Darren Ismaya, Pelajar Indonesia yang Bangun Fasilitas Sanitasi untuk Warga Kemayoran Jakpus
willy Widianto September 07, 2026 06:38 PM

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Persoalan air bersih dan sanitasi sering kali terasa sebagai masalah besar yang membutuhkan kebijakan pemerintah dan sumber daya dalam jumlah besar. Namun, bagi Darren Ismaya Karmaina, seorang pelajar Indonesia, kepedulian terhadap persoalan tersebut justru dimulai dari pertanyaan sederhana: apa yang bisa dilakukan anak muda untuk membantu menyelesaikan masalah nyata di lingkungan sekitar?

Baca juga: Keluhan Pengungsi Erupsi Gunung Sinabung, Arifta: Tolong Sediakan Air Bersih untuk MCK

Pertanyaan itu kemudian mendorong Darren menginisiasi Water Guardian, sebuah inisiatif sosial yang mencoba menerjemahkan kepedulian generasi muda terhadap persoalan lingkungan menjadi aksi nyata. Langkah pertama diwujudkan melalui pembangunan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) bagi masyarakat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Fasilitas tersebut resmi digunakan setelah diresmikan pada Sabtu (5/9/2026), menyusul proses pembangunan yang dimulai melalui groundbreaking pada Juni 2026.

Bagi Darren, pembangunan fasilitas MCK bukan sekadar proyek fisik. Ia ingin menjadikan fasilitas tersebut sebagai titik awal untuk melihat apakah sebuah inisiatif sosial yang lahir dari kepedulian anak muda benar-benar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

“Apa yang sebenarnya bisa dilakukan seorang pelajar untuk membantu menghadapi persoalan nyata di masyarakat? Dari pertanyaan tersebut, Water Guardian berkembang dari sebuah gagasan menjadi proyek nyata melalui kolaborasi dengan masyarakat, tokoh setempat, pemerintah daerah, mitra CSR, serta berbagai pihak yang mendukung pelaksanaannya,” kata Darren di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Ketertarikan Darren terhadap persoalan akses air bersih dan sanitasi juga berkaitan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 6, yakni memastikan ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan bagi semua.

Namun, ia tidak ingin Water Guardian berhenti sebagai kampanye untuk meningkatkan kesadaran mengenai persoalan air bersih.

Justru setelah fasilitas selesai dibangun, menurut Darren, tantangan yang lebih besar dimulai.

“Membangun fasilitas adalah langkah pertama. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut benar-benar digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Bukan Sekadar Bangun MCK

Darren menjadikan fasilitas di Kemayoran sebagai Site #1 Water Guardian. Lokasi tersebut akan menjadi ruang pembelajaran untuk melihat bagaimana fasilitas sanitasi berbasis masyarakat dapat dikelola dan dipertahankan manfaatnya dalam jangka panjang.

Tahapan berikutnya mencakup pemeliharaan fasilitas, keterlibatan masyarakat, pemantauan penggunaan, pemeriksaan kualitas air, kebersihan dan higiene, hingga pengukuran dampak secara berkala.

Water Guardian pun dirancang tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur. Darren menggunakan kerangka Build, Operate, Measure, Research, Improve, Replicate, dan Scale sebagai tahapan pengembangan inisiatif tersebut.

Setelah fasilitas dibangun, tahap berikutnya adalah memastikan fasilitas dapat beroperasi dengan baik. Penggunaan dan dampaknya kemudian perlu diukur untuk mengetahui apakah fasilitas tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Hasil pengukuran itu nantinya dapat dipelajari bersama para ahli dan akademisi untuk menemukan bagian yang masih perlu diperbaiki.

“Apabila model Kemayoran nantinya terbukti efektif dan berkelanjutan, Water Guardian dapat mempelajari kemungkinan mereplikasi pendekatan tersebut di komunitas lain,” kata Darren.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan MCK di Kemayoran tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Fasilitas tersebut justru menjadi semacam proyek percontohan untuk menguji bagaimana sebuah inisiatif sosial dapat dibangun, dijalankan, dievaluasi, kemudian dikembangkan di tempat lain.

Bagi Darren, perjalanan Water Guardian juga menjadi pengalaman belajar mengenai kepemimpinan. Ia menyadari persoalan sosial di lapangan memiliki kompleksitas yang berbeda dengan persoalan yang dipelajari di dalam kelas.

Untuk menjalankan sebuah proyek sosial, ia harus belajar mendengarkan kebutuhan masyarakat, berkomunikasi dengan berbagai pihak, meminta masukan dari orang yang lebih berpengalaman, menggalang dukungan, hingga menghadapi berbagai keterbatasan.

Pengalaman tersebut membuat Darren memahami bahwa proyek sosial tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan gagasan satu orang.

Karena itu, ia tidak ingin Water Guardian dipandang sebagai proyek seorang pelajar yang datang untuk menyelamatkan sebuah komunitas.

Baca juga: Tenda Jemaah Haji Indonesia di Arafah Model Baru Berkapasitas 30.000, Ada Tambahan MCK

Sebaliknya, Water Guardian ingin dikembangkan sebagai ruang kolaborasi antara generasi muda, masyarakat, pemerintah, sektor swasta, dan ke depan, akademisi.

“Dengan kolaborasi kita dapat memberikan pengabdian yang maksimal kepada masyarakat,” kata Darren.

Tidak Harus Menunggu Dewasa

Melalui Water Guardian, Darren ingin menunjukkan bahwa kontribusi terhadap persoalan sosial tidak harus menunggu seseorang memiliki usia, jabatan, atau sumber daya yang besar.

Generasi muda dapat memulainya dari persoalan yang mereka lihat di lingkungan sekitar. Namun, kepedulian tersebut menurut Darren harus diterjemahkan menjadi aksi yang nyata dan tidak berhenti setelah sebuah kegiatan selesai.

Sebab, dampak sosial membutuhkan proses yang lebih panjang, mulai dari kepedulian, kolaborasi, pengukuran, perbaikan hingga keberlanjutan.

Karena itu, peresmian fasilitas MCK di Kemayoran bukan dipandang sebagai garis akhir Water Guardian.

“Justru setelah fasilitas mulai digunakan, muncul pertanyaan yang lebih penting, apakah yang kami bangun benar-benar bekerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan menjadi dasar bagi perjalanan Water Guardian berikutnya,” tutur Darren.

Respons positif juga datang dari warga Kemayoran. Mereka menilai kepedulian seorang pelajar terhadap persoalan air bersih dan sanitasi telah berkembang menjadi aksi nyata yang melibatkan masyarakat serta berbagai pihak.

“Kami sebagai masyarakat sangat mengapresiasi semangat Darren. Aksi nyata Darren ini adalah representasi bahwa generasi muda Indonesia dapat mulai berkontribusi terhadap persoalan nyata di lingkungan sekitar mereka,” kata Sueb, warga Kemayoran, Jakarta Pusat.

Baca juga: Relawan Kiai Muda Ganjar Bangun MCK dan Fasilitas Wudu untuk Santri TPQ di Tuban

Bagi Water Guardian, fasilitas MCK di Kemayoran akhirnya bukan hanya tentang sebuah bangunan baru. Lebih dari itu, proyek tersebut menjadi upaya untuk membuktikan bahwa gagasan yang dimulai dari seorang pelajar dapat diuji di lapangan, diukur manfaatnya, diperbaiki, dan jika berhasil, dikembangkan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.