Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Denting gamelan dan riuh masyarakat mengiringi rangkaian Tradisi Adat Nyangku di Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin (7/9/2026).
Di balik prosesi jamas pusaka yang digelar setiap bulan Rabiul Awal, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur sekaligus membersihkan diri dan perilaku.
Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini menjadi salah satu kekayaan budaya Panjalu yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat.
Bukan hanya menjadi ritual adat, Nyangku juga menjadi ruang berkumpul dan mempererat silaturahmi warga.
Salah seorang Budayawan, Anton Charliyan mengatakan, Nyangku merupakan salah satu tradisi jamas pusaka yang telah masuk dalam agenda budaya maupun pariwisata nasional.
Baca juga: Bukan Sekadar Ritual, Upacara Adat Nyangku Panjalu Jadi Aset Budaya Ciamis
Menurutnya, jamas pusaka pada dasarnya merupakan prosesi mencuci atau membersihkan benda-benda pusaka.
Karena itu, Nyangku tidak semestinya dipandang sebagai kegiatan mistis, melainkan memiliki filosofi tentang penyucian diri.
“Jamas pusaka itu mencuci pusaka. Jadi jamas pusaka ini bukan sesuatu yang mistis, tapi pencucian. Menyucikan itu bukan hanya pusaka saja,” ujar Anton.
Ia menjelaskan, istilah Nyangku memiliki filosofi yang berkaitan dengan upaya membersihkan diri atau “sang aku”, termasuk membersihkan perilaku manusia.
“Nyangku itu ya nyang harepan sang aku, nyang harepan perilaku. Untuk apa? Untuk membersihkan diri, untuk membersihkan sang aku,” katanya.
Anton menilai keberadaan Tradisi Nyangku merupakan sesuatu yang luar biasa. Terlebih, tidak banyak tradisi serupa yang masuk dalam agenda budaya nasional.
“Ini sebuah tradisi yang luar biasa dan tradisi-tradisi yang ada dalam agenda nasional ini tidak banyak. Justru sekarang salah satunya adalah di Panjalu sebagai salah satu kabuyutan yang ada di Ciamis,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi pengembangan kebudayaan dan pariwisata, Tradisi Nyangku dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata budaya Kabupaten Ciamis.
Anton berharap Nyangku tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat.
Menurutnya, apabila dikemas dengan baik, tradisi tersebut berpotensi menarik wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
“Ke depannya tentu saja bisa di samping sebagai tontonan juga bisa sebagai tuntunan. Untuk tontonan tentu saja bisa menarik wisatawan bukan hanya dari Jawa Barat, tapi dari luar Jawa Barat, malah bisa juga dari luar negeri,” ujarnya.
Anton menilai kekayaan budaya dapat menjadi kekuatan pariwisata sebagaimana yang dilakukan daerah lain.
Ia berharap Ciamis yang memiliki banyak situs dan tradisi budaya dapat semakin dikenal melalui kekayaan tersebut.
“Mudah-mudahan karena di sini Ciamis sebagai salah satu pusatnya situs-situs budaya di Jawa Barat bisa juga menjadi tontonan sekaligus menjadi tuntunan,” katanya.
Prosesi puncak Nyangku sendiri ditandai dengan pencucian sejumlah benda pusaka.
Pemangku Adat Panjalu, Raden Agus Gusnawan, mengatakan pada prosesi utama tersebut terdapat beberapa benda pusaka yang dibersihkan.
“Yang hari ini yang utamanya satu, yaitu pedang. Cuma ada dua tambahannya dengan keris," ujar Agus.
Menurut Agus, prosesi pencucian benda pusaka tidak berhenti pada acara puncak. Pada hari berikutnya, masyarakat juga akan melakukan pencucian terhadap lebih banyak benda pusaka yang tersimpan di Museum Bumi Alit.
“Besok ada pencucian dengan benda pusaka yang banyak. Itu mungkin bukan satu, dua, ratusan, sampai ribuan jenis pusaka. Ada keris dan segala macam,” katanya.
Bagi masyarakat Panjalu, Nyangku juga menjadi momentum penting untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi.
Agus bahkan menyebut tradisi tersebut layaknya “lebaran kedua” bagi masyarakat Panjalu, karena menjadi ajang berkumpulnya warga dan keluarga.
“Jadi ajang silaturahmi, bisa dikatakan lebaran keduanya orang Panjalu,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan Nyangku dapat terus dikenal dan dipahami generasi muda.
Menurutnya, mengenalkan budaya leluhur kepada anak-anak muda menjadi bagian penting agar tradisi tersebut tidak hilang ditelan zaman.
“Harapan saya kepada seluruh penerus, anak-anak muda itu mengenal budaya leluhur kita. Karena belum tentu ada sekarang kalau tidak ada dahulu,” katanya.
Harapan serupa datang dari Isma, salah seorang warga Panjalu.
Sebagai generasi muda, ia mengaku bangga dapat ikut menyaksikan sekaligus menjaga keberlangsungan budaya sakral Nyangku.
“Saya sebagai generasi muda turut bangga dalam melestarikan seni budaya sakral Nyangku di Desa Panjalu yang bisa diturun-temurunkan,” ujar Isma.
Ia berharap generasi muda ke depan semakin peduli terhadap budaya daerah dan mampu melanjutkan tradisi Nyangku dengan lebih baik.
“Semoga generasi muda yang ke depannya bisa lebih baik, lebih maju dan lebih melestarikan budaya sakral Nyangku yang ada di Desa Panjalu,” katanya.
Dengan tetap mempertahankan nilai dan filosofi yang diwariskan leluhur, Tradisi Nyangku diharapkan tidak hanya bertahan sebagai ritual tahunan.
Lebih dari itu, Nyangku menjadi jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan sejarah, budaya, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan masyarakat Panjalu dari masa ke masa.(*)