TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - SMP Negeri 1 Pontianak, Jl Jendral Urip Sumoharjo, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) masih menerapkan pembelajaran daring seiring kondisi kualitas udara yang masih berada di kategori Berbahaya.
Hingga 7 September 2026, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh tersebut telah memasuki pekan ke-empat.
Kepala SMPN 1 Pontianak, Kiswanti mengatakan kegiatan belajar mengajar tatap muka baru akan kembali dilaksanakan apabila kualitas udara sudah berada pada kategori sedang.
"Pembelajaran daring diterapkan selama kondisi kualitas udara masih kategori tidak sehat sampai berbahaya. Sampai dengan 7 September sudah masuk pekan keempat pembelajaran masih daring. PTM dilakukan apabila kualitas udara sudah dalam kategori sedang," ujar Kiswanti saat dihubungi, Minggu 6 September 2026.
Menurut Kiswanti, selama pelaksanaan pembelajaran daring terdapat kejenuhan yang dirasakan sebagian murid karena harus belajar dari rumah dan berinteraksi melalui perangkat digital.
Meski demikian, pihak sekolah terus berupaya menghadirkan metode pembelajaran yang lebih bervariasi dan interaktif.
"Selama pelaksanaannya, tentu ada kejenuhan yang dirasakan sebagian murid karena mereka harus belajar dari rumah dan berinteraksi melalui perangkat. Namun, sekolah berupaya mengatasinya dengan pembelajaran yang lebih bervariasi, interaktif, dan tetap memperhatikan kondisi serta kemampuan masing-masing murid," katanya.
Ia menjelaskan, sejumlah kendala juga dihadapi selama pembelajaran daring berlangsung, mulai dari keterbatasan akses internet dan perangkat pada sebagian murid hingga perbedaan kondisi lingkungan belajar di rumah.
"Kendala yang kami hadapi antara lain keterbatasan akses internet dan perangkat pada sebagian murid, kondisi lingkungan belajar di rumah yang beragam, serta tantangan guru dalam memastikan keterlibatan dan pemahaman murid secara optimal," jelas Kiswanti.
• Disdikbud Pontianak Ungkap Hasil Evaluasi Pembelajaran Daring Selama Kabut Asap
Untuk mengurangi beban murid, sekolah menerapkan pembelajaran yang lebih fleksibel dengan durasi 30 menit untuk setiap jam pelajaran.
Menurutnya, pola tersebut juga menjadi upaya sekolah memahami kondisi ekonomi orang tua siswa, terutama bagi keluarga yang masih mengandalkan paket data internet.
"Ini juga sebagai upaya kami memahami kondisi ekonomi orang tua agar lebih hemat penggunaan paket datanya bagi yang tidak punya wifi, dan juga mengurangi intensitas paparan layar yang berlebihan pada anak," tambahnya.
Kiswanti menuturkan sekolah terus menjalin komunikasi dengan orang tua melalui wali kelas, guru mata pelajaran, serta grup paguyuban orang tua guna memastikan proses belajar anak tetap berjalan.
"Sekolah berusaha terus berkoordinasi dengan orang tua melalui wali kelas, guru mata pelajaran, dan grup paguyuban orang tua. Kami libatkan dalam memantau dan mendampingi proses belajar anak di rumah," tuturnya.
Ia mengakui kemampuan orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah berbeda-beda.
Karena itu, sekolah membuka ruang komunikasi untuk membantu menyelesaikan berbagai kendala yang muncul.
"Kami memahami bahwa kemampuan orang tua dalam mendampingi juga berbeda-beda, sehingga sekolah berusaha memberikan ruang komunikasi dan solusi ketika terdapat kendala," katanya.
• Udara Kota Pontianak Masih Berbahaya, Edi Kamtono Belum Pastikan Kapan Sekolah Kembali Normal
Lebih lanjut, Kiswanti menyebut dampak yang paling terasa dari pembelajaran daring adalah berkurangnya interaksi langsung antara guru dan murid sehingga guru lebih sulit memantau perkembangan siswa secara menyeluruh.
"Dampak yang paling terasa adalah berkurangnya interaksi langsung antara guru dan murid. Guru lebih sulit mengamati secara langsung proses, pemahaman, dan kondisi murid," ujarnya.
Meski demikian, pihak sekolah tetap berkomitmen memastikan hak peserta didik untuk memperoleh pendidikan tetap terpenuhi di tengah kondisi kualitas udara yang belum kondusif.
"Namun, dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah memastikan hak anak untuk tetap belajar terpenuhi tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan mereka. Bagi kami, pembelajaran mungkin tidak dapat berjalan sempurna seperti pembelajaran tatap muka, tetapi kami terus berusaha agar tetap bermakna, inklusif, dan sesuai dengan kondisi murid," pungkasnya.
Di sisi lain, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan keputusan untuk membuka kembali sekolah secara normal akan mempertimbangkan perkembangan kondisi udara dalam beberapa hari ke depan.
"Kalau hujan kemarin hari Sabtu, cukup merata. Tapi asap masih tebal dan kondisi udara masih berbahaya. Sehingga kita masih melihat kondisi. Kalau seandainya sudah menurun, sekolah-sekolah akan kita buka kembali normal," ungkap Edi ditemui di GOR Terpadu Ayani, Minggu 6 September 2026.
Menurutnya, kondisi cuaca saat ini masih dipengaruhi kemarau yang cukup tinggi.
Pemerintah juga masih menunggu perkembangan potensi hujan yang diperkirakan terjadi di wilayah Pontianak dan sekitarnya.
"Sementara kalau laporan dari BMKG, kita masih dalam kondisi tinggi ya, kemarauan dan masih belum tahu hujannya yang direncana hujan yang ada," ujarnya.
Sekolah ini berakreditasi A dan mudah diakses melalui jalur utama kota, dengan transportasi umum maupun kendaraan pribadi.
Dari Bundaran Digulis Untan Pontianak, ambil arah lurus ke Jalan Ahmad Yani menuju pusat kota.
Setelah melewati kawasan Ayani Megamall, teruskan hingga simpang menuju Jl. Urip Sumoharjo.
Belok kiri ke Jl. Urip Sumoharjo, sekolah berada di sisi jalan utama.
Nama Lengkap: Kiswanti, S.Pd., M.Pd
Jabatan: Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pontianak
Periode Jabatan: Semester Ganjil 2026/2027 – sekarang
Sekolah: SMP Negeri 1 Pontianak, Jl. Jendral Urip Sumoharjo, Kecamatan Pontianak Kota, Kalimantan Barat
Akreditasi Sekolah: A
Jumlah Siswa: ±854 siswa (412 laki-laki, 442 perempuan)
Jumlah Guru & Tendik: 43 orang (31 guru, 12 tenaga kependidikan)
Kurikulum: Kurikulum Merdeka
(*)