...kami juga koordinasi dengan para kepala desa supaya tetap waspada

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) berkoordinasi dengan para kepala desa (kades) untuk membangun kewaspadaan masyarakat terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto ketika ditemui wartawan di Jakarta, Senin mengatakan koordinasi dengan kepala desa dilakukan menyusul kemunculan dampak abu vulkanik yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.

"Inti pokoknya, kami juga koordinasi dengan para kepala desa supaya tetap waspada," kata Mendes Yandri.

Mendes Yandri juga menekankan bahwa masyarakat, terutama di desa, perlu tetap waspada. Akan tetapi, ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak panik.

"Inti pokoknya sebenarnya pendekatan kepada perilaku kehidupan sehari-hari yang mungkin selama ini kita lebih bebas keluar rumah, rumah-rumah yang terbuka, sekarang kan lebih ketat lagi dan lebih hati-hati," kata Mendes Yandri.

Lebih lanjut, mantan Wakil Ketua MPR RI itu mengatakan paparan abu vulkanik menjadi salah satu dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang dirasakan masyarakat di desa. Abu tersebut, kata dia, dapat masuk ke rumah-rumah serta mengganggu kondisi kesehatan.

"Yang lebih parah itu kan daerah Tanggamus, debunya lebih tebal. Daerah Pringsewu, Pesawaran itu lebih dekat lagi," kata dia.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Mendes Yandri menyampaikan bahwa pemerintah telah memberikan sejumlah saran kepada masyarakat, seperti menggunakan masker, menutup rumah dan jendela, serta membersihkan abu dengan cara membasahinya terlebih dahulu agar tidak kembali beterbangan.

"Misalkan, membersihkan debu, tidak langsung disapu, tapi mungkin diperciki dengan air supaya tidak terbang lagi, pakai masker, rumah-rumah ditutup, jendela-jendela ditutup," ujarnya.

Selain kewaspadaan masyarakat, Yandri mengatakan penyesuaian juga dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Ia menyampaikan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilakukan sebagai salah satu bentuk penyesuaian di tengah kondisi akibat abu vulkanik.