TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengungkap alasan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan untuk mengatasi kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Diketahui per Minggu 6 September 2026, BMKG mencatat terdapat 2.683 titik panas yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat (Kalbar).
Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni mencapai 1.919 titik.
Hal itu membuat Pemkab Ketapang mengajukan OMC ke pemerintah pusat.
Bupati Alexander mengatakan berdasarkan data BMKG, saat ini belum terdapat bibit awan yang dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan hujan buatan.
“Saya juga sudah menyurati kepada BNPB dan meminta pemerintah pusat termasuk gubernur kita melakukan operasi modifikasi cuaca atau OMC, hujan buatan,” kata Alex saat rapat daring bersama jajarannya se-Kabupaten Ketapang, Jumat 4 September 2026.
Menurut Alex, keberadaan bibit awan menjadi salah satu syarat utama dalam pelaksanaan hujan buatan.
“Namun syarat hujan buatan itu adanya bibit-bibit awan,” ujarnya.
• Karhutla Ketapang Terbesar, Ria Norsan Siagakan Satu Pesawat OMC Bantu Kekuatan Udara
Ia menjelaskan, kondisi angin yang saat ini bertiup dari arah selatan menuju utara turut memengaruhi keberadaan awan di wilayah Ketapang.
“Karena tadi angin bertiup kencang dari selatan ke utara, awan dan bibit-bibit yang ada juga bergeser ke utara,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, wilayah Ketapang bagian selatan disebut hampir tidak memiliki awan yang bisa mendukung pelaksanaan OMC.
“Sehingga di Ketapang ini tidak ada bibit awan,” ujarnya.
Alex mengatakan kondisi tersebut juga menjadi salah satu alasan hujan terjadi di sejumlah daerah Kalimantan Barat (Kalbar), sementara sebagian besar wilayah Ketapang masih mengalami kemarau.
Ia menyebut hujan terjadi di Pontianak, Sambas, Kapuas Hulu hingga Bengkayang.
Sedangkan di Ketapang, hujan disebut hanya terjadi di wilayah Simpang Hulu.
“Kenapa di Pontianak ada hujan, di Sambas ada hujan, di Kapuas Hulu ada hujan, di Bengkayang ada hujan dan di Ketapang itu hujannya hanya di wilayah Simpang Hulu,” katanya.
Menurut Alex, Simpang Hulu berada di bagian utara Ketapang sehingga masih memiliki tutupan awan.
“Simpang Hulu itu adalah wilayah utara, masih ada awan di sana. Kalau di wilayah selatan ini hampir tidak ada awan,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat memahami kondisi tersebut sehingga tidak muncul anggapan pemerintah tidak berupaya mendatangkan hujan untuk membantu mengatasi Karhutla.
“Ini mohon dimaklumi dan disampaikan kepada masyarakat. Kenapa tidak ada hujan buatan? Karena tidak ada bibit awan,” katanya.
Alex menegaskan informasi tersebut berdasarkan data BMKG, bukan sekadar perkiraan dari pemerintah daerah.
“Data BMKG, bukan data saya, sampai hari ini tidak ada bibit awan di Ketapang. Jadi, tidak bisa dilakukan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan,” ujarnya.
Di tengah kondisi cuaca yang masih kering, Ketapang juga masih menghadapi ancaman Karhutla.
Alex mengatakan berdasarkan data BMKG, Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot dan Karhutla tertinggi di Kalbar.
“Hotspot tertinggi dan jumlah Karhutla terbesar di Kalimantan Barat itu adalah di Ketapang. Itu data dari BMKG,” katanya.
• Kenapa Hujan Buatan Belum Bisa Dilakukan di Ketapang? Bupati Alexander Wilyo Ungkap Alasannya
Meski demikian, kualitas udara dan jarak pandang terburuk justru berada di wilayah utara Kalimantan Barat.
Menurut Alex, kondisi tersebut menunjukkan asap dari kebakaran di Ketapang terbawa angin menuju wilayah utara.
“Tetapi jarak pandang dan kualitas udara terburuk ada di arah utara. Artinya apa? Asap dari Ketapang ini ditiup oleh angin ke atas ke utara,” ujarnya.
Alex berharap kondisi cuaca segera berubah dan bibit awan kembali terbentuk di wilayah Ketapang.
Dengan demikian, OMC dapat segera dilakukan untuk membantu penanganan Karhutla yang masih terjadi.
“Mudah-mudahan minggu ini atau minggu depan bibit awan sudah ada. Kita bisa segera melakukan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan,” pungkasnya.
a. Nama Lengkap: Alexander Wilyo
b. Tanggal Lahir: 2 Agustus 1979 (usia 46 tahun per 2025)
c. Tempat Lahir: Ketapang, Kalimantan Barat
d. Pendidikan:
-SMU Santo Yohanes (1997)
-Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN, 2001)
-S2 Ekonomi Pembangunan, Universitas Gadjah Mada (2005)
• Ketapang Berpotensi Bakal Diguyur Hujan di Dua Tanggal Ini
e. Karier Birokrasi:
-Sekcam Matan Hilir Selatan (2006–2008)
-Kasubbag Pengembangan Kinerja (2008)
-Kasubbag Pemerintahan Umum (2009)
-Kabid Ekonomi Bappeda Ketapang (2011)
-Kabag Keuangan Setda Ketapang (2015)
-Kepala BKPAD Ketapang (2017)
-Sekretaris Daerah Ketapang (2021–2024)
f. Karier Politik:
-Terpilih sebagai Bupati Ketapang periode 2025–2030 bersama Wakil Bupati Jamhuri Amir.
-Pasangan ini memenangkan Pilkada 2024 dengan 130.810 suara (53,3 persen), unggul atas dua pasangan pesaing.
(*)