Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika atau BMKG Stasiun Klimatologi Lampung, mencatat bahwa udara di Provinsi Lampung secara keseluruhan dalam kondisi sedang, Senin (7/9/2026) pukul 09.30 WIB.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Masih Menumpuk di Rumah Warga Bandar Lampung
Fungsional PMG (Pengamat Meteorologi dan Geofisika) BMKG Stasiun Klimatologi Lampung, Suparji, ST. MTi secara saksama melihat layar komputer untuk memberikan informasi terkini terkait kualitas udara di Lampung akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Suparji dengan cekatan menunjukkan data sebaran udara dari komputer yang berada tepat di depannya.
Suparji menjelaskan bahwa kualitas udara di Lampung secara keseluruhan masuk dalam kategori udara sedang.
"Saat ini di Lampung secara keseluruhan kondisi udaranya mencapai 36,6 mikro gram per meter gram kubik atau 36,6 µg/m⊃3; atau dalam kondisi udara sedang," kata Suparji, Senin (7/9/2026) pagi.
Suparji menjelaskan jika posisi tanpa ada erupsi Gunung Anak Krakatau atau dalam kondisi normal seperti hari biasanya di bawah 15 µg/m⊃3;.
"Kalau normalnya udara itu posisi kondisinya hijau, artinya sudah naik ke atas warna hijau dan sekarang posisi biru," ujarnya.
"Artinya tingkat kewaspadaannya masih diperlukan karena posisi abu vulkaniknya masih ada di tengah masyarakat," terusnya.
Adapun tingkat kualitas udara sebagai berikut ;
Baik : 0 - 15,5 µg/m⊃3;.
Sedang : 15,6 - 55,4 µg/m⊃3;.
Tidak Sehat : 55,5 - 150,4 µg/m⊃3;.
Sangat Tidak Sehat : 150,5 - 250,4 µg/m⊃3;.
Berbahaya : > 250,5 µg/m⊃3;.
Suparji menjelaskan meskipun kondisi udara di Lampung dalam kondisi sedang namun masyarakat tetap harus waspada dan hati-hati.
Diharapkan agar masyarakat tetap mengunakan masker karena masih ada konsentrasi abu vulkanik GAK.
"Itu berdasarkan di Citra Himawari saya lihat itu posisinya memang terutama di Lampung bagian tengah hingga barat agar tetap waspada," kata Suparji.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026.
Gunung Anak Krakatau kemudian mengalami erupsi pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB.
Aktivitas erupsi tersebut terus menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap wilayah di sekitar Selat Sunda.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan dilakukan untuk melihat dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)