Volume Air Waduk Dawuhan Tinggal 15 Persen, Diperkiraka Hanya Bisa Bertahan 15 Hari
Januar September 07, 2026 07:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Kekeringan mengancam Madiun selama musim kemarau.

Volume air di Waduk Dawuhan, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, mengalami penyusutan drastis seiring datangnya musim kemarau dan tingginya suhu udara.

Dari total kapasitas waduk yang mencapai sekitar 3,9 juta meter kubik, volume air yang tersisa kini hanya sekitar 15 persen atau 520.000 meter kubik per Senin (7/9/2026).

Petugas Operasi Waduk Dawuhan, Agung Wirasat mengatakan, penyusutan volume air terjadi cukup cepat. Kondisi tersebut dipengaruhi tidak adanya aliran air masuk dari sungai serta tingginya penguapan akibat cuaca panas.

Baca juga: Kekeringan di Jatim Meluas, Gubernur Khofifah Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Datangkan Hujan

"Untuk penyusutan memang drastis karena untuk inflow air dari atas (sungai ke waduk) sudah kosong. Kemudian juga untuk penguapan cepat sekali, karena memang cuaca sangat panas," kata Agung, Senin (7/9/2026).

Minimnya ketersediaan air membuat debit yang dapat dikeluarkan dari Waduk Dawuhan juga harus dikurangi. Saat ini, waduk hanya mengalirkan air sekitar 0,1 meter kubik per detik.

Distribusi air tersebut hanya mampu menjangkau lima desa untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah pada Masa Tanam (MT) 3. Padahal dalam kondisi normal, Waduk Dawuhan mampu mengairi lahan pertanian di 10 desa.

"Yang saat ini dialiri untuk MT 3 (Masa Tanam 3) hanya lima desa. Padahal kalau normal itu di 10 desa," lanjutnya.

Menurut Agung, pada tahap awal masa tanam, petani masih banyak mengandalkan pasokan air dari waduk. Sementara untuk kebutuhan pemeliharaan tanaman selanjutnya, petani biasanya mulai mengandalkan sumber air alternatif seperti sumur.

"Kalau sekarang memang untuk pengolahan awal untuk MT 3, kebanyakan langsung dari bendungan. Nanti biasanya untuk pemeliharaan dilanjut pakai sumur biasanya," katanya.

Agung memperkirakan volume air yang tersisa saat ini masih dapat digunakan untuk mengairi lahan pertanian selama sekitar 15 hari ke depan. Setelah itu, distribusi air dari waduk berpotensi dihentikan apabila volume air telah mencapai batas minimal yaitu saat menyisakan 300 ribu meter kubik.

Dengan kondisi saat ini, batas tersebut diprediksi tercapai dalam waktu sekitar 10 hingga 15 hari.

"Kalau penutupan nanti di kisaran volume 300.000 (meter kubik), itu paling di sekitar 10 hari atau 15 harian lagi," jelas Agung.

Air di Waduk Dawuhan tidak akan dikuras hingga benar-benar habis untuk menjaga kondisi fisik bendungan.

Agung menjelaskan, keberadaan air tersebut diperlukan untuk menjaga tubuh bendungan agar tetap dalam kondisi baik dan mencegah terjadinya keretakan maupun kerusakan akibat kondisi yang terlalu kering.

"Tujuannya gar tubuh bendungan awet. Jadi tidak terjadi keretakan, kerusakan. Suhunya terjaga kalau ada airnya," tutupnya.

 

Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.