Pakar Unpad Ungkap Tanda-tanda Gunung Api Sebelum Erupsi, Pentingnya Sistem Pematauan
Seli Andina Miranti September 07, 2026 04:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan pentingnya sistem pemantauan gunung api untuk mendeteksi peningkatan aktivitas sebelum letusan terjadi. 

Berbagai tanda, mulai dari gempa, perubahan bentuk tubuh gunung, kepulan asap, hingga kandungan gas, dipantau secara bersamaan untuk menentukan tingkat aktivitas dan langkah mitigasi.

Pakar vulkanologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Nana Sulaksana, MSP., mengatakan pemantauan gunung api tidak dilakukan hanya dengan melihat satu indikator. 

Baca juga: Dari Ompreng ke Kotak Bekal, Cara MBG di Purwakarta Dibagikan saat Siswa PJJ akibat Abu Vulkanik

Setiap perubahan aktivitas diamati melalui sejumlah instrumen dan pengamatan lapangan untuk mengetahui pergerakan magma dari dalam bumi menuju permukaan.

“Gunung api yang menunjukkan peningkatan aktivitas tidak dipantau hanya berdasarkan satu indikator. Berbagai parameter digunakan secara bersamaan untuk mengetahui perubahan aktivitas di dalam maupun di sekitar tubuh gunung api,” kata Prof Nana saat dihubungi, Senin (7/9/2026).

Salah satu parameter yang dipantau adalah aktivitas kegempaan. Seismograf yang dipasang di sejumlah titik pada tubuh gunung digunakan untuk merekam pergerakan magma menuju permukaan melalui saluran gunung api.

Jika aktivitas tersebut semakin intensif dibandingkan kondisi sebelumnya, status gunung api dapat dinaikkan sebagai peringatan agar masyarakat dan pihak terkait meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan erupsi.

Selain kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunung api juga menjadi indikator penting. Pengukuran geodetik yang terhubung dengan sistem GPS digunakan untuk mendeteksi perubahan atau deformasi di sekitar tubuh dan puncak gunung.

“Pergerakan tubuh gunung api secara mikro diukur dengan alat geodetik yang dipasang pada tubuh gunung api serta terhubung dengan satelit GPS. Dengan demikian, pergerakan absolut sekitar puncak gunung api dapat terpantau sebagai indikasi segera terjadi letusan,” ujarnya.

Tanda-tanda peningkatan aktivitas juga dapat diamati secara visual. Pengamat gunung api memperhatikan perubahan kepulan asap yang keluar dari kawah, termasuk warna dan karakter materialnya.

Baca juga: Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Berakhir, PVMBG: Probabilitas Letusan Masih Tinggi

Kepulan berwarna hitam atau abu-abu, misalnya, dapat menunjukkan adanya material baru yang keluar dari dalam gunung. Sementara itu, kepulan putih pada kondisi tertentu lebih menunjukkan keluarnya uap.

“Kalau sudah nampak tanda-tanda kepulan yang berwarna hitam abu-abu menunjukkan bahwa ada material baru yang sudah ikut keluar, sehingga erupsi mungkin akan segera terjadi. Berbeda misalnya dengan asap yang berwarna putih yang menandakan semata-mata hanya uap yang keluar,” kata Prof Nana.

Pemantauan kini juga didukung teknologi CCTV yang terhubung internet sehingga kondisi gunung api dapat diamati secara lebih menyeluruh. Analisis multi-gas turut digunakan untuk membantu mengetahui perubahan aktivitas gunung api.

Namun, pemantauan tidak hanya mengandalkan data aktivitas terkini. Para ahli juga menggunakan informasi mengenai karakter letusan sebelumnya, peta geologi gunung api, serta sejarah aktivitas vulkaniknya sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan status.

Prof Nana menilai berbagai parameter tersebut telah dimanfaatkan dalam pemantauan gunung api di Indonesia. Menurut dia, langkah tersebut penting agar peningkatan aktivitas dapat diketahui sedini mungkin dan diikuti dengan tindakan mitigasi.

“Secara singkat seluruh variabel sebagai tanda-tanda akan terjadi erupsi sudah dimanfaatkan secara optimal dalam pemantauan gunung api di Indonesia,” katanya.

Ia juga menilai langkah Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dalam melakukan pemantauan serta berkoordinasi dengan otoritas penerbangan sudah tepat. Koordinasi tersebut menjadi penting karena dampak erupsi tidak hanya dirasakan di sekitar gunung api.

Dalam kasus Gunung Anak Krakatau, misalnya, sebaran abu vulkanik dapat mengganggu aktivitas masyarakat hingga penerbangan. Karena itu, keselamatan penerbangan menjadi salah satu bagian dari mitigasi ketika terjadi erupsi.

Baca juga: Paper Test Negatif, Kenapa Penerbangan di Bandara Husein Bandung Belum Kembali Beroperasi?

“Yang dilakukan sudah tepat sesuai dengan early warning system, dalam upaya meletakkan keselamatan penerbangan sebagai upaya prioritas,” ujarnya.

Selain mengganggu penerbangan, abu vulkanik juga dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Prof Nana mengatakan abu vulkanik berbeda dengan debu biasa karena terbentuk dari pembekuan cepat mineral silikat saat erupsi.

Ia mengingatkan, masyarakat yang berada di wilayah terdampak paparan abu vulkanik perlu menggunakan masker dan kacamata ketika beraktivitas di luar ruangan.

Menurut Prof Nana, pemantauan teknologi harus berjalan beriringan dengan komunikasi kepada masyarakat. Informasi mengenai status gunung api tidak cukup hanya disampaikan sebagai peringatan, tetapi harus dipahami masyarakat sebagai dasar untuk menentukan tindakan.

“Yang diperlukan secara menerus adalah mengingatkan dan bahkan memberikan pelajaran pemahaman kepada masyarakat, anak-anak sekolah sejak dini, pendidikan kebencanaan di sekitar tempat tinggal,” katanya.

Prof Nana menilai pendidikan kebencanaan sejak dini penting untuk membentuk masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Sistem peringatan dini yang kuat, menurut dia, akan semakin efektif apabila masyarakat memahami dan mematuhi informasi yang diberikan.

Baca juga: Profil BIJB Kertajati: Jadi Alternatif saat 3 Bandara di Pulau Jawa Terganggu Abu Anak Krakatau

“Tujuan akhirnya bukan sekadar merespons bencana setelah terjadi, melainkan membangun masyarakat yang mampu mengenali risiko dan mengambil langkah penyelamatan sejak dini,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.