Pilu Anak Siti Maimunah, Belum Tahu Ibunya Tewas Dibunuh dan Masih Tanya Kapan Pulang
taryono September 07, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung -  Putri semata wayang Siti Maimunah yang baru berusia 3 tahun belum memahami bahwa sang ibu telah tiada.

Baca juga: Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Diskes Siagakan 31 Puskesmas

Bagi bocah itu, kepergian ibunya seolah hanya pergi bekerja dan suatu saat akan kembali ke rumah. Ia pun masih kerap menanyakan kapan mamanya pulang.

Nawawi (31), suami Siti Maimunah, mengaku tak kuasa menahan kesedihan setiap kali mendengar pertanyaan polos putrinya.

Kini, ia harus menjalani hari-hari bersama sang buah hati tanpa kehadiran istrinya di rumah kontrakan mereka di Jalan Mangga, Kelurahan Pasir Gintung, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung.

"Anak kangen sama mamanya. Sesekali nanya, kapan mama pulang, kapan. Saya sebagai suami sedih sekali mendengarnya," ujar Nawawi dengan suara bergetar saat diwawancarai Tribun Lampung, Jumat (4/9/2026).

Siti Maimunah merupakan korban pembunuhan yang jasadnya ditemukan di dalam kardus di Bandung, Jawa Barat.

Peristiwa tersebut mengakhiri kehidupan perempuan yang selama ini menjadi pendamping Nawawi sekaligus ibu bagi putri kecil mereka.

Di tengah duka, Nawawi masih mengingat berbagai kebersamaan sederhana yang dijalaninya bersama sang istri selama membina rumah tangga.

Salah satu yang paling membekas adalah kebiasaan mereka menghabiskan waktu bersama pada sore hari atau malam Minggu.

"Kami setiap sore atau malam Minggu, kami kerap menghabiskan waktu bersama mengendarai sepeda motor ke pasar sore," katanya.

Dalam momen tersebut, mereka juga kerap mengajak putrinya bermain. Sang anak biasanya menikmati hiburan sederhana dengan menaiki odong-odong.

Kenangan itu kini terasa begitu berharga bagi Nawawi.

"Paling berkesan orangnya nurut, kalau disuruh pijitin mau. Momen paling romantis ya kalau sore atau malam Minggu jalan-jalan naik motor ke pasar sore, anak naik odong-odong. Itu kenangan yang tak terlupakan," tuturnya.

Sempat Mengeluh Lemas dan Ingin Pulang ke Lampung

Sebelum kabar duka datang, Nawawi masih sempat berkomunikasi dengan istrinya melalui WhatsApp.

Saat itu, Siti Maimunah beberapa kali menyampaikan kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit.

"Istri bilang ke saya mengaku lemas dan mengalami gangguan pencernaan, sekaligus mengutarakan kerinduannya untuk pulang ke kampung halaman di Desa Sangun Ratu, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah," ungkap Nawawi.

Komunikasi tersebut menjadi salah satu kenangan terakhir Nawawi bersama istrinya.

Pada Minggu sebelum kabar kematian diterimanya, Siti kembali mengeluhkan sakit yang dialaminya.

"Jadi istri saya itu ngomongnya ke saya ingin pulang ke Lampung. Katanya di kampung serba enak, air enggak bayar, kalau di Bandar Lampung semuanya serba bayar," ujarnya.

Sebelum pergi ke luar daerah, Siti diketahui berpamitan kepada Nawawi untuk bekerja di sebuah toko sembako di Jakarta.

Namun, Nawawi mengaku tidak pernah mendapat informasi bahwa istrinya kemudian berada di Bandung.

"Pada saat itu istrinya Siti Maimunah hanya meminta izin bekerja di toko sembako di Jakarta. Istri tidak ada izin sama sekali ke Bandung, cuma izinnya ke Jakarta mau kerja di tempat sembako," jelas Nawawi.

Kabar bahwa istrinya telah meninggal dunia pun menjadi pukulan berat bagi Nawawi.

Terlebih, ia harus menghadapi kenyataan bahwa putri kecil mereka kini kehilangan sosok ibu yang selama ini selalu ada di sisinya.

Jenazah Siti Maimunah telah dimakamkan keluarga di Desa Sangun Ratu, Lampung Tengah.

Nawawi belum dapat menyusul ke rumah mertuanya lantaran memilih tetap berada di Bandar Lampung untuk merawat putrinya yang masih sangat kecil.

"Saya enggak tahu ini mau ke sana apa enggak, karena anak masih kecil, susah ditinggal. Kami di sini juga sudah menggelar tahlilan masuk hari kedua," kata Nawawi.

Nawawi menjadi pihak yang pertama kali menyampaikan kabar duka tersebut kepada keluarga istrinya.

Kini, selain berusaha tegar demi sang anak, ia berharap kasus yang menewaskan istrinya dapat diproses hingga tuntas oleh aparat kepolisian.

"Saya pastinya sangat terpukul. Kenapa tega sekeji itu membunuh, saya harap pelaku dihukum seberat-beratnya," pungkas Nawawi.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.