Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet
TRIBUNPALU.COM, MOROWALI - Dana hibah untuk pembangunan gedung Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tanjung Harapan, Kecamatan Sambori Kepulauan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, disebut mengalami perubahan dari Rp1 miliar menjadi Rp320 juta.
Pihak sekolah mempertanyakan pengurangan anggaran tersebut, terlebih hingga kini para siswa masih belajar dengan fasilitas terbatas, termasuk menggunakan tenda darurat.
Salah seorang guru MTs Tanjung Harapan, Ihsan, mengatakan awalnya terdapat anggaran hibah yang telah disetujui Pemerintah Kabupaten Morowali melalui Dinas Pendidikan sebesar Rp1 miliar.
Menurutnya, dokumen Memorandum of Understanding (MoU) atau Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) juga telah ditandatangani.
Namun, saat memasuki proses pencairan, anggaran disebut berubah menjadi Rp320 juta.
Baca juga: BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126
Ihsan menduga perubahan anggaran itu berkaitan dengan adanya laporan mengenai penurunan jumlah siswa di MTs Tanjung Harapan.
“Yang saya kecewa ini sama Pak Kadis sekarang. Kok bisanya ini dikurangi anggaran yang Rp1 M itu. Harusnya bijaknya turun dulu Kadis menengok kami langsung jumlah muridnya berapa, jangan hanya mendengar laporan,” tegas Ihsan Dalam sambungan telepon kepada Tribunpalu.com, Senin (7/9/2026).
Ia berharap pemerintah daerah tetap memberikan perhatian terhadap kondisi MTs Tanjung Harapan yang hingga kini belum memiliki gedung sekolah yang layak.
MTs Tanjung Harapan telah berdiri sejak 2017.
Saat ini terdapat sekitar 31 siswa yang mengikuti proses pembelajaran, sementara jumlah siswa baru disebut hanya tujuh orang.
Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Morowali, Arifin Lakane, menjelaskan pemberian bantuan untuk pembangunan MTs Tanjung Harapan dilakukan secara bertahap.
Arifin mengatakan, salah satu pertimbangannya adalah jumlah siswa baru yang relatif sedikit.
Baca juga: 155 Kendaraan Dinas Pemkab Poso Hilang, Diduga Dikuasai Pihak Tak Berhak
“Siswa barunya cuma tujuh orang, lebih banyak sekolah ke SMP, makanya dikasih bertahap,” kata Arifin saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, masyarakat di wilayah tersebut lebih banyak memilih SMP Negeri sebagai tempat melanjutkan pendidikan anak-anak mereka.
Meski demikian, pihak sekolah berharap pembangunan gedung tetap menjadi perhatian pemerintah agar para siswa tidak lagi harus belajar dalam kondisi seadanya.
Keberadaan ruang kelas yang layak dinilai penting untuk menunjang proses belajar mengajar sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi para siswa. (*)