Jangankan Dibasahi, Lembap Kena Uap Pernapasan Saja Masker Harus Rutin Diganti
GH News September 07, 2026 09:09 PM
Jakarta -

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan saat menghadapi paparan abu vulkanik. Namun, masker tidak sebaiknya digunakan terus-menerus tanpa diganti.

Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan, berbagai pedoman penggunaan masker dalam kondisi bencana polusi umumnya menyarankan penggunaan masker respirator yang diganti secara berkala.

"Secara berkala artinya, secara waktu tertentu harus diganti," ujar dr Agus dalam tayangan detikPagi, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, masker yang digunakan untuk menyaring udara dari luar akan menangkap berbagai kotoran. Di sisi lain, udara yang dikeluarkan saat bernapas mengandung uap air.

"Nah, uap air dari napas kita itu akan membuat masker kita itu terasa lembap setelah sekian jam. Nah, kalau lembap itu menjadi sumber infeksi. Oleh karena itu, harus diganti misalnya 6-8 jam sekali," jelasnya.

Masker respirator menjadi masker yang ideal untuk digunakan saat terdapat banyak paparan abu vulkanik. Masker tersebut memiliki kemampuan filtrasi terhadap partikel-partikel halus.

"Rekomendasinya kemampuan filtrasinya harus di atas 95%. Namanya yang paling terkenal itu N95, KN95, atau FFP2, atau merek-merek lain. Prinsipnya, teman-teman bisa saja beli di berbagai online atau tempat, tapi harus dibaca," tambahnya.

Meski demikian, harga masker ini cukup mahal. Menurut dr Agus, masker yang tersedia dan mudah diakses tetap bisa digunakan, seperti masker bedah untuk melindungi diri.

"Secara teori, tentu efektivitas memfiltrasinya di dalam literatur-literatur itu hanya sekitar 50-60%. Filtrasi terhadap partikel halus, 9,5%," kata dr Agus.

"Tetapi itu lebih baik daripada Anda tidak pakai sama sekali. Jadi, cara pakainya harus benar, yang rapat supaya tidak bocor. Itu yang paling penting, ya," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.