31 Pasien HIV/AIDS Meninggal karena Terlambat Berobat, Ini Upaya Dilakukan Dinkes Aceh Tengah
Rizwan September 07, 2026 08:54 PM

Laporan Wartawan TribunGayo Alga Mahate Ara|Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Tengah terus mengoptimalkan upaya penanganan dan pencegahan penyebaran HIV/AIDS di tengah berbagai tantangan di lapangan. 

Kendati demikian, hambatan psikologis seperti stigma sosial dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sukarela masih menjadi batu sandungan utama dalam memutus rantai penularan.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tengah, Mitahuddin, SKM, MAP, mengungkapkan bahwa fenomena penularan HIV kerap diibaratkan sebagai "gunung es", di mana kasus yang terdeteksi hanya sebagian kecil dari kondisi riil di masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, sejak kasus pertama ditemukan pada 2018 hingga Agustus 2026, tercatat ada 89 kasus HIV/AIDS di Aceh Tengah, terdiri atas 58 kasus HIV dan 31 kasus AIDS.

Dari jumlah tersebut, seluruh penderita AIDS atau 31 orang dilaporkan meninggal dunia, dan yang terbaru meninggal pada pertengahan tahun 2024 lalu.

Kondisi ini umumnya terjadi karena pasien baru mendapatkan pengobatan setelah memasuki stadium lanjut.

"Yang terbaru meninggal pada Juni 2024 lalu," ujar Mitahuddin kepada TribunGayo, Senin (7/9/2026),

Selain keterlambatan deteksi, Dinkes Aceh Tengah menyoroti masih adanya hambatan berupa stigma dan diskriminasi, bahkan hingga kasus pengusiran terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). 

Tantangan ini diperparah dengan masih terbatasnya pengetahuan sebagian tenaga kesehatan dan masyarakat, serta kendala akses layanan, logistik, dan sumber daya manusia.

Adapun mayoritas faktor penularan didominasi oleh perilaku seks berisiko, yang meliputi seks komersial, hubungan LSL (Laki-laki Seks dengan Laki-laki), penularan dari suami ke istri, hingga dalam kasus kecil penyalahgunaan narkotika suntik.

Di sisi lain, ruang gerak penanggulangan juga dihadapkan pada tantangan fiskal. 

Anggaran terbatas

Anggaran penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Aceh Tengah saat ini terbilang sangat terbatas dan hanya difokuskan untuk kegiatan monitoring dan evaluasi (monev), peningkatan kompetensi staf, serta edukasi pemantauan kepatuhan minum obat. 

Akibat keterbatasan ini, upaya preventif dan kuratif utama belum dapat berjalan secara optimal.

Untuk menekan laju penyebaran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tengah menekankan pentingnya strategi penguatan lintas sektor, peningkatan kapasitas Komisi Penanganan AIDS (KPA).

Serta penguatan aspek hukum dan manajemen penanggulangan yang melibatkan peran aktif pemerintah daerah serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Dalam upaya pencegahan dan edukasi masyarakat, Dinas Kesehatan secara rutin menggencarkan sosialisasi, salah satunya melalui penyuluhan di lingkungan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh Tengah. 

Dalam kegiatan tersebut, Dinkes mengampanyekan slogan pencegahan ABCD yang meliputi Abstinence atau tidak berganti-ganti pasangan, Be faithfulatau setia pada pasangan, Care yaitu mencegah dengan menggunakan alat pelindung, serta Don't Use Drugs untuk menghindari penyalahgunaan narkotika suntik

Selain itu, edukasi kesehatan reproduksi digalakkan mulai dari tingkat keluarga, sekolah, hingga ke perguruan tinggi yang ada di kabupaten setempat.

Dinkes juga menggandeng Kementerian Agama untuk mengoptimalkan peran penyuluh agama dan penghulu sebagai agen perubahan di tingkat akar rumput.

Kelompok perioritas

Sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM), pemeriksaan difokuskan pada delapan kelompok prioritas, yakni ibu hamil, pasien TBC, kelompok LSL, waria, pengguna narkoba suntik, warga binaan, dan calon pengantin. 

Jika ditemukan hasil reaktif, petugas akan langsung melakukan tes konfirmasi lanjutan.

Bagi masyarakat yang membutuhkan, layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) bagi ODHA kini sudah dibuka di puskesmas-puskesmas. Obat Antiretroviral (ARV) juga telah disiapkan dan dapat diakses secara gratis tanpa pungutan biaya.

Mitahuddin mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk menghilangkan rasa takut dan tidak ragu mendatangi fasilitas kesehatan terdekat guna melakukan konsultasi maupun tes HIV secara sukarela. 

Pemeriksaan dini ini dipastikan aman dan rahasia, serta menjadi kunci utama dalam menyelamatkan hidup dan menekan penularan HIV/AIDS di Tanah Gayo. (*)

Baca juga: VIDEO: Polres Aceh Tengah Bongkar Jaringan Ekstasi Medan, 28 Butir Disita

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.