Bupati Tagore Abubakar Pimpin Bener Meriah Tembus Kepungan Banjir dan Longsor
Faisal Zamzami September 07, 2026 11:37 AM

 

Laporan Wartawan Serambinews.com, Bustami | Bener Meriah

SERAMBINEWS.COM, REDELONG - Kabupaten Bener Meriah menjadi salah satu wilayah di Provinsi Aceh yang luluh lantak dilanda bencana banjir dan tanah longsor pada akhir November 2025.

Bencana tersebut menyebabkan jalur transportasi utama menuju Bener Meriah lumpuh total. Tak hanya itu, jaringan listrik dan sinyal telepon seluler di wilayah tersebut juga terputus seketika.

Dalam sekejap, wilayah yang berada di tengah hamparan perbukitan ini terisolasi akibat terputusnya akses jalan dari arah Kabupaten Bireuen, Aceh Utara hingga Aceh Tengah. Selain jalan utama yang terputus dan jembatan yang runtuh, ribuan warga di tingkat kecamatan hingga desa terpencil terjebak dalam ketidakpastian.

Namun, di tengah kepungan lumpur dan badai yang belum sepenuhnya reda, Bupati Bener Meriah, Ir Tagore Abubakar, menolak untuk sekadar diam dan meratapi keadaan.

Pusat Komando dan Kebijakan Ekstrem

Pada Rabu pagi, 26 November 2025, atmosfer di ruang kerja Bupati mendadak berubah menjadi pusat komando darurat yang bising oleh instruksi-instruksi taktis.

Lantas sehari setelahnya, status darurat bencana di Bener Meriah resmi dimaklumatkan. Sebuah genderang perang melawan krisis alam ditabuh dengan satu prioritas mutlak: rakyat tidak boleh kelaparan.

Memanfaatkan pengalaman matangnya dalam menjinakkan situasi kritis, Bupati Tagore bergerak cepat menggerakkan seluruh lini pertahanan.

Sadar bahwa jalur logistik luar telah lumpuh, ia langsung memerintahkan jajarannya untuk memeriksa seluruh stok pangan yang tersisa, sekaligus menginstruksikan pembelian logistik dari kios-kios lokal demi mempertebal cadangan persediaan makanan.

Tidak berhenti di situ, sebuah keputusan ekstrem dan berani diambil demi mendukung percepatan evakuasi. Pemerintah daerah kala itu memborong puluhan ton persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah SPBU setempat. Tujuannya agar mesin alat-alat berat dapat segera bergerak ke lapangan dan tidak mati di tengah jalan akibat kehabisan bahan bakar.

Baca juga: Sampah Kayu Sisa Banjir di Aceh Tamiang Diolah Jadi Briket dan Biopestisida

Menembus Jalur Vital Menuju Aceh Tengah

Di tengah situasi kritis, koordinasi kilat langsung digalang Bupati Tagore bersama Dinas PUPR, BPBD, dan Dinas Sosial. Karena seluruh lini transportasi lumpuh, Bupati lantas memilih mengarahkan fokus pembersihan pertama menuju wilayah Aceh Tengah.

Berkat pengerahan lima unit alat berat tanpa jeda, jalur vital Bener Meriah–Aceh Tengah yang sempat lumpuh total selama lima hari pascabencana akhirnya berhasil dibuka kembali.

Dipilihnya jalur Aceh Tengah terlebih dahulu bukan tanpa sebab, melainkan karena jalur ini merupakan satu-satunya urat nadi kehidupan. Setelah jalan bisa dilalui, pasokan pangan dari Bulog pun mengalir masuk.

Dapur Umum dan Logistik di Garis Depan

Senada dengan bantuan yang terus mengalir, Bupati lalu menginstruksikan agar seluruh desa segera mendirikan dapur umum sembari bantuan terus disalurkan.

Bahkan untuk puluhan desa yang tidak bisa ditembus transportasi, petugas dan relawan terpaksa berjalan kaki demi mengirimkan bantuan logistik.

Kemudian, di kantor Bupati, Dapur Umum Pemda juga ikut dibangun, disana selama masa bencana, ratusan warga setiap hari lalu-lalang untuk makan. Alhasil, berkat kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh Bupati saat bencana melanda, hampir tidak ada warga di Bener Meriah yang telantar atau kelaparan.

Di sisi lain, saat proses evakuasi berlangsung, Tagore tetap memilih berdiri langsung di garis depan. Kehadirannya di lapangan menjadi jaminan bahwa pelayanan publik tidak ikut lumpuh, sekaligus membawa secercah harapan bagi kaum perempuan dan anak-anak di wilayah terisolasi yang sangat mendambakan air bersih, tenda berlindung, serta layanan kesehatan.

Baca juga: Rusak Diterjang Banjir, Pemkab Abdya Akan Bangun Kembali Pengaman Tebing Krueng Tangan-Tangan

Apresiasi Presiden dan Langkah Rekonstruksi

Kegigihan Ir Tagore dalam menghadapi situasi bencana akhirnya bergaung hingga ke ibu kota. Dalam sebuah rapat terbatas melalui panggilan langsung, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi mendalam serta penguatan moril kepada Bupati Tagore atas kepemimpinannya yang responsif dan berani di tengah krisis.

Waktu bergulir membawa perubahan, namun ritme kerja keras di bawah komando duet Bupati Tagore Abubakar dan Wakil Bupati Armia sama sekali tidak mengendur. Memasuki bulan April 2026, lembaran kelam tanggap darurat telah berganti menjadi fase rehabilitasi dan rekonstruksi yang terukur.

Sinergi yang harmonis dengan pemerintah pusat menorehkan decak kagum nasional saat Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, meninjau langsung Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, pada Senin, 20 April 2026.

Keajaiban di Desa Tunyang: Memulihkan Kopi Gayo

Di sana, sebuah keajaiban lokal tercipta. Lahan miring perbukitan yang dua bulan lalu kosong melompong, kini telah disulap menjadi kawasan Hunian Sementara (Huntara) yang rapi, manusiawi, dan lengkap dengan fasilitas dapur umum, sanitasi, tempat ibadah, hingga ruang bermain anak.

Keberhasilan Tagore menyediakan lahan datar siap bangun di tengah tantangan geografis yang sulit menuai pujian tinggi. Langkah ini disusul dengan apresiasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas tata kelola anggaran bencana yang tetap akuntabel dan transparan.

Kini, perjuangan Tagore telah melangkah lebih jauh. Bukan lagi sekadar menyelamatkan nyawa dari kepungan longsor, melainkan memulihkan kebun-kebun kopi Gayo yang menjadi urat nadi ekonomi rakyat.

Upaya ini membawa Bener Meriah bangkit kembali menjadi daerah yang jauh lebih tangguh, maju, dan sejahtera dari sebelumnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.