Alasan Perbangan Dibatalkan karena Abu Vulkanik, Kandungannya Bisa Membahayakan Mesin Pesawat
Ardhi Sanjaya September 07, 2026 11:07 AM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Penumpang pesawat yang mendapati penerbangannya ditunda atau dibatalkan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau perlu memahami bahwa keputusan tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan.

Abu vulkanik yang terbawa ke ruang udara bukanlah awan biasa. Material tersebut terdiri dari pecahan batuan mikroskopis, silika (SiO2), serta kristal mineral berujung tajam yang memiliki sifat sangat abrasif.

"Abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan karena mengandung fragmentasi kaca silika (SiO2) dan mineral mikroskopis tajam yang bersifat abrasif," kata Daryono dalam keterangannya pada Senin (7/9/2026).

Abu juga berpotensi merusak sensor dinamika udara, termasuk pitot tube yang digunakan untuk mengukur kecepatan udara pesawat.

Bahaya paling serius muncul ketika abu vulkanik masuk ke dalam mesin turbofan.

Daryono menjelaskan temperatur ruang bakar mesin jet dapat mencapai sekitar 1.400 hingga 2.000 derajat celsius. Temperatur tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan titik leleh senyawa silika dalam abu vulkanik yang berada di kisaran 1.100 derajat celsius.

Material yang membeku dapat membentuk lapisan seperti kaca pada komponen mesin.

Penumpukan tersebut berpotensi menyumbat aliran udara dan mengganggu kerja bilah turbin. Dalam kondisi ekstrem, gangguan itu dapat menyebabkan engine stall hingga hilangnya pembakaran di dalam mesin atau flameout.

Risiko abu vulkanik tidak hanya berkaitan dengan mesin.

Fenomena tersebut bahkan dapat memunculkan St. Elmo's Fire, berupa cahaya akibat pelepasan listrik statis yang dapat terlihat pada bagian kaca kokpit.

Selain itu, kandungan asam yang melekat pada abu vulkanik dapat meningkatkan risiko korosi pada komponen tertentu dan berpotensi mencemari sistem pengondisian udara pesawat melalui bleed air.

Dengan karakteristik tersebut, pesawat tidak bisa memperlakukan abu vulkanik seperti awan hujan biasa.

Bahaya abu vulkanik terhadap penerbangan bukan sekadar teori.

Salah satu insiden paling terkenal terjadi pada 24 Juni 1982, ketika British Airways Penerbangan 9 melintasi awan abu akibat erupsi Gunung Galunggung, Jawa Barat, pada ketinggian sekitar 37.000 kaki.

Pesawat Boeing 747 tersebut mengalami kegagalan pada keempat mesinnya setelah abu vulkanik masuk ke mesin. Material silika yang meleleh kemudian membeku pada bagian turbin dan mengganggu proses pembakaran.

Pesawat akhirnya berhasil menyalakan kembali mesinnya setelah keluar dari paparan abu dan melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh penting mengenai risiko penerbangan ketika pesawat memasuki wilayah yang terkontaminasi abu vulkanik.

Dalam kondisi terkini, AirNav Indonesia memperbarui Notice to Airmen (NOTAM) terkait sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan siaran pers AirNav Indonesia, Senin (7/9/2026), sebaran abu berdasarkan pemantauan BMKG telah meluas hingga Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga masih berada pada Level III atau Siaga.

AirNav mencatat enam bandar udara masih berstatus CLOSED akibat sebaran abu vulkanik, dengan estimasi penutupan hingga 7 September 2026 pukul 08.59 WIB.

Enam bandara tersebut sebagai berikut :

  1. Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) — ditutup sejak 6 September pukul 23.20 WIB.
  2. Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) — ditutup sejak 6 September pukul 23.26 WIB.
  3. Bandara Radin Inten II, Lampung (TKG) — ditutup sejak 6 September pukul 23.23 WIB.
  4. Bandara Husein Sastranegara, Bandung (BDO) — ditutup sejak 6 September pukul 23.31 WIB.
  5. Bandara Budiarto, Curug (RTO) — ditutup sejak 6 September pukul 23.29 WIB.
  6. Bandara Pondok Cabe (PCB) — ditutup sejak 6 September pukul 23.36 WIB.

AirNav menyebut penutupan sementara tersebut merupakan langkah mitigasi untuk mendukung keselamatan penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik di ruang udara.

Informasi status bandara dan ruang udara akan terus diperbarui sesuai perkembangan kondisi aktual.

Bagi calon penumpang, perubahan jadwal penerbangan dalam situasi seperti ini bukan semata-mata persoalan operasional maskapai. Penundaan atau pembatalan dilakukan karena abu vulkanik dapat mengancam mesin, instrumen, dan keselamatan penerbangan apabila pesawat tetap beroperasi di ruang udara yang terdampak.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.