Hujan Abu Gunung Anak Krakatau Erupsi, Penerbangan Terganggu, Turis Asing Kebingungan Cari Informasi
ninda iswara September 07, 2026 11:07 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berdampak terhadap aktivitas masyarakat hingga Minggu (6/9/2026). Hujan abu vulkanik dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah di Bandar Lampung setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi berkepanjangan sejak Jumat malam.

Abu vulkanik tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menimbulkan keluhan berupa gangguan pernapasan dan iritasi pada mata.

Warga mengaku kondisi hujan abu pada malam sebelumnya cukup tebal hingga menyebabkan abu menumpuk di rumah, kendaraan, dan ruas jalan.

Hujan Abu Mulai Berangsur Mereda

Meski demikian, kondisi di Bandar Lampung pada Minggu mulai membaik dibandingkan malam sebelumnya.

"Hujan abu sangat lumayan tebal ya karena mengakibatkan abu tebal yang menumpuk di rumah bahkan di kendaraan bahkan di jalanan. Saat ini juga masih ada dampaknya ya walaupun sudah berangsur membaik," ujar seorang warga, dikutip TribunTrends dari kanal YouTube KompasTV, Senin (7/9/2026).

Warga mengatakan hujan abu tersebut membuat kegiatan sehari-hari menjadi terganggu.

"Saat ini di Bandar Lampung sedang terjadi hujan abu vulkanik yang disebabkan oleh letusan Gunung Anak Krakatau. Dampaknya bagi masyarakat itu yang pertama jelas pada pernapasan itu sangat terganggu dan menyebabkan sakit mata," katanya.

Kondisi tersebut membuat masyarakat harus lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika hujan abu masih terjadi.

Baca juga: Letusan Anak Krakatau, Anies Baswedan Batal CFD, Mobil Penuh Abu Vulkanik, Beri Imbauan ke Warga

Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau juga terasa pada sektor penerbangan. Abu vulkanik menyebabkan operasional penerbangan terganggu hingga Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara.

Akibatnya, ratusan penerbangan mengalami pembatalan maupun penundaan. Kondisi tersebut membuat sekitar 22.800 penumpang harus menunggu informasi terkait keberangkatan serta melakukan penjadwalan ulang penerbangan.

Sejumlah penumpang memilih menunggu perkembangan kondisi sambil mengikuti arahan pihak maskapai dan pengelola bandara. Salah seorang penumpang mengaku tidak bisa berbuat banyak menghadapi kondisi tersebut karena gangguan penerbangan terjadi akibat faktor alam.

"Namanya ini kan alam. Alam ya enggak bisa dilawan. Jadi kalau kita namanya delay ya kita ikuti arahan dari airline. Kita kan enggak mungkin maksain berangkat karena namanya alam ya berarti tidak bisa dilawan," ujarnya.

Penumpang Pilih Sabar Menunggu Kepastian

Penumpang tersebut mengatakan rencana perjalanan harus disesuaikan dengan kondisi penerbangan.

"Kalau memang ditutup berarti rencana-rencananya dirubah aja, di-reschedule sesuai dengan kebutuhan," katanya.

Ia mengaku penerbangannya masih berstatus delay dan pihaknya memilih menunggu informasi terbaru.

"Untuk saat ini belum ada. Kalau penerbangannya kita sih masih diinformasikan delay, harusnya berangkat jam 11.00. Nanti kita lihat perkembangan selanjutnya aja," ujarnya.

Turis Asing Kebingungan Cari Informasi

Gangguan penerbangan juga dirasakan penumpang dari luar negeri. Seorang wisatawan asing mengaku penerbangannya menuju Lombok dibatalkan akibat kondisi vulkanik.

"We are here now because we want to go to Lombok, canceled because of the volcano," ujarnya.

Ia mengatakan dirinya bersama penumpang lain masih kebingungan mengenai langkah selanjutnya, termasuk informasi penerbangan dan mekanisme pengembalian uang tiket.

"Nobody can tell here something about the flights and where we can get our money back and what's the next step. So, yeah, we don't really know what to do," katanya.

Meski menghadapi ketidakpastian perjalanan, wisatawan tersebut berusaha tetap tenang.

"But we're still in a good mood because life goes on," ujarnya.

Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat maupun wisatawan diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dan tidak mendekati kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer.

Erupsi gunung api dapat menghasilkan abu vulkanik yang berbahaya bagi kesehatan serta mengganggu aktivitas penerbangan. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang dan menggunakan perlindungan yang sesuai ketika terjadi hujan abu.

(TribunTrends)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.