BANGKAPOS.COM - Fenomena meletusnya enam gunung api aktif di Indonesia secara berdekatan memicu kekhawatiran masyarakat akan adanya kaitan antar-aktivitas vulkanik.
Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi bahwa erupsi simultan ini murni kebetulan geologi dan tidak saling memicu satu sama lain.
Mengingat Indonesia berada di lintasan Ring of Fire dengan 127 gunung api aktif, setiap gunung memiliki dapur magma serta sistem tekanan independen.
Baca juga: 8 Bandara Ini Penutupannya Diperpanjang Imbas Erupsi Krakatau, Berikut Daftarnya
Simak ulasan ilmiah lengkap dari PVMBG mengenai mekanisme erupsi dan update kondisi lima bandara yang sempat ditutup di bawah ini.
Aktivitas vulkanik di sejumlah gunung api di Indonesia menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Beberapa gunung aktif seperti Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara tercatat mengalami erupsi.
Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada terhadap perkembangan kondisi geologi terkini.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026) dilaporkan mulai menurun dibandingkan malam sebelumnya.
Kepala Pos Pemantauan Hargo Pancuran, Suwarno, menyebutkan letusan masih berlanjut namun dalam skala kecil.
Data MAGMA-VAR mencatat erupsi menerus berhenti sejak pukul 00.04 WIB, meski letupan kecil tetap terjadi.
Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.
Visual pengamatan sering terhalang kabut tebal sehingga kolom abu tidak selalu teramati.
Pada Minggu (6/9/2026) pukul 07.51 WIB, Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang mengalami erupsi dengan kolom abu setinggi 1.000 meter.
Erupsi terekam seismograf dengan amplitudo 23 mm dan durasi 1 menit 42 detik.
BPBD Lumajang melaporkan abu mengarah ke timur, berpotensi berdampak pada Kecamatan Pasrujambe dan Senduro.
Meski belum ada laporan kerusakan, masyarakat tetap diingatkan akan risiko banjir lahar hujan.
Aktivitas di sektor tenggara Besuk Kobokan sejauh 13 km dilarang karena ancaman awan panas guguran dan aliran lahar. Status Semeru saat ini Level III (Siaga).
Gunung Sinabung di Kabupaten Karo mengalami peningkatan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026.
Erupsi menghasilkan kolom abu setinggi 3,5 km ke arah timur dan tenggara, berdampak pada wilayah Berastagi.
Sebanyak 615 jiwa mengungsi ke Pos Desa Suka Tepu.
Erupsi juga memengaruhi transportasi udara, dengan penutupan sementara Bandara Kualanamu yang menyebabkan pembatalan 15 penerbangan.
PVMBG menetapkan zona bahaya radius 3 km dari puncak serta 6 km di sektor selatan dan timur.
Pada 31 Agustus 2026, PVMBG mencatat enam gunung api erupsi hampir bersamaan:
- Gunung Ibu (Maluku Utara)
- Gunung Semeru (Jawa Timur)
- Gunung Lewotobi Laki-laki (Nusa Tenggara Timur)
- Gunung Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)
- Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda)
- Gunung Sinabung (Sumatera Utara)
Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menegaskan erupsi tersebut tidak saling memicu.
“Dapurnya masing-masing, proses menuju erupsi berbeda-beda,” ujarnya.
Fenomena ini merupakan dinamika alami gunung api aktif di Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik dengan total 127 gunung api aktif.
Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau menyebabkan penutupan sementara lima bandara utama:
- Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang)
- Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta)
- Bandara Radin Inten II (Lampung)
- Bandara Budiarto (Curug, Banten)
- Bandara Pondok Cabe (Tangerang Selatan)
Penutupan dilakukan demi keselamatan penerbangan, dengan jadwal operasional menyesuaikan kondisi abu vulkanik.
Fenomena Erupsi Bersamaan di Beberapa Gunung Api Indonesia
Menurut penjelasan resmi PVMBG, hal itu bukan karena saling memicu, melainkan karena faktor geologi yang berdiri sendiri.
Berikut alasan utamanya:
- Sistem magma terpisah Setiap gunung api memiliki dapur magma dan jalur tekanan sendiri. Pergerakan magma di Gunung Sinabung tidak ada kaitannya dengan Anak Krakatau, begitu juga dengan Semeru atau gunung lain.
- Aktivitas independen Tekanan, pelepasan gas, dan kegempaan yang terjadi di masing-masing gunung berlangsung secara mandiri. Erupsi yang berdekatan waktunya hanyalah kebetulan.
- Cincin Api Pasifik Indonesia berada di kawasan Ring of Fire dengan 127 gunung api aktif. Kondisi tektonik dan vulkanik di wilayah ini sangat dinamis, sehingga wajar bila beberapa gunung mengalami peningkatan aktivitas dalam periode yang sama.
- Faktor kebetulan waktu Erupsi yang terjadi hampir bersamaan lebih tepat dipahami sebagai kebetulan geologi. Misalnya, peningkatan kegempaan di Sinabung dan Anak Krakatau terjadi dalam rentang waktu berdekatan, tetapi tidak saling memicu.
- Tidak dipicu gempa bumi PVMBG menegaskan gempa bumi tidak otomatis memicu erupsi. Hubungan keduanya harus dibuktikan lewat data pemantauan seperti perubahan bentuk tubuh gunung, pelepasan gas, atau suhu. Karena itu, erupsi bersamaan adalah konsekuensi dari banyaknya gunung aktif di Indonesia yang masing-masing punya sistem vulkanik sendiri.
(Tribunnews/Tribunmedan/Kompas)