Angin Kencang Picu Gelombang hingga 2,5 Meter di 4 Perairan Sulut Hari Ini, Nelayan Diminta Waspada
Indry Panigoro September 07, 2026 04:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kondisi laut di sejumlah wilayah Sulawesi Utara (Sulut) perlu mendapat perhatian dalam beberapa hari ke depan.

Gelombang dengan ketinggian hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di empat wilayah perairan Sulut.

Kondisi ini berkaitan dengan pola angin yang cukup kuat di wilayah perairan.

Stasiun Meteorologi Maritim Bitung Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat angin secara umum bertiup dari arah tenggara hingga selatan dengan kecepatan rata-rata 8–20 knots.

Perairan Minahasa Utara dan Kepulauan Sitaro menjadi wilayah yang berpeluang mengalami kecepatan angin lebih tinggi.

Kondisi tersebut dapat mendorong peningkatan tinggi gelombang di sekitarnya.

BMKG memperkirakan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter atau kategori sedang berpeluang terjadi di:

  • Perairan Minahasa Utara
  • Perairan Kepulauan Sitaro
  • Perairan Kepulauan Sangihe
  • Perairan Kepulauan Talaud

Empat wilayah perairan yang masuk dalam peringatan BMKG berada pada jalur aktivitas masyarakat Sulawesi Utara, dengan jarak dan waktu tempuh yang berbeda dari Kota Manado.

Perairan Minahasa Utara merupakan yang paling dekat. Airmadidi, ibu kota Minahasa Utara, berjarak sekitar 27 kilometer dari Manado. Wilayah ini terhubung melalui jalur darat sehingga relatif mudah dijangkau dari pusat kota.

Sementara itu, akses menuju perairan Sitaro, Sangihe dan Talaud bergantung pada jalur laut maupun udara. Ondong Siau di Sitaro berjarak sekitar 146 kilometer dari Manado, sedangkan Tahuna di Sangihe sekitar 244 kilometer.

Untuk Talaud, Melonguane menjadi yang paling jauh dengan jarak sekitar 345 kilometer dari Manado.

Jarak tersebut terasa berbeda ketika ditempuh melalui transportasi laut. Perjalanan Manado-Tahuna, misalnya, dapat memakan waktu sekitar enam hingga sembilan jam, tergantung jenis kapal yang digunakan.

Sementara perjalanan laut Manado-Melonguane dapat mencapai sekitar 15 jam.

Kondisi itu membuat informasi gelombang menjadi penting bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Sebab, perjalanan yang berlangsung berjam-jam di laut sangat bergantung pada kondisi angin dan gelombang, terutama ketika cuaca sedang kurang bersahabat.

Peringatan dini tersebut berlaku mulai Senin (7/9/2026) pukul 08.00 WITA hingga Kamis (10/9/2026) pukul 08.00 WITA.

Kondisi ini perlu diperhatikan terutama oleh masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada laut.

Nelayan, operator kapal, hingga pengguna jasa transportasi laut perlu memperhitungkan kondisi angin dan gelombang sebelum beraktivitas atau melakukan perjalanan.

Apalagi, empat wilayah yang masuk dalam peringatan merupakan kawasan kepulauan dan pesisir yang memiliki aktivitas pelayaran antarpulau.

Sitaro, Sangihe, dan Talaud, misalnya, memiliki mobilitas masyarakat yang banyak bergantung pada transportasi laut untuk menghubungkan wilayah kepulauan dengan pusat-pusat aktivitas di Sulawesi Utara.

Karena itu, kondisi gelombang tidak hanya menjadi informasi cuaca, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan perjalanan dan aktivitas masyarakat di laut.

BMKG mengimbau pengguna jasa transportasi laut dan nelayan untuk terus memperhatikan perkembangan cuaca serta kondisi gelombang selama periode peringatan.

Kewaspadaan lebih diperlukan di wilayah yang berpeluang mengalami angin lebih kencang, terutama Perairan Minahasa Utara dan Kepulauan Sitaro, karena peningkatan kecepatan angin dapat berpengaruh terhadap kondisi gelombang laut. (Ara/Ind)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.