Instruksi Dedi Mulyadi Usai Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar Sampai Jabar, Imbau Sekolah-sekolah Lakukan Ini!
Widy Hastuti Chasanah September 07, 2026 01:34 PM

Grid.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberi instruksi kepada sekolah-sekolah usai abu vulkanik Anak Krakatau menyebar sampai ke wilayah Jabar. Dedi mengizinkan sekolah di daerah terdampak untuk menggelar pembelajaran secara daring.

Seperti diketahui, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II mendeteksi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di sebagian wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Minggu (6/9/2026) pukul 09.00 WIB. Deteksi itu berdasarkan hasil analisis citra RGB satelit Himawari-9.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Teten Ali meminta masyarakat untuk menggunakan masker apabila terjadi hujan abu vulkanik.

"Kurangi aktivitas di luar rumah selama hujan abu berlangsung," ujar Teten dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu.

Mengetahui abu vulkanik Anak Krakatau menyebar sampai Jabar, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ikut buka suara. Dedi memberi instruksi agar sekolah-sekolah terdampak di Jawa Barat memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dalam surat edaran Gubernur Jawa Barat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jabar, kepala sekolah diminta segera melakukan penghentian sementara kegiatan sekolah dan aktivitas luar ruangan apabila kondisi sebaran abu vulkanik dan kualitas udara berpotensi membahayakan kesehatan.

Dedi menyebut PJJ diberlakukan untuk melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan.

"PJJ diberlakukan dengan tujuan melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan," kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Bandung, Senin (7/9/2026)

Selain itu, Dedi juga mengaktifkan kesiapsiagaan puskesmas, rumah sakit, pos kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Saya instruksikan Dinas Kesehatan untuk memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, ambulans, oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, masker/respirator, dan Alat Pelindung Diri (APD) di fasilitas kesehatan," ucap pria yang akrab disapa KDM tersebut dilansir dari TribunJabar.ID.

Dedi Mulyadi juga meminta dinas kesehatan melaksanakan survei harian terhadap gangguan pernapasan, asma/PPOK, iritasi mata, gangguan kulit, cedera dan dampak kesehatan lainnya, serta melaporkannya melalui mekanisme yang berlaku.

Perlindungan akan diutamakan kepada kelompok rentan seperti bayi, anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas dan pekerja luar ruangan. Lebih lanjut, Pemprov Jabar juga akan menjaga kebersihan fasilitas umum dan ruas jalan dengan melakukan pembersihan abu secara tepat.

"Saya memerintahkan seluruh Kepala Perangkat Daerah dan pihak terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan, menyampaikan informasi berdasarkan sumber resmi, serta segera melaporkan peningkatan kasus kesehatan, gangguan pelayanan, keterbatasan logistik, dan kebutuhan dukungan kepada pimpinan/posko penanganan," kata mantan bupati Purwakarta tersebut.

"Ikuti informasi dan arahan resmi pemerintah serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya," ujarnya.

Di akhir kalimatnya, Dedi berpesan agar masyarakat tetap hati-hati dan tidak panik. Bagi yang mengalami gangguan pernapasan, harap segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

"Segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila setelah terpapar abu vulkanik mengalami gangguan pernapasan, sesak napas, nyeri dada, gangguan atau iritasi mata, gangguan kulit, maupun gejala berat lainnya," pungkas Dedi Mulyadi memberi instruksi terkait abu vulkanik Anak Krakatau yang menyebar sampai Jabar.

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi

Seperti diketahui, gunung Anak Krakatau di perairan Lampung Selatan kembali mengalami erupsi. Berdasarkan laporan aktivitas vulkanik, tiga kejadian erupsi tercatat pada Minggu (6/9/2026), masing-masing pada dini hari, pagi, dan malam.

Kendati tidak terlihat secara visual, tetapi erupsi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi 16 detik.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan, aktivitas letusan saat ini cenderung mengecil dibandingkan erupsi yang terjadi sebelumnya.

"Letusannya sekarang sudah kecil, tidak seperti yang kemarin-kemarinnya," kata Suwarno, Senin (7/9/2026).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.