SERAMBINEWS.COM - Di tengah hantaman gelombang tekanan ekonomi serta blokade maritim ketat yang digalang oleh Amerika Serikat, Iran secara sepihak mengumumkan rencana strategis untuk menetapkan zona terlarang di sekitar jalur akses utama Selat Hormuz.
Kebijakan konfrontatif ini disampaikan langsung oleh Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru, Mohsen Rezaei, dalam sesi wawancara khusus dengan stasiun televisi pemerintah pada Minggu (6/9/2026).
Langkah drastis tersebut diambil Teheran sebagai bentuk balasan langsung sekaligus perlawanan terbuka atas operasi militer dan blokade yang terus diperketat Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan ekspor minyak Iran di kawasan strategis Teluk Persia.
Menurut pemaparan Mohsen Rezaei, zona terlarang yang akan segera diberlakukan tersebut nantinya bakal membentang luas di jalur perairan vital yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi global.
Kendati demikian, hingga laporan ini dirilis, pemerintah Iran masih belum membeberkan koordinat teknis maupun batas wilayah operasional zona tersebut secara spesifik kepada publik.
Sejumlah poin penting terkait rencana kontroversial penerapan zona terlarang ini meliputi:
Baca juga: Iran Klaim Respons Militer Makin Keras, AS Pertahankan Blokade Selat Hormuz
Pengumuman sepihak mengenai zona terlarang ini praktis memanaskan kembali eskalasi militer yang kian tak terkendali di kawasan Timur Tengah.
Sehari sebelumnya, armada militer AS dilaporkan melancarkan serangan udara yang menggempur tiga kapal tanker minyak milik Iran.
Aksi militer tersebut dilakukan Washington sebagai respons balasan atas peluncuran rudal balistik Teheran yang sebelumnya secara agresif menargetkan kapal perang Amerika.
Pihak Pentagon mencatat bahwa lebih dari 20 kapal perang aktif dikerahkan untuk memperketat blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Berdasarkan data operasional hingga Minggu, blokade laut tersebut tercatat telah melumpuhkan tiga kapal serta memaksa pengalihan rute terhadap 92 kapal komersial lainnya.
Dampak dari konfrontasi militer terbuka ini langsung memukul telak arus mobilitas logistik global di Selat Hormuz:
Di tengah lumpuhnya lalu lintas pelayaran normal akibat ancaman konflik, Selat Hormuz tetap memegang peranan vital bagi kestabilan pasokan energi dunia.
Menteri Energi AS Chris Wright mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih ada sekitar 9 juta barrel minyak per hari yang berhasil disalurkan melewati selat tersebut berkat pengawalan ketat Angkatan Laut AS.
Wright memperkirakan volume pengiriman minyak saat ini masih mampu bertahan di angka dua pertiga atau bahkan lebih jika dibandingkan dengan masa sebelum konflik pecah.
Washington sangat berharap negara-negara sekutu di kawasan maupun internasional nantinya akan turut ambil bagian dalam mendukung upaya pengamanan jalur logistik vital tersebut.
Di sisi lain, Mohsen Rezaei dengan tegas menepis asumsi bahwa negaranya lumpuh total. Ia mengeklaim bahwa sanksi barat dan blokade AS tidak mampu mematikan roda ekonomi mereka, dengan menyebutkan bahwa Iran hingga kini masih tetap konsisten mengekspor minyak sebanyak satu hingga 1,5 juta barrel setiap harinya di tengah badai konfrontasi yang terus membara. (Serambinews.com/Kompas.com)