Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau ( GAK ) mengalami 14 kali erupsi beruntun dalam rentang 4 hingga 6 September 2026.
Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Penerbangan Terhenti hingga Pentingnya Mitigasi Ekonomi
Aktivitas vulkanik ini memicu potensi ancaman sebaran abu vulkanik pekat bagi warga pesisir dan nelayan di Selat Sunda.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Suwarno, melaporkan tiga letusan susulan terjadi pada Minggu (6/9/2026) hingga malam hari dengan durasi gempa hingga 44 detik.
Peningkatan letusan berkala ini memaksa warga sekitar perairan Rajabasa dan pulau-pulau huni di sekitarnya ekstra waspada terhadap bahaya debu vulkanis yang terbawa angin.
Tingginya intensitas erupsi tersebut berdampak langsung pada ancaman kesehatan pernapasan serta gangguan aktivitas harian masyarakat harian yang bergantung pada ruang terbuka.
Suwarno merincikan, tiga letusan pada Minggu (6/9/2026) diawali erupsi pukul 03.53 WIB, disusul letusan kedua pukul 07.10 WIB dengan amplitudo maksimum 50 milimeter selama 16 detik. Erupsi ketiga terjadi pada pukul 20.23 WIB dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan durasi 44 detik.
"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Minggu, 06 September 2026, pukul 20:23 WIB. Visual letusan tidak teramati," jelas Suwarno, Senin (7/9/2026).
Aktivitas intensif sebenarnya sudah terdeteksi sejak Jumat (4/9/2026). Pada pagi hari, letusan terjadi secara berturut-turut pada pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, dan 04.28 WIB dengan amplitudo mencapai 70 milimeter.
Semburan abu tebal sempat terlihat jelas secara visual pada pukul 05.46 WIB. Kolom abu berwarna hitam pekat teramati membumbung hingga 300 meter di atas puncak (457 meter di atas permukaan laut) dan bergerak condong ke arah barat serta barat laut menuju permukiman.
Erupsi berlanjut hingga malam hari pada pukul 22.03 WIB, 22.11 WIB, 22.42 WIB, 22.53 WIB, dan 23.07 WIB dengan amplitudo hingga 70 milimeter. Memasuki Sabtu (5/9/2026) dini hari pukul 00.01 WIB, seismograf kembali merekam erupsi yang berlangsung menerus.
Mengingat aktivitas vulkanik yang terus bergejolak, status Gunung Anak Krakatau ditegaskan masih berada pada Level III (Siaga).
Guna mencegah risiko kecelakaan laut dan paparan material erupsi, otoritas merilis sejumlah panduan bagi warga terdampak:
Masyarakat diminta tidak mudah terpancing isu liar dan wajib memantau perkembangan aktivitas gunung api hanya melalui rilis resmi PVMBG, BPBD, atau pemerintah daerah setempat.
(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)