Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Cerita Catrine Tertahan di Changi Jelang Persalinan
Glery Lazuardi September 07, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Rencana Catrine Carina (31) untuk kembali ke Indonesia dan melahirkan di negara tersebut tertunda setelah penerbangannya dari Bandara Changi, Singapura, dibatalkan akibat gangguan penerbangan menyusul aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026).

Dilansir Channel News Asia (CNA), Catrine yang tengah hamil tujuh bulan sedianya terbang ke Indonesia bersama suaminya, Weng Ming Xing (29). Mereka baru mengetahui penerbangan yang akan ditumpangi terdampak pembatalan ketika bersiap menaiki pesawat di Bandara Changi.

Pasangan tersebut merupakan bagian dari penumpang yang terdampak pembatalan sedikitnya 19 penerbangan Singapore Airlines (SIA). Gangguan penerbangan terjadi setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional di sejumlah bandara di Indonesia.

Gunung Anak Krakatau berjarak sekitar 180 kilometer dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Bandara tersebut merupakan salah satu simpul utama penerbangan domestik dan internasional di Indonesia.

Penangguhan penerbangan di sejumlah bandara awalnya diberlakukan hingga pukul 05.30 WIB atau 06.30 waktu Singapura, tetapi kemudian diperpanjang.

Berdasarkan data penerbangan pada Minggu pukul 01.30 hingga 13.30, sebanyak 301 penerbangan terdampak, baik berupa pembatalan, penundaan, pengalihan ke bandara lain, maupun gangguan operasional lainnya. Dari jumlah tersebut, 233 merupakan penerbangan domestik, 58 penerbangan internasional, dan 10 penerbangan kargo.

Operasional penerbangan kemudian dijadwalkan kembali pada pukul 22.30 waktu Singapura.

Rencana Persalinan Terganggu

Pembatalan penerbangan membuat rencana perjalanan Catrine dan suaminya menjadi tidak pasti. Catrine berencana tinggal di Indonesia hingga tahun depan setelah melahirkan. Sementara itu, Weng yang bekerja sebagai koki dijadwalkan kembali ke Singapura sekitar satu pekan setelah keberangkatan.

Kondisi tersebut membuat pasangan itu harus menyesuaikan kembali rencana perjalanan mereka dengan perkembangan operasional penerbangan.

Di dekat konter bantuan SIA di Terminal 2 Bandara Changi, Catrine mengatakan kemungkinan perlu kembali memperoleh surat keterangan medis yang menyatakan dirinya layak terbang, tergantung jadwal penerbangan pengganti yang tersedia.

Penumpang hamil dapat diminta menunjukkan surat keterangan medis mengenai kelayakan terbang yang diterbitkan dalam jangka waktu tertentu sebelum keberangkatan.

"Kami sebelumnya berpikir bahwa penerbangan selama dua jam seharusnya tidak menjadi masalah bagi saya. Tiba-tiba kejadian ini terjadi," kata Catrine, seperti dikutip CNA.

Weng mengatakan mereka tetap menuju bandara meski telah mengetahui adanya gangguan penerbangan akibat aktivitas vulkanik. Menurut dia, ketika memeriksa situs SIA, belum terdapat informasi yang menunjukkan penerbangan mereka dibatalkan.

Weng kemudian menyadari bahwa SIA telah mengirimkan pesan singkat mengenai perubahan penerbangan tersebut. Namun, pesan itu terlewat karena mereka terburu-buru berangkat ke bandara.

Sejumlah penumpang lain juga mengatakan kepada CNA bahwa mereka tidak menerima informasi dari maskapai atau mendapatkan informasi yang berbeda melalui aplikasi SIA.

Baca juga: Imbas Abu Krakatau, Mendagri Izinkan Pemda Terdampak Berlakukan WFH ASN Hingga 75 Persen

Delapan Bandara Terdampak

Kementerian Perhubungan menyatakan terdapat delapan bandara di Indonesia yang terdampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Gangguan tersebut berdampak terhadap penerbangan dan penumpang dalam jumlah besar.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penutupan delapan bandara terdampak diperpanjang hingga pukul 24.00 WIB. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk memantau dampak aktivitas vulkanik terhadap operasional penerbangan.

"Siang tadi kondisi debu dipengaruhi angin yang mengarah ke barat. Sekarang, berdasarkan informasi BMKG, angin mengarah ke timur dengan kecepatan lima knot pada ketinggian 15.000 kaki," kata Dudy dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).

"Berdasarkan informasi tersebut dan hasil koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan penerbangan, kami memutuskan delapan bandara tersebut ditutup sampai pukul 24.00 WIB,".

Delapan bandara yang terdampak adalah:

  • Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten;
  • Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta;
  • Bandara Radin Inten II, Lampung;
  • Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat;
  • Bandara Budiarto Curug, Tangerang, Banten;
  • Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten;
  • Bandara Taufik Kiemas, Pesisir Barat, Lampung; dan
  • Bandara Atung Bungsu, Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Hingga Minggu, Kementerian Perhubungan mencatat 1.558 penerbangan mengalami penundaan dengan sekitar 170.000 penumpang terdampak.

Baca juga: Mendagri Perintahkan Pemda Bagikan Masker ke Warga Terdampak Abu Vulkanik Krakatau

Dudy mengatakan hak penumpang yang terdampak tetap harus dipenuhi oleh maskapai sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Maskapai juga diwajibkan memberikan informasi mengenai perubahan status penerbangan serta penanganan yang tersedia bagi penumpang.

Pemerintah juga menyiapkan sejumlah bandara alternatif, termasuk Bandara Kertajati, Bandara Juanda, Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), serta bandara di Semarang dan Solo.

Bagi penerbangan yang dialihkan ke bandara alternatif, penumpang dapat memperoleh transportasi lanjutan melalui jalur darat, termasuk bus dan kereta api, sesuai pengaturan yang dilakukan oleh maskapai dan pihak terkait.

"Transportasi alternatif disediakan secara gratis. Bandara yang akan digunakan akan dikoordinasikan oleh InJourney bersama Angkasa Pura dan maskapai. Penumpang akan mendapatkan informasi dari maskapai apabila penerbangannya dialihkan untuk lepas landas atau mendarat di bandara alternatif," ujar Dudy.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.