Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Hujan Abu di Bandar Lampung, Aktivitas Warga Ikut Terganggu
Talitha Daren September 07, 2026 11:07 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berdampak terhadap aktivitas masyarakat dan penerbangan hingga Minggu, 6 September 2026.

Dikutip dari Youtube Kompas.com pada 7 September 2026, korupsi yang berlangsung sejak Jumat malam tersebut disertai semburan lava dan abu vulkanik yang mencapai ketinggian ribuan meter. 

Material vulkanik terbawa angin hingga menyelimuti sejumlah wilayah Bandar Lampung.

Hujan abu vulkanik membuat aktivitas warga terganggu. Sejumlah warga mengeluhkan iritasi mata dan gangguan pernapasan akibat paparan abu yang terbawa ke permukiman.

Baca juga: Anak Krakatau Erupsi, CCTV Rusak, Badan Geologi Ungkap Potensi Tsunami seperti 2018: Relatif Kecil

Hujan Abu Sempat Tebal

Seorang warga Bandar Lampung mengatakan hujan abu vulkanik terjadi akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menurut dia, dampak paling terasa adalah terhadap pernapasan dan kesehatan mata.

Aktivitas sehari-hari warga juga ikut terganggu akibat abu yang menyelimuti lingkungan.

Kondisi pada Minggu disebut mulai membaik dibandingkan malam sebelumnya.

Hujan abu yang terjadi sebelumnya cukup tebal hingga menyebabkan material vulkanik menumpuk di rumah, kendaraan, dan jalan.

Meski intensitasnya berangsur menurun, sisa abu vulkanik masih terlihat di sejumlah lokasi.

ANAK KRAKATAU - Potret Gunung Anak Krakatau. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria memastikan dentuman misterius yang terdengar sejumlah warga Jawa Barat berasal dari rambatan gelombang akustik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau
ANAK KRAKATAU - Potret Gunung Anak Krakatau. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria memastikan dentuman misterius yang terdengar sejumlah warga Jawa Barat berasal dari rambatan gelombang akustik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (Tribun Trends/Tribun Lampung/Dedi Sutomo)

Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

Masyarakat maupun wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari kawah.

Imbauan tersebut dikeluarkan untuk mengantisipasi potensi bahaya akibat aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.

Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan

Dampak erupsi tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar Lampung. Sebaran abu vulkanik juga mengganggu operasional penerbangan.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan. Kondisi tersebut menyebabkan ratusan penerbangan mengalami pembatalan maupun penundaan.

Sekitar 22.800 penumpang dilaporkan terdampak akibat gangguan operasional tersebut. Para penumpang harus menunggu informasi mengenai jadwal keberangkatan, pengembalian dana tiket, maupun perubahan jadwal penerbangan.

Gangguan juga dilaporkan berdampak pada sejumlah penerbangan dari Malaysia menuju Jakarta. Sejumlah penerbangan mengalami pembatalan akibat kondisi abu vulkanik yang dinilai membahayakan keselamatan penerbangan.

LAVA ANAK KRAKATAU - Tangkapan layar dari vidio amatir warga Lampung Selatan yang tengah memancing, dan kedapatan saat terjadinya erupsi gunung anak krakatau pada Sabtu (5/9/2026) (Tribun Trends/HO/IST/Ho/Istimewa via Tribun Pontianak)

Penumpang Diminta Bersabar

Sejumlah penumpang yang terdampak penundaan memahami bahwa gangguan penerbangan terjadi karena faktor alam.

Salah seorang penumpang mengatakan dirinya memilih mengikuti arahan maskapai dan menunggu perkembangan kondisi sebelum melanjutkan perjalanan.

Menurut dia, penerbangan yang semula dijadwalkan berangkat harus mengalami penundaan. Penumpang pun memilih menunggu informasi terbaru daripada memaksakan keberangkatan dalam kondisi yang belum memungkinkan.

Jika penerbangan akhirnya dibatalkan, penumpang berharap dapat melakukan penjadwalan ulang sesuai kebutuhan.

Sementara itu, seorang wisatawan asing mengaku kebingungan setelah penerbangannya menuju Lombok dibatalkan akibat erupsi vulkanik.

Ia mengatakan belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai langkah selanjutnya, termasuk prosedur pengembalian uang tiket dan alternatif penerbangan.

Meski berada dalam situasi yang tidak pasti, wisatawan tersebut mengatakan tetap berusaha tenang sembari menunggu informasi lebih lanjut.

Keselamatan Penerbangan Jadi Prioritas

Gangguan penerbangan akibat abu vulkanik merupakan konsekuensi dari aktivitas vulkanik yang berada di luar kendali operator penerbangan.

Penundaan maupun pembatalan penerbangan dilakukan untuk mempertimbangkan faktor keselamatan penumpang dan pesawat.

Penumpang yang terdampak diimbau mengikuti informasi resmi dari maskapai serta tidak memaksakan perjalanan sebelum kondisi dinyatakan aman.

Di sisi lain, masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau diharapkan mematuhi rekomendasi PVMBG dan menjauhi kawasan yang masuk dalam radius bahaya.

Erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Minggu, 6 September 2026, menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih perlu dipantau. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi sebaran abu vulkanik maupun perubahan aktivitas gunung.

(TribunTrends.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.