diwawancarai wartawan di depan Kantor Resor Taman Wisata alam Batuputih, Minggu (6/9/2026) sore.

Saat wawancara berlangsung cuaca cerah dan berangin.

Wawancara tersebut berlangsung saat Hendrieks bersama jajarannya dan Polisi Kehutanan hendak hendak melakukan mapping up pasca kebakaran.

Lanjutnya setelah dilakukan mapping up, BKSDA akan menerjunkan tim khusus untuk melakukan pemetaan (mapping) presisi guna mengukur total luas pasti yang terdampak kebakaran.

Ditanya terkait satwa yang terdampak, hingga saat ini pihaknya belum ditemukan atau dilaporkan adanya satwa liar yang menjadi korban.

Peristiwa kebakaran di TWA Batuputih pemadaman dilakukan secara kolaborasi oleh petugas BKSDA Sulawesi Utara dibantu oleh masyarakat Kelurahan Batuputih, termasuk kelompok guide, tokoh masyarakat, personel Manggala Agni, serta instansi pendukung lainnya ada BPBD, Damkar Kota Bitung TNI Polri.

Hingga Minggu sore, kondisi hutan TWA Batuputih yang terbakar titik api utama sudah tidak ada, tersisa bara api pada tunggul-tunggul kayu kering dan pohon yang roboh. 

'Tim BKSDA melakukan prosedur moping up (pembersihan bara api) untuk memastikan tidak ada potensi timbulnya titik api baru," kata dia.

Sembari menambahkan penyebab dan kronologi kebakaran, berdasarkan Informasi dari petugas dan masyarakat menyebutkan, sumber api berasal dari kebakaran lahan/kebun milik masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan TWA dan Cagar Alam.

Lalu ada faktor cuaca angin kencang memicu terjadinya loncat api (spotting) hingga meluas masuk ke area TWA, khususnya di sekitar lokasi camping ground serta area persemaian permanen (pembibitan).

Ditambah lagi karakteristik vegetasi area sekitar lokasi dominan ditumbuhi ilalang/alang-alang yang kering, sehingga mempercepat penyerakan api.

"Meman saat pemadaman ada kendala, dimana kepulan asap tebal dan angin kencang menjadi hambatan utama pemadaman karena mengganggu penglihatan dan pernapasan tim relawan," jelasnya.

Dalam wawancara tersebut ia juga menerangkan terkait penutupan sementara kawasan wisata TWA Batuputih, sejak tanggal 31 Agustus 2026.

Berdasarkan evaluasi penutupan kawasan sebenarnya direncanakan dicabut karena kondisi sempat kondusif hingga hari Jumat kemarin.

"Dan hari ini akan dikeluarkan pengumuman pencabutan penutupan. Namun, akibat munculnya kebakaran baru di area kebun warga yang merambat ke TWA, pencabutan penutupan terpaksa ditunda.BKSDA terus memantau situasi hingga hari Senin besok," kata dia.

Menurutnya selain ancaman api, angin kencang dan potensi pohon roboh akibat akar yang hangus terbakar menjadi pertimbangan utama keselamatan pengunjung.

Dengan kejadian ini BKSD Sulut imbauan kepada Masyarakat lewat berkoordinasi dengan Lurah Batuputih Bawah untuk mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat cuaca kering dan angin kencang sangat berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Pantauan di lapangan, lahan yang hanya terbakar mulai kita jumpai beberapa meter dari loket masuk TWA Batuputih, diantara loket dan pos 1, kemudian di jalan menujut ke camping ground hingga ke pos 2 TWA Batuputih. (Crz)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.